Berita Berau Terkini

Masih Dibutuhkan Pusat Penyelamatan Satwa di Berau

BKSDA Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I Berau bersama Conservation Action Network (CAN), berhasil membangun pusat penyelamatan satwa di Kampung Merasa

TRIBUNKALTIM.CO/RENATA ANDINI PENGESTI
Petugas jaga pusat penyelamatan satwa sedang menunjukan burung rangkong yang dalam masa observasi. TRIBUNKALTIM.CO/RENATA ANDINI PENGESTI 

TRIBUNKALTIM.CO, TANJUNG REDEB- Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I Berau bersama Conservation Action Network (CAN), berhasil membangun pusat penyelamatan satwa di Kampung Merasa, Kecamatan Kelay.

Namun, masih diperlukan lebih banyak pusat penyelamatan satwa di Kabupaten Berau

Kepala BKSDA SKW I Berau, Dheny Mardiono menuturkan, perlunya dibangun pusat penyelamatan satwa adalah untuk menjadi kandang transit bagi petugas untuk melakukan observasi maupun pemantauan satwa dilindungi yang didapatkan dari masyarakat, baik melalui operasi pencarian maupun pemberian sukarela dari masyarakat.

"Kami sebelumnya memiliki kandang transit di kantor BKSDA SKW I yang terletak di Jalan Murjani II, Kecamatan Tanjung Redeb, tapi kurang memenuhi syarat," jelasnya kepada Tribunkaltim.co, Senin (27/6/2022).

Sedangkan tim perlu memastikan satwa dilepasliarkan dalam kondisi yang prima untuk bertahan hidup di alam liar.

Baca juga: BKSDA Kaltim Beber Marangkayu Tempat Habitat Orangutan, Belum Ada Rencana Evakuasi

Baca juga: BKSDA akan Evakuasi Buaya yang Terkam Warga di Bontang Kuala, Pemkot Disarankan Punya Penangkaran

Baca juga: Masuk ke Pemukiman Warga, Kapolsek Muara Kaman Serahkan Seekor Bekantan ke BKSDA Kaltim

Jadi diperlukan satu lokasi khusus sebagai pusat penyelamatan satwa.

BKSDA bekerjasama dengan CAN untuk membangun pusat penyelamatan satwa, dan sudah dibangun diatas lahan kurang lebih dua hektare untuk meletakkan atau mengobservasi satwa.

"Kita sudah memulai untuk mecoba hasil yang kita dapatkan diletakkan di pusat penyelamatan satwa tersebut. Dan sudah beberapa kali melepasliarkan," jelasnya.

Untuk saat ini, satwa yang masih berada di pusat penyelamatan satwa di Kampung Merasa ada owa-owa kalimantan sebayak lima ekor, lutung satu ekor, monyet abu-abu sebanyak satu ekor dan burung rangkong sebanyak satu ekor.

Satwa tersebut tentunya segera kita lepas liarkan setelah dipastikan kesehatannya.

"Untuk masa observasi sendiri setiap spesies satwa berbeda, paling cepat enam bulan dan banyak yang lebih dari itu. Kita tidak mungkin melepaskan satwa yang berpenyakit," tegasnya.

Dirinya berharap, masyarakat tidak lagi memelihara satwa dilindungi karen hal itu merupakan pelanggaran pidana sesuai dengan Undang-undang nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.

"Bagi masyarakat yang masih memelihara satwa dilindungi harap segera menyerahkan ke petugas BKSDA" tandasnya.

Terpisah, Kepala Kampung Merasa, Yafet menuturkan, masyarakat di kampungnya sangat mendukung adanya pusat penyelamatan satwa di desa mereka.

Kesadaran tersebut tumbuh dari budaya masyarakat yang sudah hidup dekat dengan alam.

Dirinya mengaku, masyarakat juga terlibat dalam pemberian makanan bagi satwa dilindungi yang ada di pusat penyelamatan satwa melalui petugas jaga.

Baca juga: Kewalahan Pelihara 5 Ekor Ular Piton, DPKP PPU Serahkan kepada BKSDA Kaltim

"Tentu masyarakat juga menjaga kelestarian alam. Disamping itu, wisata alam juga menjadi salah satu sektor mata pencaharian sebagian masyarakat, sehingga menjaga kelangsungan ekosistem sudah menjadi tanggung jawab seluruh warga Kampung Merasa," pungkasnya. (*)

Join Grup Telegram Tribun Kaltim untuk mendapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari. Caranya klik link https://t.me/tribunkaltimcoupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel

 

Sumber: Tribun Kaltim
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved