Breaking News:

Berita Malinau Terkini

Pakan Ternak dan Pupuk Mahal Picu Kenaikan Harga Komoditas Pertanian dan Peternakan di Malinau

Harga komoditas yang merangkak naik pekan ini dikhawatirkan mempengaruhi stabilitas harga di pasaran jelang Natal dan Tahun Baru 2022 di Malinau.

Editor: Rahmad Taufiq
TRINUNKALTARA.COM/MOHAMMAD SUPRI
Rapat evaluasi Bupati Malinau bersama Organisasi Perangkat Daerah di Kantor Bupati Malinau, Provinsi Kalimantan Utara, Rabu (8/12/2021). TRINUNKALTARA.COM/MOHAMMAD SUPRI 

TRIBUNKALTIM.CO, MALINAU - Harga komoditas yang merangkak naik pekan ini dikhawatirkan mempengaruhi stabilitas harga di pasaran jelang Natal dan Tahun Baru 2022 di Malinau.

Sebelumnya, Pemerintah Daerah Malinau telah menggelar rapat bersama pedagang untuk memastikan stabilitas stok dan harga komoditas di pasaran.

Dalam rapat pengarahan, Bupati Malinau Wempi W Mawa menyampaikan komoditas lokal dapat bersaing dalam berbagai lini, mulai aspek kualitas hingga persaingan harga jual.

Namun realitanya, komoditas pertanian dan peternakan di Malinau belum dapat diandalkan karena kalah persaingan harga di pasaran.

"Jadi ada persaingan pasar. Logikanya, kalau barang lokal mahal, orang andalkan dari luar. Kalau di sini mahal, orang berpikir, lebih baik pesan dari luar," ujarnya, Rabu (8/12/2021).

Baca juga: Walikota Samarinda Andi Harun Pastikan tak Ada Permainan Harga Bahan Pokok Jelang Nataru

Baca juga: BREAKING NEWS Walikota Samarinda Sidak Pasar Pantau Harga Bahan Pokok Jelang Natal dan Tahun Baru

Menurutnya, organisasi perangkat daerah atau dinas terkait perlu mawas diri, mengevaluasi apa penyebab tingginya nilai jual komoditas lokal.

Jika kalah dalam persaingan harga, pemerintah menurutnya perlu mengevaluasi penyebab kenaikan harga, mulai dari sektor produksi, petani dan peternak, hingga serapan pasar.

"Perlu ada evaluasi, mulai hulu atau produksi, tengah hingga hilir. Evaluasi kenapa harganya mahal. Mungkin karena pakan atau pupuknya mahal. Ini target kita ke depan, bagaimana komoditas lokal bisa bersaing di pasar," katanya.

Wempi W Mawa menjelaskan, biaya produksi dapat ditekan ke titik terendah dengan memfasilitasi kebutuhan produksi peternak atau petani.

Selain dapat menyiasati disparitas harga, upaya tersebut diyakini dapat memicu multiplayer efek. Petani dan peternak diuntungkan karena kebijakan tersebut.

Baca juga: Antisipasi Lonjakan Harga Bahan Pokok Jelang Natal, Disdagkop Gelar Pasar Murah di 3 Kecamatan 

"Ini bisa dimaksimalkan, mengandalkan pakan lokal, jagung contohnya. Jadi harga komoditas bisa bersaing di harga, lebih murah," ucapnya. (*)

Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved