Berita Kutim Terkini
Cara Cegah Stunting di Kutai Timur, Bahrani Hasanal: Pantau 1.000 Hari Pertama Kehidupan
Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kutai Timur (Kutim) selaku pengawas gizi pada program percepatan penurunan stunting.
Penulis: Nurila Firdaus | Editor: Budi Susilo
TRIBUNKALTIM.CO, SANGATTA - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kutai Timur (Kutim) selaku pengawas gizi pada program percepatan penurunan stunting membeberkan pentingnya pemantauan 1.000 hari pertama kehidupan.
Demikian disampaikan oleh Kepala Dinkes Kutim, Bahrani Hasanal kepada TribunKaltim.co.
Langkah dalam pencegahan stunting salah satunya memantau gizi pada anak di 1.000 hari pertama kehidupan.
"1.000 hari pertama kehidupan artinya pada usia awal kehamilan hingga bayi berumur 2 tahun," sebutnya kepada TribunKaltim.co pada Kamis (23/3/2023).
Baca juga: Kasus Stunting Balikpapan Meningkat, Dra. Alwiati, A.Apt Jalankan Strategi Penurunan sejak Remaja
Menurutnya, perkembangan otak pada manusia itu terjadi mulai awal kehamilan hingga usia 2 tahun sebesar 80 persen.
Perkembangan otak pada bayi bisa dilakukan mulai sejak di dalan kandungan dengan cara memberikan nutrisi yang tepaf untuk janin.
Selain itu juga bisa melakukan pemeriksaan rutin ke dokter kandungan.
"Jika sudah lahir, bayi diberikan ASI ekslusif hingga 6 bulan pertama, lalu diberi makanan pendamping ASI yang bernutrisi," bebernya.
Pada intinya, saat anak menuju 2 tahun agar benar-benar dipantau kesehatannya termasuk makanan yang akan dikonsumsi juga harus bergizi sesuai kebutuhan anak.
Pasalnya, jika tidak dipantau hingga usia 2 tahun, maka perkembangan otak pada anak tidak maksimal.
Baca juga: Kampanye Pencegahan Stunting Terus Digelorakan, CEO Tribun Network: Urus Stunting Pekerjaan Mulia
"Begitu lewat 2 tahun sudah susah kita koreksi (perkembangan otak), kalau sekedar kurus masih bisa kita perbaiki dengan menambah porsi makan, tapi kalau otak harus dari 1.000 hari pertama kehidupan," tegasnya.
Selain itu, untuk mencegah stunting, pihaknya juga memberikan tablet tambah darah bagi pelajar perempuan.
Sebab, perempuan lebih sering mengalami anemia lantaran harus mengalami haid setiap bulannya.
"Kami juga memberikan tablet tambah darah kepada pelajar perempuan khususnya, karena kan mengalami haid," ujarnya.
Selain itu juga sosialisasi gizi kepada masyarakat dan edukasi. "Serta pemeriksaan kesehatan kepada calon pengantin," pungkasnya. (*)
Penulis: Nurila Firdaus
Capt: Kepala Dinas Kesehatan Kutai Timur, Bahrani Hasanal
Tribunkaltim.co/Nurila Firdaus
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/pengawas-gizi-stunting.jpg)