Berita Samarinda Terkini

Pemkot Tingkatkan Pengukuran Balita, Angka Stunting di Samarinda Alami Penurunan

Angka stunting atau terhambatnya pertumbuhan pada balita di Kota Samarinda, Provinsi Kalimantan Timur, dikonfirmasi mengalami penurunan

Penulis: Hanifan Ma'ruf | Editor: Budi Susilo
HO/PEMKOT SAMARINDA
Pemkot Samarinda melalui Dinas Kesehatan mengkonfirmasi penurunan angka stunting di Samarinda tahun 2021 dengan meningkatnya pengukuran terhadap balita. 

TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA - Angka stunting atau terhambatnya pertumbuhan pada balita di Kota Samarinda, Provinsi Kalimantan Timur, dikonfirmasi mengalami penurunan pada tahun 2021.

Penurunan angka stunting itu mengiringi peningkatan pengukuran balita yang dilakukan oleh pemerintah kota Samarinda melalui dinas kesehatan di posyandu.

Keadaan tersebut mengindikasikan perkembangan positif dalam hal penanganan stunting di kota tepian.

Mengingat jumlah balita yang diukur bertambah namun hasilnya, jumlah balita yang mengalami stunting turun.

Baca juga: Bunda PAUD Kukar Maslianawati Edi Damansyah Pendampingan ke Daerah Stunting

Baca juga: Peduli Stunting, Bunda PAUD Kukar Maslianawati Lakukan Pendampingan ke Desa Jembayan Dalam

Baca juga: Cegah Stunting, Pokja IV TP PKK Nunukan Beri Makanan Tambahan buat Ibu Hamil dan Vitamin untuk Bayi

Disebutkan oleh Kepala seksi (Kasi) kesehatan keluarga dan gizi dinas kesehatan kota Samarinda, Rudi Adus Riyanto, bahwa tahun 2021, angka stunting di Samarinda dari jumlah balita yang diukur sebesar 10,7 persen.

Angka tersebut lebih rendah dari tahun 2020 lalu yang mencapai 11,9 persen.

Memang determinannya adalah jumlah balita yang diukur, bukan dari seluruh balita yang ada.

"Dari balita yang diukur hingga bulan Agustus 2021 memang praktis ada penurunan,” jelas Rudi, Minggu (19/12/2021).

Adapun peningkatan pengukuran terhadap balita di posyandu pada tahun ini meningkat hampir 20 persen dari tahun lalu yang hanya 10 persen, saat ini telah mencapai 29,97 persen.

Karena tahun lalu terkendala tidak bisa tatap muka di posyandu akibat pandemi.

"Tetapi secara teknis angka itu masih jauh dari keinginan pemerintah pusat yang menginginkan minimal pengukurannya 80 persen,” kata Rudi menjelaskan.

Sementara itu ditambahkan oleh sekretaris dinas kesehatan kota Samarinda, dr Irama Fitamina Majid, pencegahan dan penekanan stunting di kota Samarinda harus melibatkan semua perangkat daerah bukan hanya dinas kesehatan.

Hal itu untuk menyesuaikan amanah dari peraturan presiden nomor 72 tahun 2021 tentang percepatan penurunan stunting di Indonesia.

Irama menyebutkan dinas kesehatan sejauh ini telah melakukan kegiatan dalam penanganan stunting dengan intervensi gizi spesifik sebanyak 30 persen, sedangkan intervensi gizi sensitif sebanyak 70 persen dilakukan oleh OPD yang lain.

Dinas kesehatan mengintervensi sasaran dari remaja putri, ibu hamil sampai anak di bawah 2 tahun.

Jangan sampai anak di bawah 2 tahun sakit-sakitan karena diare akibat minum air yang tidak bersih.

"Yang menyebabkan gizinya kurang yang berlangsung lama dan menjadi stunting,” terang Irama. (*)

Sumber: Tribun Kaltim
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved