Video Viral
Ukraina Ngemis Bantuan Sistem Pertahanan Udara Jerman, Kewalahan Hadapi Drone Rusia
Ukraina ngemis bantuan sistem pertahanan udara Jerman, kewalahan hadapi drone Rusia
Penulis: Rafan Arif Dwinanto | Editor: Djohan Nur
TRIBUNKALTIM.CO - Ukraina mendesak Jerman untuk mengirimkan sistem pertahanan udara Gepard yang lebih banyak.
Pasalnya, senjata itu diklaim mampu melawan drone lancet Rusia.
Ukraina kini menganggap lancet Rusia sebagai ancaman perang baru karena telah menghancurkan peralatan militernya.
Dilansir dari Tribunnews.com, Menteri Pertahanan Ukraina Yusy Sak mengatakan, sistem pertahanan udara Gepard dilengkapi dengan senjata anti-pesawat.
Sejak perang dimulai, Ukraina baru menerima 16 Gepard dari total 45 unit yang dijanjikan.
Menurut rencana, seluruh sistem pertahanan udara itu akan selesai dikirim pada akhir tahun ini.
"Mereka (Gepard) dapat bergerak dengan cepat dan mereka memiliki radar yang bagus yang dapat diintegrasikan ke dalam jalur tersebut," kata Sak, dikutip dari RT, Minggu (2/7).
Selain Gepard, drone lancet Rusia juga dapat dinetralkan melalui peperangan elektronik.
Hanya saja, Ukraina masih kekurangan sistem anti-drone untuk bisa digunakan.
Sak pun berharap NATO dan sekutunya segera memberikan sistem tersebut kepada negaranya.
Sebagai informasi, drone lancet Rusia mampu membawa hingga tiga kilogram bahan peledak.
Selain itu juga mampu bermanuver dengan gesit saat mengudara.
Faktor-faktor ini menjadikan drone lancet sebagai ancaman besar bagi artileri Ukraina.
Sebelumnya, Rusia melancarkan serangan drone di Kyiv pada Minggu (2/7/2023) dini hari.
Ini menandai situasi perang yang makin panas antara Rusia vs Ukraina.
Serangan ini merupakan yang pertama sejak jeda selama 12 hari.
"Serangan musuh lainnya terjadi di Kyiv," kata Serhiy Popko Kolonel Jenderal Ukraina yang mengepalai administrasi militer Kyiv di Telegram, dilansir dari Tribunnews.com.
"Saat ini, belum ada informasi mengenai kemungkinan korban jiwa atau kerusakan," lanjutnya.
Sementara itu, Militer Ukraina melaporkan bentrokan sengit di garis depan Donetsk, di mana Rusia disebut telah mengumpulkan pasukan dan berusaha untuk maju.
Bakhmut, Lyman, dan Marina adalah tiga daerah terpanas selama pertempuran di Donetsk.
Sementara itu, pejabat Donetsk melaporkan ada tiga warga sipil tewas dan 17 lainnya luka-luka oleh penembakan Rusia pada Sabtu (1/7/2023) malam.
Sebelumnya, Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, mengatakan ancaman serius saat ini masih berada di sekitar Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Zaporizhzhia.
Zelensky menilai, Rusia secara teoritis siap untuk memprovokasi ledakan lokal di fasilitas nuklir itu.
Sementara itu, ia dan komando militer utama Ukraina mengadakan pertemuan dengan pejabat energi atom di salah satu pembangkit nuklir utama Ukraina di Rivne, untuk membahas keamanan wilayah utara Ukraina.
Sebelumnya, Presiden Rusia Vladimir Putin mengisyaratkan akan menyerang Kyiv untuk kedua kali setelah gagal dikesempatan pertama invasi.
Terbaru, pasukan Rusia melancarkan serangan drone besar-besaran di Kyiv dan menyerang daerah lainnya, kata Ukraina pada Selasa (20/6/2023) pagi.
Serangan itu adalah serangan pertama di Kyiv dalam 18 hari yang menggunakan drone peledak Shahed buatan Iran.
“Menurut taktik biasa untuk serangan UAV (Unmanned Aerial Vehicle) massal, drone memasuki ibu kota secara bergelombang, datang dari arah berbeda-beda.
Peringatan udara berlangsung lebih dari tiga jam,” lanjutnya di Telegram.
Hampir dua lusin target musuh terdeteksi dan dihancurkan oleh pasukan serta pertahanan udara kami di wilayah udara sekitar Kyiv. (*)