Breaking News:

Berita Kaltara Terkini

Tidak Beda dengan Sakit Fisik, Dokter Spesialis Kejiwaan Harap Stigma Gangguan Mental Dihilangkan

Dokter Spesialis Kejiwaan RSUD Soemarno Sosroatmodjo, dr Yuliana Christarina menilai, belum banyak kesadaran warga akan pentingnya kesehatan mental

TRIBUNKALTIM.CO/MAULANA ILHAMI FAWDI
Dokter Spesialis Kejiwaan dari RSUD Soemarno Sosroatmodjo dr Yuliana Christarina (TRIBUNKALTIM.CO/MAULANA ILHAMI FAWDI) 

TRIBUNKALTIM.CO, TANJUNG SELOR - Dokter Spesialis Kejiwaan RSUD Soemarno Sosroatmodjo, dr Yuliana Christarina menilai, belum banyak kesadaran warga akan pentingnya kesehatan mental, karena masih banyak masyarakat yang takut distigma terkena gangguan jiwa seperti gila.

"Ini karena tidak ada orang yang mau dibilang terganggu mentalnya karena distigma gila dan sebagainya," kata dr Yuliana Christarina, Kamis (9/12/2021).

"Padahal kalau gila itu gangguan psikotik berat yang tidak bisa membedakan realita, sedangkan gangguan kecemasan itu neurotik non-psikotik, atau gangguan mental ringan dan sedang," terangnya.

Menurutnya, seseorang yang mengalami gangguan mental seperti gangguan kecemasan atau depresi harus segera mendapatkan penanganan dari tenaga profresional, ini diperlukan sebelum kondisi gangguan mental seseorang tersebut bertambah berat.

"Karena kalau gangguan ringan dan sedang saja seperti kecemasan atau depresi itu mengganggu produktivitas, kalau pelajar bisa menurun prestasinya, kalau pekerja juga tidak bisa melakukan tugas kita, jadi justru sebelum mengalami gangguan berat itu harus segera ditangani," terangnya.

Baca juga: Stigma Masyarakat Mengenai Gangguan Mental yang Dikaitkan dengan Hal Mistis Perlu Diluruskan

Baca juga: Maia Estianty Buka-bukan Pernah Gangguan Mental, 10 Tahun Tak Menangis, Ada Hubungannya dengan Dhani

Baca juga: Anya Geraldine Alami Gangguan Mental BPD, Suasana Hati Berubah-ubah, Tak Bisa Lama-lama Tanpa Pacar

Tak hanya itu, dr Yuliana juga menyampaikan, bahwa gangguan kesehatan mental dan kesehatan fisik tidak perlu dibedakan. Menurutnya kedua-duanya sama-sama memerlukan pertolongan atau pengobatan.

Ia pun berpesan agar masyarakat tidak perlu malu atau takut bila tengah mencari pertolongan untuk gangguan mental yang sedang dialaminya. "Gangguan mental ini jangan dibedakan dengan gangguan fisik, sama-sama butuh pertolongan," katanya.

"Kalau orang lagi sakit kepala flu itu badan tidak enak meriang deman, dan kalau ganggunan mental perasaan kita tidak enak,
jadi tidak ada perbedaan antara gangguan mental dan fisik," ujarnya.

"Jadi tidak perlu takut atau malu untuk mencari pertolongan karena semua kita berpeluang mengalami gangguan mental," pesannya.

dr Yuliana juga berpesan, agar setiap orang yang memiliki kerabat atau teman yang tengah terganggu mentalnya untuk tidak cepat-cepat menghakimi, dan meminta untuk menjadi bagian support system.

Baca juga: Remaja Rentan Alami Gangguan Mental Saat Pandemi, Ini Pesan Psikolog Balikpapan pada Orangtua

Halaman
12
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved