Video Viral
Perang Rusia vs Ukraina Kian Mematikan, Jerman, Perancis, AS Pasok Senjata Canggih
Perang Rusia vs Ukraina kian mematikan, Jerman, Perancis, Amerika Serikat pasok senjata canggih
Penulis: Rafan Arif Dwinanto | Editor: Faizal Amir
TRIBUNKALTIM.CO - Situasi perang Rusia vs Ukraina dipastikan akan makin sengit dan mematikan.
Amerika Serikat, Perancis dan Jerman tak henti memasok senjata canggih untuk membantu Ukraina.
Dilansir dari Kompas.com, Perancis akan memberi Ukraina rudal jelajah jarak jauh SCALP untuk membantu pasukan Kyiv dalam mempertahankan posisinya dari serangan pasukan Rusia.
Hal itu disampaikan langsung oleh Presiden Emmanuel Macron saat hadir dalam KTT NATO di Vilnius, Lituania, pada Selasa (11/7/2023).
Sebelumnya, Ukraina pernah menerima rudal itu dari Inggris.
London menyebut rudal tersebut dengan nama "Storm Shadow".
Macron menyampaikan, pengiriman rudal baru ini dirancang untuk memungkinkan Ukraina menyerang pasukan Rusia secara mendalam selama serangan balasan guna membebaskan wilayahnya.
SCALP/Storm Shadow adalah senjata Inggris-Perancis yang mampu menyasar target jangkauan 250 kilometer.
Inggris mengumumkan pada Mei bahwa mereka akan memasok sejumlah senjata canggih tersebut.
Rusia saat itu menanggapi rencana Inggris dengan kemarahan. Rusia memperingatkan bahwa London berisiko terseret langsung ke dalam konflik, dan bahkan beberapa sekutu Barat khawatir Kyiv dapat melakukan serangan ke wilayah Rusia.
Namun, Macron menyiratkan bahwa Ukraina telah berjanji untuk tidak menggunakan SCALP terhadap target-target semacam itu.
"Senjata-senjata tersebut telah diberikan sesuai dengan doktrin kami, yaitu mengizinkan Ukraina untuk mempertahankan wilayahnya sendiri," jelas dia, sebagaimana dikutip dari AFP.
Sementara itu, Jerman kali ini menjanjikan bantuan militer senilai 700 juta euro (sekitar Rp11,7 triliun) kepada Kyiv pada di KTT NATO.
Jerman tercatat menjadi pemasok senjata terbesar kedua Ukraina untuk melawan invasi Rusia.
Menteri Pertahanan Jerman Boris Pistorius mengatakan pada pertemuan di Vilnius bahwa paket bantuan baru ini akan memenuhi kebutuhan prioritas Ukraina, yakni pertahanan udara, tank, artileri.
Bantuan baru kali ini di antaranya mencakup dua peluncur sistem rudal Patriot, 40 kendaraan tempur infanteri Marder, 25 tank Leopard 1, serta 20.000 peluru artileri dan 5.000 amunisi asap.
Dalam sebuah pernyataan, Kementerian Pertahanan Jerman mengatakan, mereka juga akan mengirimkan "paket ekstensif" untuk pengintaian dan pertahanan drone, sistem drone Luna, dan dua pesawat angkut militer.
Dewan Keamanan Nasional Gedung Putih, John Kirby, Amerika Serikat kini setuju untuk mengirim bom tandan ke Ukraina.
Dalam acara This Week di TV ABC, ia menambahkan,
“Kami akan mengirim peluru artileri tambahan yang di dalamnya terdapat bom tandan untuk membantu menjembatani kesenjangan sementara kami meningkatkan produksi normal 155 peluru artileri.”
Pemerintah Rusia, yang dituduh menggunakan bom tandan di daerah perkotaan Ukraina, mengecam langkah tersebut.
Aktivis hak asasi manusia menggarisbawahi bahaya yang ditimbulkan bom tandan bagi warga sipil.
Anggota DPR dari fraksi Demokrat, Barbara Lee, dalam wawancara di TV CNN menyampaikan keprihatinan serupa.
“Bom-bom itu tidak selalu langsung meledak. Anak-anak bisa menginjaknya. Itulah garis yang tidak boleh kita lewati.” (*)