Kamis, 7 Mei 2026

Pilkada Jabar 2024

Diprediksi Sengit! Ini Duet Penantang Terbaik Bila RK dan Dedi Mulyadi bersatu di Pilkada Jabar 2024

Sejumlah bakal calon gubernur terkuak dan pasangan paling pas untuk Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Jabar 2024 terus bemunculan.

Tayang:
Editor: Doan Pardede
Kolase TribunKaltim.co Sumber foto: TribunJabar.ID
PILKADA JABAR 2024 - Searah jarum jam: Ridwan Kamil, Dedi Mulyadi, Rudy Gunawan, dan Dada Rosada. 

TRIBUNKALTIM.CO - Sejumlah bakal calon gubernur terkuak dan pasangan paling pas untuk Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Jabar 2024 terus bemunculan.

Sejauh ini, ada 2 nama yang selalu menduduki peringkat teratas di berbagai survei, yakni Ridwan Kamil, dan Dedi Mulyadi

Pengamat politik memprediksi, jika Dedi Mulyadi dipasangkan dengan Ridwan Kamil di Pilgub Jabar 2024, maka potensi menang akan sangat besar.

Pasangan Ridwan Kamil - Dedi Mulyadi bisa menang mulus di kontestasi Pilkada 2024.

Baca juga: Sekjen PDIP Jelaskan Alasan Puan sebut Kaesang Dipertimbangkan di Pilkada Jateng 2024

Lantas siapa pasangan kuat yang patut menjadi saingan dari Ridwan Kamil - Dedi Mulyadi.

Pengamat politik dari Universitas Katolik Parahyangan, Kristian Widya Wicaksono melihat partai Golkar sebagai partai politik yang sudah malang melintang sejak Orde Baru (Orba) di belantika politik Nusantara.

Sehingga sangat wajar jika Golkar kembali optimis memasang target dukungan 60 persen lebih dalam pilkada Jabar.

"Jika bercermin dari kinerja raihan suara pileg 2024 yang sentuh angka 4,2 juta lebih, raihan ini hampir samai suara yang diperoleh pada 1999, yakni 4,7 juta.

Meski tentu masih jauh dari masa kejayaannya Golkar pada 2004 yang raih 5,7 juta suara di Jabar.

Tapi, tetap secara faktual Golkar saat ini sudah membuktikan dominasinya di Jabar," katanya saat dihubungi, Selasa (7/5/2024)

Golkar pun bila menargetkan di pilkada Jabar, maka yang harus diperhitungkan tetap level popularitas dan elektabilitas calon yang bakal diusung.

Pasalnya, kata Kristian, fokus pemilih tetap akan terfokus pada calon bukan parpol pengusung.

PILKADA JABAR 2024 - Ridwan Kamil dan Dedi Mulyadi.
PILKADA JABAR 2024 - Ridwan Kamil dan Dedi Mulyadi. (KOMPAS.com/ADHYASTA DIRGANTARA-Dok Pribadi)

"Jadi, Golkar harus pilih calon tepat untuk diusung dalam pilkada Jabar agar kerja Golkar sebagai mesin kerja politik bisa berjakan optimal," ujarnya.

Saat ini, ksudah mulai beredar sejumlah nama untuk diusung dalam Pilgub Jabar 2024.

Misalnya yang sudah terang-terangan mendeklarasikan diri untuk maju ialah Bima Arya setelah sebelumnya sejumlah tokoh sudah bergerilya, seperti Dedi Mulyadi dan Iwan Bule.

Nama lainnya yang belakangan juga cukup santer disebut potensial menjadi cagub adalah Desy Ratnasari.

Lalu, yang tidak bisa dilupakan tentunya sang petahana Ridwan Kamil yang bisa diprediksikan akan mendominasi survei-survei elektabilitas cagub Jabar.

"Dalam konteks Golkar, berpindahnya Dedi Mulyadi dari Golkar ke Gerindra sudah jelas merupakan sinyalemen, bahwa Dedi Mulyadi ingin memastikan kiprahnya untuk bertarung pada Pilgub Jabar 2024 karena di Golkar ada nama Ridwan Kamil."

"Kalkulasinya, jika RK memang pada akhirnya akan diusung Golkar dalam pilkada Jabar dengan mengandaikan skema koalisi nasional bersama dengan Gerindra maka bisa jadi RK dipasangkan dengan Dedi Mulyadi."

"Jika hal ini yang terjadi, maka pasangan ini akan cukup kuat karena RK merepresentasikan masyarakat kota sedangkan Dedi Mulyadi merepresentasikan pemilih dari desa," katanya.

Tinggal pekerjaan rumahnya adalah menggalang dukungan yang cukup dari kawasan Priangan Timur.

Jika berhasil, maka persentase dukungan 60 persen dalam pilkada Jabar bisa dipenuhi.

Opsi lainnya yang paling memungkinkan adalah Golkar berkoalisi dengan PAN dan mengusung pasangan yang cukup ideal, yaitu RK dan Bima Arya.

Secara popularitas, keduanya cukup dikenal di kalangan pemilih perkotaan."

"Dari sisi pengalaman dan kemampuan memimpin daerah juga keduanya sudah teruji.

Namun, pekerjaan besarnya membangun dukungan dari pemilih di pedesaan serta dari kawasan utara dan timur Jawa Barat."

"Kalkulasinya, akan sulit untuk Golkar mendapatkan 60 persen suara jika pekerjaan rumah ini tidak digarap dengan tuntas.

"Penantang yang paling menarik justru bisa datang dari PKS yang kemungkinan akan mengusung nama Haru Suandharu."

"Kalau saja RK berpasangan dengan Dedi Mulyadi dan Bima Arya kemudian berpasangan dengan Haru Suandharu, maka pertarungannya akan cukup sengit dalam pilkada Jawa Barat dan tarik-menarik dukungan dari PDI-P dan Demokrat ke salah satu pasangan tersebut akan jadi bandul politik yang menarik untuk ditunggu. Tinggal lihat saja, seberapa berkualitas jualan kampanye yang akan ditawarkan kepada publik Jawa Barat," katanya, seperti dilansir Tribun-Timur.com di artikel berjudul Peta Kekuatan Ridwan Kamil, Dedi Mulyadi dan Bima Arya di Pilgub Jabar, Hanya 1 Paslon Terkuat.

Baca juga: Survei Pilkada Palembang 2024, Kabar Ratu Dewa - Prima Salam Segera Deklarasi, Anak Hatta Rajasa?

Hasil survei Indikator Politik Indonesia

Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Indikator Politik Indonesia (IPI), nama Komeng tersebut muncul dalam simulasi survei top of mind.

Sementara itu, nama mantan Gubernur Jawa Barat sekaligus politisi Partai Golkar, Ridwan Kamil jadi tertinggi dalam survei tersebut.

Adapun mantan Bupati Purwakarta sekaligus anggota DPR RI dari Gerindra, Dedi Mulyadi, berada di peringkat kedua dalam survei ini.

Adapun survei tersebut dilakukan pada 20-27 Juni 2024 melibatkan 1.214 responden di Provinsi Jawa Barat berusia 17 tahun ke atas atau sudah menikah. Responden dipilih melalui metode double sampling.

Responden terpilih diwawancarai lewat tatap muka oleh pewawancara yang telah dilatih.

Margin of error dari ukuran sampel tersebut sebesar +/- 2.8 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.

“Secara top of mind, sebanyak 67 persen responden tak bisa menjawab secara spontan yang akan mereka pilih.

Tetapi dua nama terkuat adalah Ridwan Kamil dan Dedi Mulyadi itu pun tidak mencapai 20 persen,” ujar Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia, Burhanuddin Muhtadi dalam rilis daring, Kamis (4/7/2024).

Sementara itu, nama komedian Alfiansyah alias Komeng berada di posisi ketiga dengan elektabilitas 0,8 persen.

Lanjut pada simulasi semi terbuka, kata Burhanuddin hasilnya juga tak jauh berbeda.

“Ridwan Kamil berada di posisi pertama 36,8 persen, peringkat kedua Dedi Mulyadi 31,9 persen,” lanjutnya.

Sementara itu, Alfiansyah alias Komeng tetap berada di posisi ketiga dengan perolehan 5,6 persen disusul Dedi Yusuf 3,0 persen.

“Jadi kalau disodorkan nama-nama, mereka yang tidak punya referensi menjadi punya.

Meskipun mengerucut pada dua nama tertinggi,” jelasnya.

Atas simulasi semi terbuka tersebut, Burhanuddin mengatakan yang sangat berbeda peringkat pertama dan kedua dibandingkan peringkat di bawahnya.

“Per hari ini kita tidak menemukan nama yang lebih kompetitif selain Ridwan Kamil dan Dedi Mulyadi,” ungkapnya.

Adapun alasan responden memilih kedua calon tersebut, dijelaskan Burhanuddin di antaranya karena peduli dengan rakyat, sudah terbukti kinerjanya dan berpengalaman.

“Responden memilih Dedi Mulyadi karena peduli dengan rakyat sebanyak 44.7 persen.

Sementara kekuatan Ridwan Kamil sudah bukti nyata 39,7,” tandasnya.

Baca juga: Akhirnya Sekjen PKS Klarifikasi Soal Jokowi Tawarkan Kaesang ke Parpol Hingga Buat Presiden Bereaksi

1. Ridwan Kamil 16 persen

2. Dedi Mulyadi 11,2 persen

3. Alfiansyah (Komeng) 0,8 persen

4. Ono Surono 0,7 persen

5. Atalia Praratya 0,5 persen

6. Anies Baswedan 0,4 persen

7. Giring 0,4 persen

8. Ilham Akbar Habibie 0,3 persen

9. Ade Yasin 0,3 persen

Sementara itu, Uu Ruzhanul Ulum berada di angka 0,2 persen.

Angka serupa tak jauh beda didapati oleh Dedi Mizwar, Lucky Hakim, Dede Yusuf, Herman Khaeron, Abdul Syakur, M Iriawan (Iwan Bule), Anton Sukartono Suratto, Hartono, Dudung Abdurachman, Helmi, Haru Suandharu, Sudarsono, Heri, Sugih, Dicky Chandra, Syaiful Huda, Ahmad Syaikhu, Dadan Rieke, Diah Pitaloka, Asep, serta Taufik Hidayat.

* Responden tidak menjawab atau tidak tahu 67,2 persen.

Hasil Survei LS Vinus

Elektabilitas Ridwan Kamil di Pilkada Jabar 2024 makin tak terkejar.

Hal ini terungkap dalam survei terbaru yang diriset Lembaga Studi Visi Nusantara (LS Vinus) pada 13-22 Juni 2024.

Hasilnya, terungkap sosok cagub dan cawagub terkuat di Jawa Barat.

Bandingkan pula hasil survei elektabilitas yang dirilis LS Vinus dengan survei lain di Pilkada Jabar 2024.

Survei ini melibatkan 1.600 orang responden di Kabupaten Bogor dengan menggunakan metode cluster random sampling.

Berdasarkan hasil survei, Ridwan Kamil memiliki elektabilitas tertinggi sebesar 29,50 persen.

Posisi kedua ditempati politisi Partai Gerindra Dedi Mulyadi dengan elektabilitas 15,63 persen.

Walikota Bogor 2014-2024, Bima Arya Sugiarto, berada di urutan ketiga dengan elektabilitas 11,75 pesen disusul Dedi Mizwar 6,88 persen serta Dede Yusuf 3,75 persen.

Posisi selanjutnya ditempati Desy Ratnasari 2,56 persen, Mochamad Iriawan 1,56 persen, Achmad Syaikhu 1,31 persen, Ilham Akbar Habibie 0,94 persen dan Ono Surono 0,75 persen.

Sebesar 24,88 persen menjawab tidak tahu dan 0,50 persen tidak menjawab.

Sementara untuk posisi Calon Wakil Gubernur Jawa Barat, Bima Arya berada di urutan pertama dengan elektabilitas 17,63 persen.

Posisi kedua ditempati Dedi Mulyadi dengan elektabilitas 14,0 persen disusul Desy Ratnasari 9,13 persen, Dedi Mizwar 8,56 persen dan Dede Yusuf 7,83 persen.

Selanjutnya ada Ridwan Kamil dengan elektabilitas 3,83 persen, Achmad Syaikhu 1,81 persen, Ono Surono 1,0 persen, Syaiful Huda 0,50 persen dan Ilham Akbar Habibie 0,38 persen.

Sebesar 35,44 persen menjawab tidak tahu dan 0,81 persen tidak menjawab.

Pendiri LS Vinus, Yusfitriadi, mengatakan jumlah responden berbasis kecamatan dan diturunkan ke desa dan kelurahan di Kabupaten Bogor.

"Jumlah responden setiap kecamatan dan kelurahan berbeda disesuaikan dengan jumlah Daftar Pemilih Tetap (DPT)," kata Yusfitriadi di Cibinong, Rabu (3/7/2024) seperti dilansir TribunNewsmaker.com dengan judul Survei Terbaru Elektabilitas Pilgub Jabar 2024, Komeng Melejit Masuk 3 Besar Mendekati Ridwan Kamil .

Sementara teknik pengambilan data dilakukan dengan bertatapan langsung responden memakai metode kontrol dokumentasi.

"Setiap aktivitas mewawancarai responden disertai tag lokasi," jelasnya.

Survei ini memiliki Margin Error 2,5 persen dengan tingkat kepercayaan 95 persen. (*)

Ikuti berita populer lainnya di Google News Tribun Kaltim

Ikuti berita populer lainnya di saluran WhatsApp Tribun Kaltim

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved