Jokowi Putuskan Hutan Mangrove Kalimantan Jadi Maskot Indonesia dalam Menurunkan Emisi Karbon

Presiden Jokowi melihat potensi hutan mangrove sebagai maskot baru Indonesia dalam menurunkan emisi karbon dan Kawasan industri hijau.

Dok. Tribun Kaltim/LPM Mamburungan Kaltara
Penanaman mangrove oleh LPM Mamburungan Kaltara 

TRIBUNKALTIM.CO – Presiden Joko Widodo (Jokowi) melihat potensi hutan mangrove di Kalimantan Utara (kaltara) tepatnya yang berada di perbatasan antara Indonesia dengan Malaysia, sebagai kawasan industri hijau di Indonesia.

Oleh karena itu, Jokowi memutuskan menjadikan hutan mangrove di Kalimantan menjadi maskot baru Indonesia dalam menurunkan emisi karbon.

Hal ini sejalan dengan visi Presiden Jokowi dalam membangun pasar karbon dan pemilik stok karbon terbesar di dunia.

Makanya dalam kegiatan rehabilitasi mangrove, pemerintah melibatkan kelompok masyarakat, salah satunya Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Mamburungan.

LPM yang berlokasi di Mamburungan, Tarakan Timur, Kota Tarakan, Kalimantan Utara ini mengelola wilayah rehabilitasi mangrove seluas 15 hektar (ha), dengan jenis mangrove Rhizophora, dan api-api.

Baca juga: DLH Kaltim Terima Laporan Dugaan Kerusakan Mangrove dari Pembangunan Pabrik Nikel di Balikpapan

Saat ini, LPM Mamburungan berhasil melakukan pembibitan mangrove berjumlah 135.000 bibit, terdiri dari 120.000 bibit Rhizophora dan 15.000 bibit mangrove api-api.

Uniknya, LPM ini memiliki cara tersendiri dalam pembagian tugas antar anggota, untuk anggota laki-laki bertugas mencari bibit, menanam, serta memasang ajir atau turus.

Sedangkan untuk anggota perempuan bertugas untuk menyiapkan polybag yang berisi tanah berlumpur, pembibitan, dan menanam mangrove.

Rupanya, dari kegiatan penanaman mangrove tersebut meningkatkan pendapatan ekonomi anggota LPM  dan masyarakat setempat. Ini karena mereka mendapatkan upah sebesar Rp 130.000 per hari.

Salah seorang anggota LPM Mamburungan Anto mengatakan, penanaman mangrove ini membantu dalam mencukupi kebutuhan sehari-hari. Apalagi pendapatnya dari berjualan ikan tidak seberapa besar akibat daya beli masyarakat yang menurun karena pandemi Covid-19.

Halaman
123
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved