Sejarah
Sejarah 31 Maret: Kapan Perayaan Paskah, Sejarah dan Maknanya
Inilah informasi dan penjelasan terkait sejarah 31 Maret yaitu perayaan Paskah, sejarah dan maknanya.
Penulis: Tribun Kaltim | Editor: Dzakkyah Putri
TRIBUNKALTIM.CO - Inilah informasi dan penjelasan terkait sejarah 31 Maret yaitu perayaan Paskah, sejarah dan maknanya
Setiap tahun, di berbagai penjuru dunia, umat Kristen merayakan Paskah dengan sukacita dan kegembiraan.
Namun, di balik kegembiraan festivitas ini, terdapat sebuah kisah mendalam yang memikat tentang sejarah dan makna bagi kehidupan iman mereka.
Paskah bukan sekadar sebuah perayaan, melainkan juga sebuah cerminan dari keyakinan akan kemenangan atas kematian dan penebusan dosa melalui Yesus Kristus.
Asal usul Paskah membawa kita pada akar-akar yang dalam.
Baca juga: 20 Link Twibbon Hari Paskah, Easter Day yang Dapat Digunakan Menarik dan Bisa Langsung Upload!
Baca juga: Dua Hati Biru, Sekuel Dua Garis Biru Kapan Tayang? Sinopsis Dan Pemerannya
Baca juga: Film Siksa Kubur 2024 Karya Joko Anwar Kapan Tayang? Sinopsis dan Daftar Pemain
Dari bahasa Latin "Pascha" dan bahasa Yunani "Pascha", Paskah menjadi perayaan utama dalam agama Kristen.
Namun, sejarah Paskah telah merambah jauh sebelumnya, diwariskan dari tradisi Yahudi Pesakh, yang merayakan pembebasan bangsa Israel dari perbudakan di Mesir kuno.
Pentingnya Paskah bagi umat Kristen tidak dapat dipisahkan dari kisah penderitaan dan kebangkitan Yesus Kristus.
Pada Jumat Agung, umat Kristen mengenang penderitaan Kristus, ketika Ia disalibkan di Bukit Golgota sebagai korban penebus dosa.
Namun, cerita tersebut tidak berakhir di sana.
Tiga hari kemudian, pada Hari Paskah, Yesus bangkit dari kematian, menegaskan kemenangannya atas dosa dan kematian.
Bagi umat Kristen, Paskah bukan sekadar sebuah peringatan sejarah, tetapi juga sebuah perayaan kehadiran Kristus dalam kehidupan mereka saat ini.
Melalui perayaan Paskah, mereka mengalami kembali kehadiran Kristus, membawa sukacita dan pengharapan yang abadi dalam kehidupan mereka.
Tradisi perayaan Paskah bervariasi di berbagai belahan dunia.
Mulai dari ibadah gereja yang meriah hingga pesta keluarga yang penuh sukacita, Paskah menjadi momen untuk bersatu dalam iman dan merayakan kasih karunia Allah yang melimpah.
Meskipun perayaan Paskah dilakukan setiap tahun dengan cara yang berbeda, satu hal yang pasti: Paskah adalah panggilan untuk hidup dalam cahaya Kristus, mengikuti jejak-Nya dalam pengampunan dan kasih.
Sebagai perayaan yang penuh dengan makna dan harapan, Paskah mengajarkan mereka untuk tidak hanya merayakannya dalam satu hari, tetapi juga menjadikannya sebagai landasan bagi kehidupan sehari-hari.
Setiap langkah mereka menjadi perayaan akan kemenangan yang telah diberikan oleh Yesus Kristus.
Dengan demikian, setiap napas yang mereka hembuskan menjadi nyanyian syukur akan kasih-Nya yang tiada tara, mengingat dan merayakan kemenangan yang telah diberikan oleh Kristus dalam Paskah.
Sejarah Telur Paskah
Dilansir dari TIME, telur paskah pertama kali muncul pada abad pertengahan di Eropa.
Tradisi ini diyakini bukan berasal dari umat Kristiani.
Profesor Sejarah dan Direktur Program Studi Abad Pertengahan dan Renaissance di Universitas Nebraska Carole Levin mengatakan, banyak pakar yang menyakini bahwa telur paskah berasal dari festival Anglo-saxon yang dirayakan bersamaan dengan Hari Paskah.
Festival Anglo-saxon adalah perayaan Dewi Eastre yang diperingati tiap musim semi.
"Telur adalah bagian dari perayaan Eastre. Rupanya telur dimakan di festival dan mungkin juga dikubur di dalam tanah untuk mendorong kesuburan," ucapnya.
Tradisi Telur Paskah
Dikutip dari History, telur paskah sudah ada sejak abad ke-13.
Saat itu, telur merupakan makanan terlarang sebelum masa prapaskah.
Selama prapaskah, umat Kristiani harus menjalankan puasa sehingga tidak boleh mengonsumsi daging atau produk hewani apa pun, termasuk telur, keju, susu, atau krim.
Oleh sebab itu, masyarakat menghiasi telur untuk menandai akhir periode penebusan dosa dan puasa.
Adapun melukis telur paskah menjadi tradisi yang sering dilakukan di gereja ortodoks dan Katolik Timur.
Mereka akan mewarnai telur dengan cat merah sebagai simbol darah Yesus Kristus yang ditumpahkan di kayu salib. Tradisi ini terus berlanjut hingga ke negara-negara sekuler modern, salah satunya Amerika Serikat. (*)
Ikuti Saluran WhatsApp Tribun Kaltim dan Google News Tribun Kaltim untuk pembaruan lebih lanjut tentang berita populer lainnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/ucapan-selamat-paskah-2021_03042021_3.jpg)