Paskah 2023
Kebangkitan Kristus Membarui Cara Hidup
Kita tidak bisa hidup di antara kegelapan dan terang. Pada hari Minggu kita memohon kepada Tuhan, tetapi hari lainnya, kita mengabaikan-Nya.
Oleh: Pdt. Dr. Analita Migang, M. Div
Ketua Majelis Pertimbangan PGI Wilayah Kaltim
"MENGAPA Allah membiarkan penderitaan terjadi pada orang benar Pertanyaan yang mungkin muncul dalam benak kita. Sebaliknya "Mengapa orang-orang yang menghalalkan tipu muslihat dan ketidakjujuran, makmur hidupnya?" Pertanyaan ini barangkali juga muncul saat murid-murid menyaksikan kematian Yesus. Bahkan, Yesus sendiri menanyakan hal itu: "Bapa mengapa Engkau meninggalkan Aku?"
Narasi Pra-Paskah mengungkapkan tercerai-berainya para murid setelah kematian Yesus. Pastilah ada semacam keputusasaan sepeninggal Yesus. Kekalutan itu bisa menimbulkan pertanyaan, apakah Allah telah kalah?Kadang kita juga demikian. Saat kenyataan jauh dari harapan, sering kita merasa bahwa Tuhan tak mendengar doa kita; Tuhan entah di mana. Ujung-ujungnya adalah keputusasaan. Kondisi inilah membuat orang mudah jatuh pada jalan pintas. Menginjak hati nurani, mengejar penghasilan secara cepat namun tidak wajar. Semuanya berakar dari anggapan bahwa Tuhan sudah tidak peduli dalam kehidupan ini. Atau, Dia telah kalah melawan dunia. Akhirnya, korupsi merajalela elite politik saling menyikut, dan para pemimpin menjadi tidak peduli, asal kepentingannya terjamin. Hati nurani entah di ruang mana. Artinya, kita sedang menghadapi krisis moral yang tak terhingga.
Jalan pintas seperti ini membuat kita makin sulit mengenal Tuhan dan mendengar suara-Nya. Jangan-jangan tanpa sadar kita telah mengikuti gagasan Jean Paul Sartre yang mengatakan bahwa Tuhan sudah mati. Dia mengatakan, dulu Allah memang pernah berbuat, dulu memang Dia berfirman kepada umat Israel. Tapi itu dulu. Kini Dia tak lagi mendengar, tak lagi berbuat, tak lagi berfirman. Dia telah mati.
Sesungguhny, bukan Tuhan telah mati, tapi mata dan telinga Sartre sudah buta dan tuli, sehingga tidak sanggup melihat dan mendengar perbuatan dan suara Tuhan. Roh zaman ini memang mudah membutakan mata dan memekakkan telinga manusia, sehingga manusia tak lagi sanggup melihat perbuatan Tuhan dan mendengar suara-Nya. Apalagi jalan yang Allah tentukan bagi kehidupan acap sulit dimengerti. Demikian juga narasi Paskah yang mengungkapkan jalan penderitaan yang Kristus tempuh dalam melepaskan manusia dari maut, yakni Salib.
Tetapi, segalanya tidak berakhir di kayu salib. Salib harus dilalui, tapi bukan kata akhir. Berita Paskah tidak berakhir dengan kematian. Yesus bangkit! Kebangkitan inilah yang memulihkan wajah kemanusiaan di mana integritas Allah dipersembahkan sebagai pengharapan bagi manusia, sekalipun realitas kehidupan tampak getir.
Oleh karena itu, setiap merayakan Paskah baiklah kita ingat, Kristus telah bangkit. Kita telah diseberangkan dari kegelapan ke dalam terang Kristus dan menjadi cerminan dari Terang itu. Namun, dalam kehidupan sesehari, kita sering tidak menjadi terang, bahkan menghalangi terang itu. Akar dari semuanya adalah kita menempatkan diri sebagai pusat segalanya yang merupakan sumber kegelapan itu. Lalu, bagaimana kita bisa mengalahkan kegelapan? Kegelapan hanya dapat dihalau dengan terang. Paskah telah memperkenalkan Terang itu, yakni Allah yang berbela rasa. Masalahnya, kita suka bermain di kegelapan. Padahal kita sudah diberikan identitas sebagai terang, sekaligus otoritas untuk menghalau kegelapan.
Ungkapan daripada menggerutu dan mengutuki kegelapan, lebih baik menyalakan sebuah lilin hendaknya berlaku bagi kita - menyalakan lilin-lilin kecil dalam berperilaku. Itulah makna Paskah: membebaskan manusia dari kegelapan. Integritas Allah dipertaruhkan bagi pemulihan wajah kemanusiaan. Akar kegelapan, yakni pemusatan atas diri sendiri mesti diubah orientasi yang bermakna bagi dunia.
Dengan demikian kita bisa menjadi terang. Menjadikan diri sendiri sebagai pusat akan menghalangi terang. Sebaliknya, membuka diri bagi dunia akan memancarkan terang. Kita tidak bisa hidup di antara kegelapan dan terang. Pada hari Minggu kita memohon kepada Tuhan, tetapi hari lainnya, kita mengabaikan-Nya. Minggu kita "saleh", hari lainnya, kita "salah". Hidup peribadahan kita tidak nyambung dengan hidup sosial kita. Hidup dalam terang membutuhkan perubahan perilaku yang perlu dilatih. Kita membutuhkan habitus baru sebagai anak-anak terang.
Mulailah dari yang sederhana: rumah tangga lalu lingkungan yang lebih luas. Melalui perayaan Paskah, Tuhan menyapa kita: di tengah beban kehidupan yang makin tidak pasti, jangan takut, Aku menyertai engkau. Oleh sebab itu, bangkitlah. Tetaplah semangat dalam memasuki hidup baru dengan habitus baru.***
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/pdt-dr-analita-migang.jpg)