Berita Paser Terkini

Usaha Kerupuk Kelor, Bisnis UMKM Menjanjikan di Desa Kendarom Paser untuk Kalangan Ibu Rumah Tangga

Penggagas Kerupuk Kelor Desa Kendarom, Eva Sasmitosari mengaku produksi Kerupuk Kelor yang dikelolanya sudah mulai dipasarkan ke beberapa daerah

Penulis: Syaifullah Ibrahim | Editor: Adhinata Kusuma
Tribun Kaltim/Syaifullah
Pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) Kerupuk Kelor, Desa Kendarom, Kecamatan Kuaro, Kabupaten Paser, Eva Sasmitosari. (TRIBUNKALTIM.CO/SYAIFULLAH) 

TRIBUNKALTIM.CO, TANA PASER - Kerupuk Kelokor merupakan salah satu bisnis usaha yang menjanjikan bagi kalangan ibu rumah tangga.

Seperti halnya yang tengah dikembangkan pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di Desa Kendarom, Kecamatan Kuaro, Kabupaten Paser, Kalimantan Timur (Kaltim), Minggu (26/6/2022).

Penggagas Kerupuk Kelor Desa Kendarom, Eva Sasmitosari mengaku produksi Kerupuk Kelor yang dikelolanya sekarang ini sudah mulai dipasarkan ke beberapa daerah.

"Walaupun sempat vakum, Alhamdulillah sudah mulai ada yang pesan baik dari dalam maupun luar daerah," terang Eva.

Ketika pertama kali membuat, ia mengaku beberapa kali mengalami kegagalan dalam proses membuatan kerupuk kelor.

Meski diakuinya rumit untu pembuatan kerupuk kelor tersebut, ia tak lantas menyerah, karena prinsipnya kegagalan bukan berarti tidak bisa.

Baca juga: Kabupaten Paser Dapat Bantuan Program BSPS, Terbanyak di Pasir Belengkong Capai 99 Unit Rumah

Baca juga: Bupati Paser Ingatkan Anggota BPD Berperan Aktif Serap Aspirasi Masyarakat

"Awalnya sempat gagal, karena membuat kerupuk kelor harus ada perlakuan khusus, utamanya dan proses penjemuran harus kering di atas 60 persen dalam sehari jika tidak maka akan berdampak pada kualitas," kata Eva.

Jika cuaca tidak bersahabat ia kwartir proses pengeringan sehari tidak mencapai 60 persen sehingga bisa menimbulkan kerugian.

Untuk menghindari hal itu, langkah lain yang bisa dilakukan yakni melalui proses oven.

"Alternatifnya sebenarnya ada, yaitu menggunakan oven, tapi saya gak punya dan harganya cukup mahal, harapannya kedepan semoga bisa dibantu sama pemerintah," ujarnya.

Eva mengaku, sudah beberapa kali dilakukan pembinaan dari Dinas DPMD Kabupaten Paser.

Meski belum bisa maksimal memproduksi karena terkendala pengeringan, namun dari sisi pemasaran, kerupuk tersebut sudah merambah ke beberapa daerah.

"Sudah pernah dipasarkan keluar daerah seperti Jawa Tengah dan Banjarmasin, mereka senang dan bahkan pesan kembali tapi belum bisa produksi banyak karena pengerjaannya masih sendiri," cetusnya.

Dalam 1 bungkus kerupuk kelor yang diproduksi, dibandrol dengan harga Rp10 ribu rupiah.

"Kita jual dengan harga Rp10 ribu per kemasan, kalau untuk kerupuk kelor mentahnya dibandrol dengan harga Rp35 ribu dengan ukuran stengah kilogram," tutup Eva.

Kerupuk olahannya itu, selain tidak menggunakan bahan pengawet juga bisa bertahan lama tanpa berubah rasa atau rusak.

"Kita buat ini tanpa pengawet, bahannya hanya tepung beras, daun kelor, bawang putih, garam dan beberapa bahan lainnya. Ini juga bisa disimpan sampai 9 bulan," ungkapnya.

Harapannya, kerupuk kelor olahannya itu dapat menjadi ciri khas Desa Kendarom, kalau perlu dimasukkan dalam pusat oleh-oleh Kabupaten Paser, jika sudah ada alat (open) diharapkan hasilnya bisa maksimal dan bisa membantu perputaran ekonomi yang ada didesanya. (*)

Sumber: Tribun Kaltim
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved