Breaking News:

Lurah Terlibat Pungli

Polisi Dalami Biaya Tambahan Terkait Kelas Tanah dalam Kasus Pungli PTSL di Kelurahan Sungai Kapih

Hingga saat ini, Polresta Samarinda masih mendalami kasus pungutan liar (pungli) dalam Program Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) yang dilaku

Penulis: Rita Lavenia | Editor: Rahmad Taufiq
TRIBUNKALTIM.CO/RITA LAVENIA
Barang bukti Operasi Tangkap Tangan (OTT) yang diamankan oleh Mapolresta Samarinda dalam kasus pungli yang menyeret mantan Lurah Sungai Kapih, Edi Apriliansyah dan seorang makelar. Polisi masih mendalami terkait adanya biaya tambahan sesuai kelas tanah dalam praktik pungli tersebut. TRIBUNKALTIM.CO/RITA LAVENIA 

TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA - Hingga saat ini, Polresta Samarinda masih mendalami kasus pungutan liar (pungli) dalam Program Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) yang dilakukan oleh mantan Lurah Sungai Kapih Edi Apriliansyah (48) bersama rekannya Rusli (35).

Apalagi dari informasi yang diterima kepolisian, terdapat pungutan lain dari praktik kotor tersebut yang disesuaikan dengan kelas tanah.

Sesuai pemberitaan yang sudah diangkat oleh media ini, menurut penuturan sumber terpercaya yang juga merupakan korban dari dua oknum tak bertanggung jawab tersebut, pungli ditentukan oleh kelas tanah.

Di mana untuk tanah kelas satu atau tanah dengan lokasi strategis, yakni di Jalan Pendekat Mahkota II dipatok harga Rp 2,5 juta per kavling atau 200 meter persegi.

Sedangkan untuk tanah kelas dua yang berada di Jalan Tatako, Jalan Kehewanan dan Rapak Mahang dikenakan biaya Rp 1,5 juta per kavling.

Baca juga: Walikota Samarinda Beri Komentar Soal Dugaan Pungli Oknum Lurah, Sesalkan Perbuatan Bawahannya

Baca juga: Pungli PTSL di Sungai Kapih Samarinda, Sebagian Pemohon Belum Melunasi Tarif Rp 1,5 Juta

Baca juga: Hasil Pungli Lurah Sungai Kapih, Polresta Samarinda Sita Uang Rp 678 Juta, Korban Capai Ribuan Orang

"Tanah saya masuk kelas dua, jadi disuruh tambah Rp 1,5 juta. Jadi saya bayar Rp 3 juta," terang sumber yang enggan namanya dipublikasikan tersebut.

Terkait hal ini, Wakapolresta Samarinda, AKBP Eko Budiarto mengatakan, pihaknya masih mendalami kebenaran informasi tersebut.

"Karena dari hasil penyelidikan, kita baru menemukan bahwa mereka (tersangka) melakukan pungli sebanyak dua kali (pungli pendaftaran dan penyetoran berkas). Kalau soal penentuan kelas masih kita dalami," ucap AKBP Eko Budiarto kepada media, Kamis (14/10/2021).

Selain itu, ia menambahkan pihaknya juga masih mendalami terkait adanya keterlibatan oknum lain dalam praktik kotor tersebut.

"Karena dalam proses penyidikan masih dua tersangka (yang diamankan). Kami masih dalami apakah memang ada keterlibatan oknum lain, karena saat diringkus, tersangka Rusli (makelar) bekerja sendiri," ucapnya. (*)

Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved