Perang Rusia vs Ukraina
Kiev Tolak 2 Syarat Berat dari Putin, Perang Rusia vs Ukraina Dipastikan Terus Berlanjut
Kiev tolak 2 syarat berat dari Vladimir Putin, perang Rusia vs Ukraina dipastikan terus berlanjut
Penulis: Rafan Arif Dwinanto | Editor: Amalia Husnul A
TRIBUNKALTIM.CO - Pertemuran sengit antara Rusia vs Ukraina masih terus berlangsung.
Terbaru, Vladimir Putin setuju menangguhkan perang alias gencatan senjata dengan syarat.
Diketahui, perang Rusia vs Ukraina berlangsung mulai Februari 2022.
Vladimir Putin mengajukan 2 syarat kepada Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky.
Syarat pertama, Ukraina harus melepaskan empat wilayah yang diduduki Moskow yakni Republik Rakyat Donetsk, Republik Rakyat Lugansk, wilayah Kherson dan Zaporizhzhia.
Baca juga: Spekulasi Israel di Balik Jatuhnya Helikopter Presiden Iran? Rusia Kirim 47 Spesialis Penyelamat
Putin juga menuntut agar Ukraina mengakui empat kota di atas sebagai wilayah Rusia berdasarkan perjanjian internasional.
Tak hanya itu mengutip laporan Washington Post, dalam proposalnya Putin mendesak Ukraina untuk membatalkan niatnya bergabung menjadi anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO).
Apabila pemerintahan Zelenskyy yang ada di Kiev menyetujui dua syarat tersebut, Putin berjanji pihaknya bakal segera memulai perundingan damai dan mengakhiri serangannya di Ukraina.
Pemimpin Rusia itu mengatakan dia tidak mengesampingkan mempertahankan kedaulatan Ukraina atas wilayah selatan Kherson dan Zaporizhzhia dengan syarat Rusia memiliki hubungan darat yang kuat dengan Krimea.
“Hari ini kami membuat proposal perdamaian yang konkrit dan nyata,” kata Putin, saat berbicara pada malam pertemuan puncak perdamaian besar di Swiss, yang diatur oleh Ukraina dan sekutunya.
“Segera setelah Kyiv menyatakan siap mengambil keputusan ini, mulai menarik pasukannya dari kawasan tersebut dan secara resmi menyatakan pembatalan rencananya untuk bergabung dengan NATO, kami akan segera, pada saat itu juga, memerintahkan gencatan senjata dan memulai negosiasi,” imbuh Putin.
Baca juga: Vladimir Putin Dilantik sebagai Presiden Rusia untuk Periode Kelima, Amerika Serikat Cs Memboikot
Ukraina Tolak Syarat Damai Putin
Sementara itu merespon permintaan yang diajukan Putin, Ukraina menolak keras usulan Rusia.
Pejabat pemerintahan Kiev menegaskan pihaknya hanya akan menyetujui perdamaian jika Rusia menarik diri sepenuhnya dari wilayahnya yang diakui secara internasional, termasuk Krimea.
Kementerian Luar Negeri Ukraina menyebut rencana Putin “manipulatif”, “tidak masuk akal” dan dirancang untuk “menyesatkan komunitas internasional.
Lantaran syarat yang diajukan Putin hanya melemahkan upaya diplomatik yang bertujuan mencapai perdamaian yang adil, dan memecah kesatuan mayoritas dunia berdasarkan tujuan dan prinsip Piagam PBB.
Hal senada juga dilontarkan Mykhailo Podolyak, penasihat Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky dalam cuitannya di X ia menyatakan usulan Putin adalah ‘standar agresor’, yang sudah sering terdengar.”
“Tidak ada hal baru dalam hal ini, tidak ada usulan perdamaian nyata dan tidak ada keinginan untuk mengakhiri perang.
Namun ada keinginan untuk tidak membayar perang ini dan melanjutkannya dalam format baru.
Itu semua palsu,” tulis Podolyak di X.
Para pendukung Ukraina dari Barat juga mengecam Rusia atas usulan tersebut.
Di akhir pertemuan NATO di Brussels, Menteri Pertahanan AS Lloyd Austin menentang keras permintaan damai Putin.
Ia menganggap usulan Putin yang meminta Ukraina melepaskan Republik Rakyat Donetsk, Republik Rakyat Lugansk, wilayah Kherson dan Zaporizhzhia. adalah tindakan ilegal.
“Dia tidak berhak mendikte Ukraina tentang apa yang harus mereka lakukan untuk mewujudkan perdamaian, Putin tidak bertindak dengan itikad baik,” ujar Austin.
Baca juga: Perang Dunia III Makin Dekat, Korut dan Rusia Bisa Turun Tangan Jika Amerika Tetap Bantu Israel
Incar Infrastruktur Penting
Serangan Rusia terhadap infrastruktur Ukraina dalam beberapa hari terakhir menyebabkan pemadaman listrik yang parah.
Melansir laman Aljazeera, serangan Rusia terhadap infrastruktur energi Ukraina telah menewaskan dua orang.
Satu orang di wilayah Lviv barat, dan satu orang lagi dalam sebuah serangan di wilayah timur laut, kata para pejabat.
Serangan di Lviv menghancurkan sebuah bangunan dan memicu kebakaran, tulis Gubernur Maksym Kozytskyi di Telegram pada hari Minggu (31/3/2024).
Di wilayah Kharkiv, Gubernur Oleh Syniehubov mengatakan bahwa sebuah serangan udara menewaskan seorang pria berusia 19 tahun setelah sebuah proyektil menghantam sebuah pom bensin.
Sementara itu, ratusan ribu orang di wilayah Odesa, Ukraina, tidak mendapatkan aliran listrik setelah puing-puing pesawat tak berawak Rusia yang jatuh menyebabkan kebakaran di sebuah fasilitas energi, kata Gubernur Oleh Kiper.
Operator listrik swasta terbesar di Ukraina, DTEK, mengatakan bahwa 170.000 rumah mengalami pemadaman listrik akibat serangan tersebut.
Angkatan udara Ukraina mengatakan bahwa mereka menembak jatuh sembilan dari 11 pesawat tak berawak yang diluncurkan oleh Rusia dalam semalam, dan juga sembilan dari 14 rudal jelajah.
DTEK mengatakan bahwa lima dari enam pembangkit listriknya telah rusak, dengan 80 persen dari kapasitas pembangkitnya hilang, menurut Charles Stratford dari Al Jazeera, yang melaporkan dari ibukota Ukraina, Kyiv.
DTEK memasok sekitar seperempat dari negara itu dengan listrik dan perbaikannya bisa memakan waktu hingga 18 bulan, kata Stratford.
"Namun, enam pembangkit listrik tersebut hanyalah setetes air di lautan dalam kaitannya dengan pembangkit listrik lainnya, fasilitas energi yang telah dihantam oleh Rusia dalam beberapa minggu terakhir," katanya.
Baca juga: ISIS Hanya Kambing Hitam, 3 Negara Disebut Dalang Serangan Teroris di Moskow oleh Intelijen Rusia
Rusia telah meningkatkan serangan terhadap infrastruktur energi Ukraina dalam beberapa hari terakhir, menyebabkan kerusakan yang signifikan di beberapa wilayah.
Perusahaan energi Ukraina, Centrenergo, mengatakan pada hari Sabtu bahwa Pembangkit Listrik Tenaga Panas Zmiiv, salah satu yang terbesar di wilayah Kharkiv timur laut, hancur total setelah penembakan Rusia minggu lalu.
Sekitar 120.000 orang di daerah tersebut masih terkena dampak pemadaman listrik, beberapa hari setelah 700.000 orang kehilangan listrik setelah pembangkit listrik tersebut dihantam pada tanggal 22 Maret.
"Serangan-serangan ini, dalam kata-kata Kremlin, adalah balas dendam atas serangan-serangan yang dilakukan Ukraina jauh di dalam wilayah Rusia, yang menargetkan fasilitas-fasilitas energi dan instalasi-instalasi minyak mereka," ujar Stratford dari Al Jazeera.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy, dalam sebuah pesan Paskah pada hari Minggu, mendesak negaranya untuk bertahan.
"Tidak ada siang atau malam saat ini ketika teror Rusia tidak mencoba untuk menghancurkan hidup kita. Tadi malam, kami sekali lagi melihat roket dan Shahed diluncurkan terhadap rakyat kami," katanya.
"Kami mempertahankan diri, kami bertahan; semangat kami tidak menyerah dan tahu bahwa kematian dapat dihindari. Hidup bisa menang," kata Zelenskyy.
Di Rusia, 10 roket Vampire buatan Ceko mendarat di wilayah perbatasan Belgorod pada hari Minggu, kata Kementerian Pertahanan.
Seorang wanita terluka ketika kebakaran terjadi setelah serangan itu, kata Gubernur regional Vyacheslav Gladkov. (*)
Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Jika 2 Syarat Ini Dipenuhi Volodymyr Zelenskyy, Putin Janji Bakal Akhiri Perang di Ukraina
Ikuti berita populer lainnya di Google News Tribun Kaltim
Ikuti berita populer lainnya di saluran WhatsApp Tribun Kaltim
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/Ukraina-pamerkan-puluhan-tank-Rusia-yang-dihancurkan.jpg)