Bulan Bung Karno 2023
Megawati Kenalkan Triawan Munaf Sebagai Pembuat Logo 'Banteng Moncong Putih', Singgung Soal Intel
Triawan Munaf yang juga mantan Kepala Badan Ekonomi Kreatif itu adalah pembuat logo PDIP, yakni banteng moncong putih.
TRIBUNKALTIM.CO - Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri memperkenalkan musisi Triawan Munaf, sosok pembuat logo PDIP kepada para ribuan kader yang menghadiri puncak peringatan Bulan Bung Karno di Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, Sabtu, 24 Juni 2023 kemarin.
Triawan Munaf yang juga mantan Kepala Badan Ekonomi Kreatif itu adalah pembuat logo PDIP, yakni banteng moncong putih.
Awalnya, Megawati mengatakan sebelum pemilihan umum (Pemilu) 1999 partainya masih menggunakan nama PDI dan tidak diperbolehkan ikut Pemilu.
"Kenapa bendera kita banteng? Ketika itu, ketika kami PDIP tidak boleh mengikuti Pemilu.
"Saya heran juga kenapa enggak boleh," kata Megawati dalam pidatonya.
Setelah mendapatkan saran, presiden ke-5 ini menyebut pihaknya akhirnya mengubah nama partainya dari PDI menjadi PDI Perjuangan.
"Akhirnya saya tanya kalau mau ikut gimana ya? 'Ganti nama bu'. Itulah supaya tahu namanya jadi PDI Perjuangan. Perjuangan enggak boleh disingkat," ujar Megawati.
Baca juga: DPD PDI Perjuangan Kaltim Siap Hadiri Haul Bung Karno di Stadion GBK Jakarta 24 Juni Mendatang
Saat itu, kata Megawati, penambahan nama menjadi PDI Perjuangan disertai perubahan logo partai melalui sayembara yang dimenangkan Triawan Munaf.
"Lalu yang menang saudara Triawan Munaf. Mana dia orangnya?
Beliau cerita 'bu ternyata waktu ikut ibu itu susah ya. Waduh kemana-mana saya diikuti intel'," ungkapnya.
"Saya bilang enggak apa-apa, intel juga baik kok. Ini akhirnya marilah dari GBK ini kita tampilkan watak kesejatian politik yang menyatu dengan rakyat," sambung Megawati.
Isi Pidato Megawati yang Gemparkan Dunia
Berikut isi pidato Soekarno yang gemparkan dunia di sidang Majelis Umum PBB tahun 1960.
Bos PDIP, Megawati ingatkan beberapa pidato Soekarno yang menggemparkan dunia di acara Bulan Bung Karno 2023.
Bahkan pidato Soekarno telah dijadikan salah satu memori dunia yang tercatat di Unesco.
Selengkapnya ada dalam artikel ini.
Baca juga: Terungkap Alasan PDIP tak Undang Demokrat di Puncak Bulan Bung Karno, Usai Puan - AHY Tampil Mesra
Mengingat pidato Presiden Soekarno (Bung Karno) yang membuat gempar dunia dalam Sidang Majelis Umum PBB pada 30 September 1960.
Soekarno menyampaikan pidatonya yang berjudul 'To Build the World A New (Membangun Dunia Kembali).
Dalam pidatonya yang 'berapi-api' tersebut, Presiden Soekarno mengatakan;
"semua masalah besar di dunia kita ini saling berkaitan. Kolonialisme berkaitan dengan keamanan; keamanan juga berkaitan dengan masalah perdamaian dan pelucutan senjata; sementara pelucutan senjata berkaitan pula dengan kemajuan perdamaian di negara-negara belum berkembang."
Presiden Soekarno dalam kesempatan itu juga mengajak negara-negara anggota PBB untuk turut serta dalam memperjuangkan nasib negara-negara di Asia-Afrika. Pasalnya, PBB didirikan sebelum bangsa-bangsa Asia, Afrika, dan Amerika Latin belum banyak yang merdeka.
Sementara pasca perang dunia kedua, telah banyak negara di Asia, Afrika, dan Amerika Latin yang baru merdeka.
Ia pun tak gentar menyorti struktur kekuasaan PBB masih dipegang oleh negara besar bagian barat seperti Amerika dan Inggris.
Lalu untuk pembebasan negara baru, pembentukan PBB harus segera diubah.
Baca juga: Silsilah Ganjar Pranowo, Capres PDIP di Pilpres 2024 Punya Garis Keturunan Sunan Kalijaga
Soekarno mengingatkan bahwa karena imprealisme negara-negara di Asia dan Afrika menderita dan terjajah. Sudah waktunya imprealisme hancur dan digantikan dengan nasionalisme.
Tentu apa yang diutarakan Soekarno dalam Sidang Umum PBB ini mencengangkan semua kalangan.
Sebagai seorang pemimpin negara muda, Soekarno dengan lantang mengkritik negara-negara yang telah mapan.
Soekarno tidak pandang bulu terhadap negara manapun.
Ia melucuti kolonialisme di negara imprealis.
Tidak gentar sedikitpun terhadap kekuatan yang lebih dulu mapan dan kuat.
Bukti nyata imprealisme tidak lagi bernyali yakni munculnya negara-negara baru di Asia maupun Afrika bahkan Amerika Latin yang berhasil melawan imprealisme dengan semangat nasionalisme.
Dengan semakin banyaknya negara-negara yang merdeka, maka struktur PBB yang didominasi kekuatan Barat oleh Soekarno dianggap tidak lagi ideal.
Maka, sudah seharusnya PBB mengakomodir lebih jauh partisipasi negara-negara dunia ketiga yang banyak muncul tersebut.
Presiden Soekarno juga tidak segan mengutuk segala bentuk penjajahan, kołonialisme, dan imperialisme. Ia secara lantang memperkenalkan konsep Pancasila di depan para petinggi bangsa-bangsa dunia, Soekarno dengan yakin dan berbangga dengan konsep Pancasila yang dibangun sendiri dari nilai-nilal luhur bangsa Indonesia.
Soekarno juga turut menyangkal pendapat seorang filosof Inggris, Bertrand Russel, yang membagi dunia ke dalam dua poros ajaran.
"Maafkan, Lord Russell. Saya kira Tuan melupakan adanya lebih daripada seribu juta rakyat, rakyat Asia dan Afrika, dan mungkin pula rakyat-rakyat Amerika Latin, yang tidak menganut ajaran Manifesto Komunis ataupun Declaration of Independence."
Selanjutnya, Bung Karno katakan bahwa Indonesia tidak dipimpin oleh kedua paham itu; tidak mengikuti konsep liberal maupun komunis.
Baca juga: Ganjar Pranowo Turunan Sunan Kalijaga? Cek Kebenaran Silsilah Keluarga Capres PDIP di Pilpres 2024
Bung Karno mengusulkan ideologi Pancasila untuk mengubah struktur PBB yang ada berlandaskan Ketuhanan, Kemanusiaan, Nasionalisme, hingga musyawarah.
Ternyata di balik pidato Bung Karno yang mengguncang dunia terdapat sisi menarik.
Translator bahasa Inggris yang dimiliki Presiden Soekarno ini ternyata berasal dari Australia bernama Molly Bondan.
Wanita yang bernama Molly Bondan itu memiliki nama asli Molly Warner.
Ia menikah dengan pria warga negara Indonesia bernama Muhammad Bondan di Brisbane, Australia, ketika berkampanye dengan warga Australia untuk mendukung kemerdekaan Indonesia.
Molly bekerja di Departemen Luar Negeri periode 1961-1965. Molly banyak menulis teks pidato berbahasa Inggris untuk Presiden Soekarno.
Salah satunya teks pidato untuk sidang umum di PBB tanggal 30 September 1960.
Baca juga: Prabowo Subianto Masih di Hati Jokowi, Meski PDIP Paksa Dukung Ganjar Pranowo di Pilpres 2024?
Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta penuh dengan kader dan simpatisan dari seluruh perwakilan daerah yang ada di Indonesia mulai dari Sabang sampai Merauke, Sabtu (24/6/2023).
Ratusan ribu simpatisan dan kader Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan antusias mengikuti Bulan Bung Karno di bulan Juni setiap tahunnya.
Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarno Putri menyapa dan membakar semangat seluruh simpatisan dan kader yang hadir.
"Perintah Konsitusi bahwa fakir miskin dan anak terlantar dipelihara sehingga PDI Perjuangan dapat menang kembali," ujar Ketum PDI Perjuangan Megawari Seokarno Putri.
Isi Pasal 34 UUD 1945 ayat (1) Fakir miskin dan anak-anak yang terlantar dipelihara oleh negara.
PDI Perjuangan menggerakan kader untuk membantu penanganan stunting hingga daerah.
Kata Megawati, rakyat itu gampang ditemui, tanya kesulitan warga, rangkul anak-anak mereka, makanya harus turun dan temui masyarakat.
Selanjutnya, Megawati tanyakan seluruh simpatisan yang hadir di Stadion Gelora Bung Karno agar wajib memenangkan Capres PDI Perjuangan yakni Ganjar Pranowo. (*)
Artikel ini telah tayang di Tribun-Papua.com dengan judul Megawati Sapa dan Bakar Semangat Ratusan Ribu Simpatisan dan Kader PDI Perjuangan
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Artikel ini telah tayang di Tribun-Medan.com dengan judul PIDATO Soekarno Menggetarkan Dunia Dalam Sidang Majelis Umum PBB Tahun 1960
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/Momen-HUT-ke-50-PDIP-Megawati-Ungkap-Kisah-Lama-dari-Julukan-Ratu-Preman-hingga-Semut-Merah.jpg)