Video Viral
Rusia Ledakkan Pangkalan Udara Ukraina, Cegah Rudal Inggris dan Prancis Digunakan
Rusia ledakkan pangkalan udara Ukraina, cegah rudal Inggris dan Prancis digunakan
Penulis: Rafan Arif Dwinanto | Editor: Sandrio
TRIBUNKALTIM.CO - Tentara Rusia dilaporkan mulai menyerang lapangan udara Ukraina untuk mencegah peluncuran rudal jarak jauh yang dimiliki Ukraina.
Dilansir dari Tribunnews.com, secara teratur, militer Rusia disebutkan menembaki pangkalan udara, landasan pacu, dan pusat pelatihan pilot Ukraina untuk mencegah peluncuran rudal Storm Shadow Inggris dan SCALP Prancis.
Lansiran Financial Times, mengutip pihak yang mengetahui rencana tersebut, Rusia sudah meluncurkan puluhan rudal ke pangkalan militer Ukraina.
"Menurut mereka, pada 15 Agustus saja, Rusia menembakkan 28 rudal jelajah ke sasaran militer yang terletak 1.000 kilometer dari garis depan.
Pada saat yang sama, 16 rudal pertahanan udara Ukraina dicegat," tulis laporan tersebut.
Tujuan tentara Rusia adalah menghancurkan landasan pacu dan menghancurkan armada pembom Ukraina yang mampu meluncurkan rudal jarak jauh.
Untuk menghindarinya, Ukraina harus memindahkan dan mengangkut senjata penting serta personel penerbang mereka yang memenuhi syarat ke lokasi lain.
"Karena itu, pilot Ukraina terus-menerus terbang ke lusinan pangkalan udara dan bandara komersial," kata pejabat di Kyiv.
Jenderal Ben Hodges, mantan kepala Angkatan Darat AS di Eropa, menjelaskan peningkatan serangan Rusia dilakukan agar Ukraina tidak bisa mengembangkan rencana counter-offensive mereka melalui serangan udara.
Baca juga: Klaim Rusia Terbukti, CIA Juga Sebut Serangan Balasan Ukraina Bakal Gagal Total
Serangan balasan tersebut diketahui sudah dilancarkan Ukraina sejak Juni silam.
Secara spesifik, Ben Hodges menyebut Rusia mengetahui kalau Ukraina mengincar fasilitas-fasilitas militer di Krimea, wilayah pendudukan Rusia yang dianeksasi pada 2014 silam.
"Rusia sangat ingin memastikan Ukraina tidak mendapatkan kesempatan untuk melancarkan serangan terhadap pangkalan di Krimea," katanya.
Sementara itu, Menteri Pertahanan Rusia Sergei Shoigu pada Selasa (15/8/2023) mengeklaim bahwa sumber daya militer Ukraina hampir habis.
Dilansir dari Kompas.com, Shoigu berbicara di Konferensi Moskwa tentang Keamanan Internasional.
Rusia mengundang perwakilan lebih dari 100 negara, tetapi negara-negara Barat dikecualikan.
"Meskipun mendapat bantuan komprehensif dari Barat, angkatan bersenjata Ukraina tidak dapat mencapai hasil," kata Shoigu dalam konferensi keamanan di Moskwa, dikutip dari kantor berita AFP.
"Hasil awal pertempuran menunjukkan bahwa sumber daya militer Ukraina hampir habis," lanjutnya.
Dia menambahkan, tidak ada yang unik tentang senjata Barat dan persenjataan NATO cs tersebut tidak kebal terhadap senjata Rusia di medan perang.
Sesuai perkiraan sejak lama, Ukraina memulai serangan balasan pada Juni 2023.
Namun, pasukan Kyiv mengakui pertempuran berjalan sulit bersusah payah menembus posisi Rusia yang dijaga ketat.
Saat Ukraina mengeklaim kemajuan di sekitar kota Bakhmut, Rusia menyatakan progres di sekitar kota Kupiansk, timur laut Kharkiv. (*)