Berita Balikpapan Terkini

Kisah Bripda Febriyanto Mencari Lokasi Makam Orangtuanya, Sukses Jadi Polisi Meski Yatim Piatu

Mengenal Febriyanto Simatupang (25). Polisi berpangkat Brigadir Polisi Dua itu tak hentinya bersemangat sambil menghaturkan rasa syukur.

Penulis: Mohammad Zein Rahmatullah | Editor: Aris
HO
Anggota Satuan Samapta Polres Penajam Paser Utara, Bripda Febriyanto Simatupang (25) yang berhasil menggapai mimpinya sebagai polisi. (HO) 

TRIBUNKALTIM.CO, BALIKPAPAN – Mengenal Febriyanto Simatupang (25). Polisi berpangkat Brigadir Polisi Dua itu tak hentinya bersemangat sambil menghaturkan rasa syukur.

Pasalnya, profesi sebagai polisi sudah menjadi angan sejak ia masih mengenyam bangku Sekolah Dasar di Balikpapan.

Febriyanto, sapaan akrabnya, tumbuh besar dan berkembang di Panti Asuhan Kristen Tama Riska yang berlokasi Jalan Mayjen Sutoyo, Gunung Malang, Balikpapan, Kalimantan Timur.

Kedua orangtuanya sudah lebih dulu menghadap Yang Maha Kuasa. Sejak masih berumur 7 tahun, dia sudah dititipkan oleh Pamannya di panti asuhan tersebut.

Baca juga: Tingkatkan Kapasitas Kader, Rotary Club Balikpapan Gelar Pelatihan Pencegahan Stunting

Kemudian pada 2018, Febriyanto mencoba peruntungannya dengan mengikuti pendaftaran Polri di SPN Polda Kaltim, Balikpapan.

Tak disangka, ia diterima sebagai bagian daripada Korps Bhayangkara. Kini dia bertugas di Satuan Samapta Polres Penajam Paser Utara (PPU).

Meski angannya bisa terwujud, mimpinya tercapai, bagi Febriyanto tetap terasa kurang tanpa dampingan kedua orangtuanya.

Bukan persoalan tak ikhlas, melainkan hingga memasuki 4 tahun berprofesi sebagai polisi, dirinya tak sekalipun berziarah ke makam orangtuanya.

Baca juga: BPJS Ketenagakerjaan Balikpapan Peringati Hari Anti Korupsi Sedunia

Betapa tidak, Febriyanto bahkan tidak punya sedikit informasi mengenai lokasi keberadaan makam sang Ibu.

Perjuangannya mencari makam Ibunya belum membuahkan hasil sampai hari ini.

“Tapi saya tetap semangat mencari informasi keberadaan makam ibu,” ungkapnya bercerita.

Sebelumnya, semasa masih berumur 5 tahun, dia tinggal bersama Ayah, 3 kakak dan 1 adiknya di Jakarta.

Baca juga: Pemkot Balikpapan Ramaikan Integrity Expo Peringatan Hakordia 2022 di Jakarta

“Lalu Ayah meninggal. Kami diambil masing-masing dirawat sama keluarga, berpencar. Usia 7 tahun saya diambil paman diajak tinggal di PPU, kemudian saya dititipkan ke panti asuhan,” kenangnya.

Berbeda dengan soal Ibu, Febriyanto masih mengetahui kalau Ayahnya dimakamkan di Jakarta.

Halaman
12
Sumber: Tribun Kaltim
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved