Kamis, 7 Mei 2026

Video Viral

Jalan Terakhir, Ukraina Paksa Rakyat Perang Lawan Rusia, Zelensky Bisa Digulingkan

Jalan terakhir, Ukraina paksa rakyatnya perang lawan Rusia, Volodymyr Zelensky bisa digulingkan

Tayang:
Penulis: Rafan Arif Dwinanto | Editor: Sandrio

TRIBUNKALTIM.CO - Amerika Serikat (AS) memprediksi, baik Ukraina maupun Rusia tidak akan mencapai keuntungan besar di medan perang tahun 2023 ini.

Dilansir dari Tribunnews.com, dalam dokumen rahasia AS yang bocor, disebutkan kebuntuan berikutnya akan memaksa Ukraina untuk memobilisasi rakyatnya untuk berperang.

"Badan Intelijen Pertahanan AS memandang, baik Ukraina maupun Rusia memiliki pasukan dan persediaan yang tidak mencukupi untuk operasi yang efektif,” bunyi dokumen rahasia itu.

Dokumen rahasia AS memperkirakan, perang di Ukraina akan berlanjut hingga tahun 2024, dengan kedua belah pihak hanya mencapai keuntungan teritorial kecil tahun ini, seperti yang diberitakan The Washington Post, mengutip dokumen rahasia itu, Rabu (5/4/2023).

Penilaian tersebut, berdasarkan studi menyeluruh AS tentang jumlah pasukan, senjata, dan peralatan di masing-masing pihak.

Selain Ukraina, pihak AS juga memprediksi respons dari Rusia saat menghadapi kondisi perang yang mengalami kebuntuan, seperti diberitakan The Post yang mengutip dokumen itu.

Mobilisasi ini berpotensi menjadi langkah yang akan memicu kritik publik terhadap pemerintahan Volodymyr Zelensky dan dapat memicu pergantian pemerintahan.

Dokumen itu juga memberikan skenario jika Ukraina unggul dalam perang.

Apabila Ukraina unggul, hal itu dapat memaksa Rusia untuk meningkatkan serangan atau bernegosiasi.

Baca juga: Ukraina Bisa Tamat, Diam-Diam China Pasok Senjata Buat Rusia, Bocoran Dokumen AS

Baca juga: Nah, Zelensky Dituduh Dapat Gratifikasi Hasil Ukraina Beli Minyak Rusia Buat Perang

Kemungkinan lainnya, jika Rusia menang, AS memprediksi Vladimir Putin akan menuntut perubahan rezim di Ukraina.

Meski ada beberapa kemungkinan, dokumen itu mengatakan, potensi yang paling mungkin terjadi adalah Ukraina dapat memobilisasi rakyatnya.

Sebelumnya, upaya Ukraina untuk mewajibkan warga sipil ke dalam dinas militer terbukti tidak menarik perhatian banyak rakyatnya.

Media Rusia, RT, mengatakan, hal ini terbukti dari banyaknya video yang menunjukkan orang-orang ditahan secara paksa di jalanan dan dipaksa masuk ke dalam dinas.

Lebih lanjut soal mobilisasi dalam dokumen itu, disebutkan, anggota parlemen Ukraina sedang mempertimbangkan untuk memperluas draf pasukannya.

Banyak dari rakyatnya yang sudah berseragam, telah disalurkan ke kota Artyomovsk yang dikelilingi Donbass (Bakhmut di Ukraina).

Pada saat yang sama, kemungkinan Ukraina akan meningkatkan serangan di wilayah Rusia, setelah memobilisasi rakyatnya.

Peningkatan serangan ini dapat memaksa Presiden Vladimir Putin untuk meningkatkan atau memberi China alasan untuk memulai dukungan mematikan untuk Rusia.

Adapun pihak Rusia, kebuntuan akan memaksa mereka untuk menggunakan cadangan yang terdegradasi karena berkurangnya kekuatan tempur, dikutip dari Pravda.

Rusia juga kemungkinan akan mempercepat upaya untuk mengintegrasikan wilayah yang disita ke Rusia.

Dokumen rahasia AS yang baru-baru ini bocor mengungkapkan, pada Februari, AS yakin Ukraina telah menderita hingga 131.000 korban dalam konflik sejauh ini, termasuk hingga 17.500 tewas.

Menetapkan jumlah kematian yang sebenarnya sulit, karena Ukraina jarang mempublikasikan kerugiannya, dikutip dari RT.

Musim gugur tahun 2022 lalu, Presiden Komisi Uni Eropa, Ursula von der Leyen, menyebutkan kematian di Kiev mencapai 100.000.

Namun, klaim itu dibantah oleh Kiev dan kemudian dihapus dari situs web Uni Eropa.

The Post mencatat, dokumen rahasia itu tidak menentukan apakah perubahan kepemimpinan di Ukraina mengacu pada rotasi pemimpin politik atau petinggi militer.

Pejabat di Ukraina dilaporkan marah atas kebocoran tersebut, yang juga termasuk informasi yang menunjukkan Ukraina tidak siap untuk melakukan serangan balasan musim semi yang telah lama dijanjikan. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved