Berita Nasional Terkini

Polemik Ganja untuk Medis, BNN: THC Ganja di Indonesia Lebih Tinggi Dibandingkan Thailand

Koordinator Tim Ahli Narkotika BNN Komjen Pol. Ahwil Luthan angkat bicara terkait polemik legalisasi ganja untuk medis

Penulis: Justina | Editor: Justina
YouTube KOMPASTV
Santi dan Sunarto saat meminta agar ganja di Indonesia bisa dilegalkan untuk medis. Hal tersebut dilakukan sebagai upaya untuk kesembuhan putrinya yang menderita cerebral palsy. 

TRIBUNKALTIM.CO - Koordinator Tim Ahli Narkotika BNN Komjen Pol. Ahwil Luthan angkat bicara terkait polemik legalisasi ganja untuk medis.

Seperti yang diketahui, beberapa yang lalu viral seorang ibu bernama Santi beserta suaminya Sunarto di Bundaran HI meminta bantuan karena anaknya butuh ganja untuk medis.

Di mana anaknya tersebut diketahui mengidap cerebral palsy atau gangguan yang memengaruhi kemampuan otot, gerakan, hingga koordinasi tubuh seseorang.

Karena itu, anakanya yang bernama Pika membutuhkan biji ganja atau CBD Oil dalam proses penyembuhannya.

Baca juga: Pemakaian Ganja untuk Medis, Wapres Maruf Amin Minta MUI Buat Fatwa

Di tengah aksinya tersebut, Santi dan Sunarto mendesak hakim Mahkamah Konstitusi (MK) segera memutuskan gugatan uji materi terhadap Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.

Menanggapi hal ini, Ahwil Luthan mengatakan bahwa ganja sendiri memiliki banyak jenis.

Dan ganja yang ada di Indonesia atau yang ada di seluruh dunia itu mengandung suatu zat tetrahidrokanabinol atau THC.

"Yang bisa diolah menjadi medis itu harus yang tetrahidrokanabinolnya rendah. Sedangkan ganja yang ada di Indonesia ini adalah mempunyai kadar tetrahidrokanabinolnya di atas 18 persen," kata Ahwil Luthan dikutip dari kanal YouTube CNN Indonesia, Rabu (29/6/2022).

"Jadi itu tidak bisa diolah menjadi medis dan keputusan terakhir yang diambil UNODC bersama semua negara adalah semua keputusan diserahkan kepada masing-masing negara," tambah Ahwil Luthan.

Baca juga: Sinergigas BNNP Kaltim dan Bea Cukai Ungkap Pengiriman 3 Kilogram Lebih Ganja

Disampakan bahwa dulunya negara-negara yang masuk dalam ASEAN menolak.

Tapi sekarang ini Thailand kemudian melegalkan ganja, tetapi lagi-lagi hanya untuk medis.

Berbeda dengan negara-negara lain, ganja yang di Thailand menurut Ahwil Luthan memilik zat tetrahidrokanabinol rendah.

"Karena ganja yang di Thailand itu tetrahidrokanabinolnya rendah sehingga mereka melakukan hal ini. Sedangkan ganja dari kita itu sangat tidak mungkin dan tingkat kesulitannya sangat tinggi untuk mengolah dalam dunia medis," beber Ahwil Luthan.

Karena itu dengan tegas disebutkan Ahwil Luthan kalau negara-negara yang melegalkan ganja untuk medis pasti mempunyai tetrahidrokanabinol rendah.

Halaman
12
Sumber: Tribun Kaltim
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved