Minggu, 3 Mei 2026

Berita Nasional Terkini

Mengenal Prof Dr Sulianti Saroso, Sosok Google Doodle Hari Ini, Dokter Pejuang

Mengenal Prof Dr Sulianti Saroso, sosok di Google Doodle hari ini, dokter pejuang.

Tayang:
google.com
Google Doodle hari ini, Rabu (10/5/2023) spesial dipersembahkan untuk memperingati Hari Ulang Tahun ke-106 dokter Julie Sulianti Saroso. Ia adalah dokter perempuan pertama di Indonesia. Sekaligus, dokter yang memperkenalkan program Keluarga Berencana di Indonesia. Mengenal Prof Dr Sulianti Saroso, sosok di Google Doodle hari ini, dokter pejuang. 

TRIBUNKALTIM.CO - Mengenal Prof Dr Sulianti Saroso, sosok di Google Doodle hari ini, dokter pejuang.

Nama Prof Dr Sulianti Saroso khususnya di dunia kesehatan sudah tak lagi diragukan kesohorannya.

Ia adalah salah satu dokter pejuang.

Untuk mengenang kelahirannya, hari ini Google Doodle Google Doodle memajang gambar Prof. Dr. Sulianti Saroso di home page Google.

Google Doodle hari ini mengenang dokter asal Indonesia, Prof. Dr. Sulianti Saroso.

Baca juga: Terjawab! Siapa Sapardi Djoko Damono, Sosok Maestro Puisi yang Jadi Google Doodle Hari Ini

Sosoknya dikenal banyak orang sebagai salah satu pakar kesehatan paling signifikan pada masanya karena mempromosikan kesehatan ibu hamil dan keluarga.

Untuk mengenang jasa-jasanya, namanya disematkan pada Rumah Sakit Pusat Infeksi (RSPI) di kawasan Sunter, Jakarta Utara.

Dikutip dari Indonesia.go.id, Sulianti Saroso lahir 10 Mei 1917 di Karangasem, Bali.

Ia adalah anak kedua dari keluarga dokter M Sulaiman.

Lahir dari orangtua sebagai dokter, tempat Sulianti juga ikut berpindah-pindah mengikut tempat tugas ayahnya.

Meskipun demikian, Sulianti selalu mendapat pendidikan terbaik.

Ia menempuh pendidikan dasar berbahasa Belanda ELS (Europeesche Lagere School), lalu pendidikan menengah elite di Gymnasium Bandung, dan melanjutkan pendidikan tinggi di Geneeskundige Hoge School (GHS), sebutan baru bagi Sekolah Kedokteran STOVIA di Batavia.

Di STOVIA ia lulus sebagai dokter pada tahun 1942.

Pada masa pendudukan Jepang, Sulianti bekerja sebagai dokter di RS Umum Pusat di Jakarta, yang kini dikenal sebagai RS Cipto Mangunkusumo.

Kemudian di awal kemerdekaan, ia ikut bertahan di rumah sakit besar itu.

Foto Profil sosok Sulianti Saroso
Foto Profil sosok Sulianti Saroso (rspi-suliantisaroso.com)

Namun, ketika ibu kota negara pindah ke Yogyakarta, Sulianti turut hijrah menjadi dokter republiken dan bekerja di RS Bethesda Yogyakarta.

Sulianti mengikuti garis politik keluarganya. Ayahnya, dokter Muhammad Sulaiman, yang berasal dari kalangan keluarga priyayi tinggi di Bagelen-Banyumas adalah pengurus dan pendiri Boedi Oetomo, dengan pandangan politik yang pro Indonesia Merdeka.

Di Yogya, Sulianti, yang oleh teman-temannya sering dipanggil sebagai Julie, itu benar-benar terjun sebagai dokter perjuangan.

Ia mengirim obat-obatan ke kantung-kantung gerilyawan republik, dan terlibat dalam organisasi taktis seperti Wanita Pembantu Perjuangan, Organisasi Putera Puteri Indonesia, selain ikut dalam organisasi resmi KOWANI.

Baca juga: Google Doodle Hari Ini Tampilkan Peringatan Hari Perempuan Internasional 2023, Berikut Sejarahnya

1947, Sulianti ikut delegasi KOWANI ke New Delhi, menghadiri Konferensi Perempuan se-Asia.

Dari situ, Sulianti dan teman-teman menggalang pengakuan resmi bagi kemerdekaan Indonesia.

Saat pasukan Pemerintahan Sipil Hindia Belanda/NICA menyerbu dan menduduki Yogyakarta, pada Desember 1948, Sulianti termasuk ke dalam daftar panjang para pejuang kemerdekaan yang ditahan.

Ia meringkuk di penjara dua bulan.

Bekerja di Kementerian Kesehatan RI

Pascarevolusi kemerdekaan, dokter Sulianti kembali bekerja di Kementerian Kesehatan.

Ia meraih beasiswa dari WHO untuk belajar tentang tata kelola kesehatan ibu dan anak di beberapa negara Eropa, terutama Inggris.

Pulang ke tanah air pada 1952, ia telah mengantungi Certificate of Public Health Administrasion dari Universitas London.

Ia pun ditempatkan di Yogya sebagai Kepala Jawatan Kesehatan Ibu dan Anak Kementerian Kesehatan RI.

Google Doodle hari ini mengenang hari lahir dokter Sulianti Saroso. Berikut profilnya
Google Doodle hari ini mengenang hari lahir dokter Sulianti Saroso. Berikut profilnya (screenshoot via Kompas.com)

Sulianti kemudian melakukan penggalangan dukungan publik untuk program kesehatan ibu dan anak, khususnya pengendalian angka kelahiran lewat pendidikan seks dan gerakan keluarga berencana (KB).

“Dengan penuh semangat dia meminta pemerintah agar membuat kebijakan mendukung penggunaan kontrasepsi melalui sistem kesehatan masyarakat," tulis Terence H Hull, pengamat kebijakan kesehatan dari Australia National University (ANU), dalam People, Population, and Policy in Indonesia, 2005.

Namun kampanye Sulianti saat itu menimbulkan resistensi. Gagasannya ditolak mentah-mentah.

Dia juga mendapat teguran dari Kementerian Kesehatan.

Tak lama kemudian ia dipindah ke Jakarta, promosi menjadi Direktur Kesehatan Ibu dan Anak di kantor Kementerian Kesehatan.

Baca juga: Siapa Google Doodle Hari Ini? Profil Donald Djatunas Pandiangan yang Dijuluki Robin Hood Indonesia

Memperjuangkan KB

Dokter Sulianti masih terus memperjuangkan ide program KB. Hanya saja melalui jalur swasta.

Bersama sejumlah aktivis perempuan, ia mendirikan Yayasan Kesejahteraan Keluarga (YKK) yang menginisiasi klinik-klinik swasta yang melayani KB di berbagai kota.

Para pejabat kementerian tutup mata. Untuk membangun model sistem pelayanan ibu dan anak, ia juga mendirikan pos layanan di Lemah Abang, Bekasi.

Tujuannya, pelayanan medik bagi ibu dan anak bukan tujuan akhir. Goal-nya kehidupan ibu dan anak yang sehat dan bahagia.

Memasuki tahun 1960-an, Sulianti dihadapkan pada masalah. Suaminya, Saroso, yang sebelumnya pejabat tinggi di Kementerian Perekonomian tersisih secara politik.

Sebagai tokoh PSI (Partai Sosialis Indonesia), Saroso mendapat imbas peristiwa PRRI.

Tak mau lama terpuruk dalam situasi rumit, Sulianti mengambil beasiswa di Tulane Medical School, New Orleans, Louisiana.

Dalam lima tahun, ia meraih gelar MPH dan PhD. Desertasinya tentang epidemiologi bakteri E-Coli.

Menggalakkan Indonesia bebas cacar Selesai dengan PhD-nya, Sulianti sempat setahun menjadi asisten profesor di Tulane, dan punya opsi memperpanjangnya.

Lamarannya untuk menjadi profesional di Kantor Pusat WHO di Genewa, Swiss, diterima.

Namun, saat ia berada di Jakarta mempersiapkan kepindahannya, Menteri Kesehatan Profesor GA Siwabessy menahannya.

Tak lama kemudian, dokter Sulianti diangkat menjadi Dirjen P4M dan Direktur LRKN atau kini menjadi Balitbang Kementerian Kesehatan.

Ia pun diizinkan aktif di WHO. Sewaktu menjabat Dirjen P4M, Profesor Sulianti mendeklarasikan Indonesia bebas cacar.

Posisi Dirjen P4M dijalaninya sampai 1975, saat ia mundur dan memilih fokus di Balitbang Kesehatan hingga pensiun 1978.

WHO masih memanfaatkan kepakarannya dan menjadikannya pengawas pada Pusat Penelitian Diare di Dakka, Bangladesh 1979.

Di dalam negeri, Ia juga masih diperlukan sebagai staf ahli menteri.

Pada era 1970 hingga 1980-an, gagasan-gagasannya tentang pengendalian penyakit menular, KB, dan kesehatan ibu serta anak secara bertahap diadopsi menjadi kebijakan pemerintah.

Meski memiliki kepedulian besar tentang KB, menurut Dita Saroso, ibunya tak sempat turut terlibat dalam eksekusinya.

Baca juga: Siapa Google Doodle Hari Ini? Profil Donald Djatunas Pandiangan yang Dijuluki Robin Hood Indonesia

"Sepanjang yang saya ingat, Ibu tak pernah masuk BKKBN," ujar Dita.

Di pengujung kariernya, Profesor Sulianti lebih banyak menekuni bidang yang sesuai dengan kompetensi akademiknya, yakni penyakit menular.

Dia juga tetap saja tak tertarik menangani pasien orang per orang. Ia tidak membuka praktek pribadi.

"Ibu itu lebih sebagai dokternya masyarakat," kata Dita.

Filosofinya sebagai dokter bukan sebatas mengobati pasien, melainkan membuat masyarakat (terutama kalangan menengah ke bawah) hidup sehat, sejahtera, dan bahagia.

Untuk mengenang kelahirannya, hari ini Google Doodle Google Doodle memajang gambar Prof. Dr. Sulianti Saroso di home page Google. (*)

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Join Grup Telegram Tribun Kaltim untuk mendapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari. Caranya klik link https://t.me/tribunkaltimcoupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved