Berita Samarinda Terkini

Produksi Pertanian Samarinda Masih Terbatas, Petani Lokal Butuhkan Irigasi

Produktivitas hasil pertanian yang digarap para petani lokal di Kota Samarinda masih terbatas

Penulis: Hanifan Ma'ruf | Editor: Samir Paturusi
TRIBUNKALTIM.CO/HANIFAN MA'RUF
Aktivitas warga bergotong royong memanen padi di sawah jalan Usaha Tani, Kelurahan Makroman, kecamatan Sambutan Kota Samarinda, Rabu (2/3/2022).TRIBUNKALTIM.CO/HANIFAN MA'RUF 

TRIBUNKALTIM.CO,SAMARINDA– Produktivitas hasil pertanian yang digarap para petani lokal di Kota Samarinda masih terbatas.

Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Samarinda menyebut, produksi gabah dari petani lokal Samarinda saat ini, masih hanya mampu memenuhi 17 persen kebutuhan pangan penduduk Kota Samarinda yang berjumlah sekitar 800 ribu jiwa.

Maka selama ini Kota Samarinda mengandalkan pasokan pangan terutama beras dari daerah lain terutama Sulawesi dan Jawa Timur.

Untuk mengurangi ketergantungan pasokan pangan itu, maka pemerintah ingin meningkatkan produksi pertanian lokal salah satunya dengan memperluas lahan pertanian di Samarinda.

Sementara petani lokal yang menggarap lahan sawahnya secara swadaya dan mandiri bersama kelompok taninya, di beberapa area persawahan di Kota Samarinda mengaku masih terkendala masalah pengairan.

Baca juga: Walikota Samarinda Andi Harun Singgung Wacana Lahan Eks Tambang Direklamasi jadi Lahan Tani

Baca juga: Panen Padi di Sawah Makroman Samarinda, Walikota Andi Harun Ingin Perluas Lahan Pertanian

Baca juga: Santri Penganiayai Guru Hingga Tewas di Samarinda Peragakan 28 Adegan Saat Rekonstruksi

Minimnya tersedia saluran irigasi membuat sawah-sawah masyarakat hanya mengandalkan air hujan sebagai sumber pengairan.

Kondisi itu disebut juga mempengaruhi produktivitas hasil tani, karena jika terjadi musim kemarau berkepanjangan, maka petani hanya bisa memanen padinya satu tahun sekali dari normalnya dua tahun sekali.

Ketua kelompok tani Harapan Baru di kelurahan Makroman, Kecamatan Sambutan, Mat Kosim mengungkapkan kebutuhan irigasi memang menjadi hal yang penting bagi petani-petani yang ada di wilayahnya.

“Ya kira-kira kita butuhkan sekitar 1 kilometer, selama ini kan hanya dari air hujan saja,” ungkapnya, Rabu (2/3/2022) usai kegiatan panen padi bersama waliKota Samarinda.

Pada kesempatan bertemu waliKota saat itu, ia bersama anggota petani yang lain langsung mengutarakan aspirasinya.

Disambut baik, waliKota Andi Harun langsung memerintahkan lurah setempat untuk membuat draft usulan kepadanya.

Mat Kosim menyebutkan untuk masa panen kali ini sawah yang dikelola kelompoknya menghasilkan padi sekitar 5,3 ton, biasanya ujar Mat Kosim mereka bisa menghasilkan 6 sampai 7 ton gabah sekali panen.

“Ini dari seluruh sawahnya seluas 85 hektare, yang sudah kita panen 60 hektare,” sebutnya.

Selain itu hama dan mahalnya harga pupuk juga disebutnya masih menjadi tantangan bagi petani.

“Biasanya urea per karungnya Rp 90.000, tetapi sekarang Rp 112.000,” ucapnya.

Ia bersama petani lain menuturkan tidak bisa membatasi pembelian pupuk meskipun harganya sedang naik.

Baca juga: Genap Setahun Pimpin Samarinda, Walikota Andi Harun Klaim Program Penanganan Banjir Lebihi Target

Maka mereka akhirnya rela menerima margin keuntungan dari hasil panen,  yang lebih sedikit dari biasanya dikarenakan pembiayaan pupuk yang bertambah.

“Karena itu kan kebutuhan utama, tidak bisa kita kurangi, sampai saat ini kita masih bisa beli, dan juga masih ada pupuk subsidi dari pemerintah,” pungkasnya. (*)

Join Grup Telegram Tribun Kaltim untuk mendapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari. Caranya klik link https://t.me/tribunkaltimcoupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel

Sumber: Tribun Kaltim
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved