Ekonomi dan Bisnis

Sri Mulyani Analisis Krisis Pangan Global Bakal Lama, Efek Buruk dari Perang

Kondisi ekonomi dunia, yang masih belum sepenuhnya pulih akibat pandemi Covid-19 diperparah dengan invasi Rusia ke Ukraina

Editor: Budi Susilo
Dok. Instagram Sri Mulyani Indrawati
Menteri Keuangan Sri Mulyani, menyebut krisis pangan yang melanda secara global pada saat ini dapat berlangsung dalam waktu lama. 

TRIBUNKALTIM.CO, JAKARTA - Kondisi ekonomi dunia, yang masih belum sepenuhnya pulih akibat pandemi Covid-19 diperparah dengan invasi Rusia ke Ukraina.

Selain krisis energi, kata Menteri Keuangan Sri Mulyani, dunia juga dihadapkan pada krisis pangan terutama bagi negara-negara dengan ekonomi rentan.

Menteri Keuangan Sri Mulyani juga menyebut krisis pangan yang melanda secara global pada saat ini dapat berlangsung dalam waktu lama.

Semua menteri keuangan dan bank sentral negara anggota G20 menghadapi situasi yang sangat sulit terkait ketahanan pangan dunia.

Baca juga: Pemerintah Siapkan Langkah Strategis Antisipasi Krisis Pangan Global

Baca juga: Ancaman Krisis Pangan Hantui Indonesia, Jokowi Punya Rencana Besar, Sumba Contohnya

Baca juga: Afghanistan Hadapi Krisis Pangan yang Menyedihkan Usai Jatuh ke Tangan Taliban, Ini Peringatan PBB

Menurutnya, para menkeu negara G20 menyaksikan peningkatan risiko keamanan pangan yang mengkhawatirkan sebagai dampak perang di Ukraina.

Selain itu, juga adanya sanksi, serta pembatasan ekspor yang memperburuk efek pandemi Covid-19.

"Ini semua mendorong harga pangan ke level rekor tertinggi," ujarnya dalam acara High Level Seminar: Strengthening Global Collaboration for Tackling Food Insecurity di Bali, ditulis Minggu (17/7/2022).

Ke depannya, Sri Mulyani mengaku tetap akan melihat tantangan ketahanan pangan ini terhadap ekonomi global masih, dan perlu diatasi bersama.

Baca juga: Dorong Petani di Paser untuk Terus Menanam, Jangan Sampai Pandemi Covid-19 Berlanjut Krisis Pangan

"Bagaimana cara menghindari harga pangan yang terus meningkat. Sebab dengan meningkatnya harga pangan, ini bisa mendorong jutaan orang lagi ke dalam kondisi rawan pangan," katanya.

Jumlah orang yang menghadapi kerawanan pangan akut sudah meningkat lebih dari dua kali lipat sejak 2019 sebelum pandemi, dari 135 juta menjadi 276 juta orang.

Halaman
123
Sumber: Tribunnews
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved