Berita Kutim Terkini

Tidak Hanya Kaubun, Kecamatan Kongbeng di Kutim Unggul dalam Hasil Pertanian

Selain Kecamatan Kaubun di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) yang dikenal kaya akan hasil tani, Kecamatan Kongbeng juga merupakan salah satu wilayah pengh

Penulis: Syifaul Mirfaqo | Editor: Rahmad Taufiq
HO/KOMINFO KUTIM
Bendungan Pesap di Desa Miau Baru, Kecamatan Kongbeng, Kabupaten Kutai Timur, dimanfaatkan sebagai pengairan. HO/KOMINFO KUTIM 

TRIBUNKALTIM.CO, SANGATTA - Selain Kecamatan Kaubun di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) yang dikenal kaya akan hasil tani, Kecamatan Kongbeng juga merupakan salah satu wilayah penghasil padi.

Kepala Dinas Peternakan dan Pertanian Kabupaten Kutai Timur (Kutim), Dyah Ratnaningrum menerangkan ada sekitar 315 hektare lahan pertanian di Kongbeng.

“Iya lahannya ada segitu, dan itu salah satu yang terbesar setelah Kaubun, kurang lebih sekitar 315 hektare yang ada di sana,” ucapnya pada TribunKaltim.co, Rabu (21/9/2022).

Petani Kongbeng unggul dalam penyedia obat atau pupuk yang baik, serta memiliki bibit yang berkualitas.

Terlebih, kini Kecamatan Kongbeng juga telah dilengkapi dengan sistem pengairan dari Bendungan Daerah Irigasi Pesap.

Baca juga: Tantangan Petani Padi Kutai Timur, Masih Berkutat Soal Irigasi yang Belum Menyeluruh

“Salah satu daya dukung tani, yakni pengairan sudah bagus di sana (Kongbeng). Ada bendungan, nah dari bendungan yang ada sehingga untuk perairannya jelas,” ucapnya.

Bahkan, Kecamatan Kongbeng merupakan kecamatan terbaik kedua setelah Kaubun di bidang pertanian.

Semua aspek pendukung pertanian di Kongbeng tercukupi, seperti luasan lahan, Sumber Daya Manusia (SDM) Tani, dan sistem pengairan yang tersedia sepanjang tahun.

“Beruntungnya juga mereka bukan tadah hujan yang musiman, SDM yang ada juga mencukupi, jadi mereka seperti Kaubun,” ujarnya.

Produktivitas Kecamatan Kongbeng juga cukup tinggi, yakni bisa mencapai enam ton dalam satu kali panen di luasan satu hektare.

Baca juga: Sawah Kembali Dialiri Usai Saluran Irigasi di Kecamatan Kaubun Kutim Direhabilitasi

Angka ini sudah cukup tinggi dibandingkan lahan pertanian yang masih mengandalkan pengairan sistem tadah hujan.

“Kalau yang produktivitas rendah itu yang pakai tadah hujan. Nah ini yang sangat disayangkan,” ujarnya. (*)

Join Grup Telegram Tribun Kaltim untuk mendapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari. Caranya klik link https://t.me/tribunkaltimcoupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel

Sumber: Tribun Kaltim
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved