Opini

Sistem Informasi Produksi Dalam Konsep Manajemen Operasional

Pemilik perusahaan juga akan lebih mudah dalam mencatat proses produksi barang baik dalam kuantitas barang yang diproduksi, varian atau jenis produk.

HO/Dok Pribadi
Andy Dwi Cahyono, Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Program Studi Akuntansi, Universitas Muhammadiyah Malang 

Oleh: Andy Dwi Cahyono,

Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB)
Program Studi Akuntansi, Universitas Muhammadiyah Malang

MENURUT Jay Heizer dan Barry Render (2009:4), manajemen operasional merupakan suatu bentuk pengelolaan yang menyeluruh dan secara optimal pada aspek faktor produksi, seperti tenaga kerja, peralatan, mesin dan hal lain yang dapat menghasilkan output berupa barang atau jasa dengan nilai guna yang tinggi. Sehingga secara sederhana, manajemen operasional adalah sistem yang dijalankan untuk mengelola atau mengatur seluruh kebutuhan operasional sebuah bisnis.

Dalam konsep manajemen operasional, terdapat beberapa ruang lingkup yang menyertainya, salah satunya yaitu sistem informasi produksi. Sistem informasi produksi merupakan sebuah sistem informasi manajemen yang berguna untuk mendukung fungsi produksi dan menyediakan suatu informasi mengenai aktivitas yang terkait dengan perencanaan dan pengendalian proses produksi baik barang maupun jasa.

Kemudian, mengenai informasi yang disajikan dalam sistem informasi produksi, yaitu berisi 4 hal yang berasal dari hasil pengolahan data berupa komponen output produksi berdasarkan sub sistemnya masing-masing, yang diantaranya yaitu sebagai berikut:
1. Sub Sistem Produksi
Memberikan informasi yang mencakup segala hal yang berkaitan dengan proses produksi pada setiap divisi ataupun departemen yang mengukur produksi dalam hal waktu dan juga menelusuri arus kerja dari satu langkah pada langkah berikutnya.
2. Sub Sistem Persediaan
Memberikan informasi mengenai tingkat persediaan barang suatu perusahaan yang dipengaruhi oleh jumlah unit yang dipesan dari pemasok dan juga terkait dengan tingkat persediaan rata-rata yang diperkirakan dari separuh kuantitas pesanan dan ditambah safety stock.
3. Sub Sistem Kualitas
Memberikan informasi yang berkaitan dengan segala hal yang berhubungan dengan kualitas baik dari segi waktu, performa kerja, maupun pemilihan supplier.
4. Sub Sistem Biaya
Memberikan informasi mengenai komponen biaya yang termasuk dalam semua sub sistem. Dimana informasi ini dapat digunakan untuk mengukur keuntungan yang diinginkan sebuah perusahaan dari hasil penjualan produknya.

Selain itu, pada sub sistem informasi produksi terdiri dari beberapa komponen model yang diantaranya yaitu:
1. Titik Pemesanan Kembali (Re-Order Point / ROP)
ROP merupakan suatu strategi operasi yang bersifat reaktif, dimana strategi ini diterapkan ketika titik saldo persediaan mencapai tingkat tertentu, maka suatu perusahaan harus melakukan pembelian persediaan kembali.
2. Pemesanan Kuantitas Ekonomis (Economic Order Quantity / EOQ)
EOQ merupakan suatu kuantitas atau jumlah pesanan persediaan yang dapat diperoleh dengan biaya minimum atau dengan kata lain adalah, sebagai jumlah pembelian persediaan secara optimal.
3. Perencanaan Kebutuhan Material (Material Requirements Planning / MRP)
MRP merupakan suatu strategi material yang bersifat proaktif. Dimana dengan mengidentifikasi tanggal dan jumlah material yang dibutuhkan. MRP ini berfungsi untuk memungkinkan suatu perusahaan dalam mengelola material yang dimilikinya secara baik, sehingga dapat menghindari terjadinya kehabisan persediaan yang disebabkan oleh pesanan yang tidak tersedia.

Adapun fungsi dan tujuan dari sistem informasi produksi, yaitu:
A. Fungsi
1. Fungsi Perencanaan Produk
Fungsi ini digunakan untuk menentukan bentuk dan mutu dari produksi akhir.
2. Fungsi Persediaan
Fungsi ini berkaitan dengan aktivitas persediaan bahan baku, mutu, waktu, dan juga tempat yang digunakan dengan memperhitungkan biaya seminimal mungkin.
3. Fungsi Pengawasan Pelaksanaan
Fungsi ini berguna untuk menentukan pelaksanaan agar tetap berjalan sesuai dengan rencana produksi.
4. Fungsi Pengawasan Mutu
Fungsi ini berkaitan dengan pemeliharaan mutu produksi sehingga dapat sesuai dengan permintaan pasar.
5. Fungsi Pengawasan Biaya
Fungsi ini berguna untuk mempertanggungjawabkan terhadap setiap perbedaan anatar biaya yang digunakan dengan biaya yang telah direncanakan.
6. Fungsi Pengangkutan
Fungsi ini bertujuan agar proses produksi dapat terlaksana dengan tepat dengan biaya perlengkapan yang minimum.

B. Tujuan
Tujuan dari sistem informasi produksi yaitu untuk efektifitas dan efisiensi suatu perusahaan dalam mengatur produksi barang ataupun jasa dari segi waktu, tempat, jumlah, kualitas, dan harga yang sesuai dengan kebutuhan, serta guna memenuhi persyaratan dari sistem produksi yang telah ditentukan.

Berdasarkan hasil analisa terkait teori sistem informasi produksi dengan penerapan dan perkembangannya terhadap salah satu UMKM Rice To Meet You dalam bidang kuliner yaitu lebih disarankan dengan menggunakan sistem informasi produksi berbasis komputer yang menggunakan database berpusat server. Sehingga, pemilik dapat mengelola data dengan lebih mudah, terkait segala aktivitas perusahaan yang mencakup sistem produksi barang. Dimulai dari perencanaan produk, menghitung semua input persediaan, biaya, dan pengawasan mutu terkait produk yang di jual.

Selain itu, dengan adanya sistem ini pemilik perusahaan juga akan lebih mudah dalam mencatat proses produksi barang baik dalam kuantitas barang yang diproduksi, varian atau jenis produk, dan juga komponen produksi lain yang diperlukan. Tak hanya itu, sistem informasi produksi ini juga dapat dikembangkan guna menyimpan data pelanggan yang dapat dijadikan sebagai acuan mendatang untuk memproduksi jenis produk yang diutamakan, dan juga dapat dikembangkan guna mencatat sistem keuangan seperti arus kas masuk dan keluar perusahaan, dan juga laporan penjualan.***

Sumber: Tribun Kaltim
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved