Liga Italia

Perjalanan Karir Sven-Goran Eriksson Pelatih Legendaris Lazio Tutup Usia ke-79 Karena Kanker

Sven-Goran Eriksson, manajer sepak bola Swedia karismatik yang menjadi orang asing pertama yang memimpin tim nasional Inggris, meninggal 27/8/2024.

|
Penulis: Dzakkyah Putri | Editor: Amelia Mutia Rachmah
These Football Times
Sven-Goran Eriksson manajer sepak bola Swedia karismatik yang menjadi orang asing pertama yang memimpin tim nasional Inggris, meninggal dunia pada (27/8/2024). 

TRIBUNKALTIM.CO - Kabar duka datang dari dunia sepak bola, yaitu pelatih Lazio legendaris dunia Sven-Goran Eriksson meninggal dunia. 

Sven-Goran Eriksson, manajer sepak bola Swedia karismatik yang menjadi orang asing pertama yang memimpin tim nasional Inggris, meninggal pada hari Senin, 26 Agustus 2024 dalam usia 76 tahun.

Melansir USA Today  Sven-Goran Eriksson meninggal dunia karena kanker pankreas yang ia deritanya sejak Januari lalu.

"Setelah sakit lama, SGE meninggal pada pagi hari di rumah dikelilingi keluarga," kata keluarganya dalam sebuah pernyataan.

Dianggap sebagai manajer Swedia terhebat, Sven-Goran Eriksson memenangkan gelar utama di negara asalnya, Portugal dan Italia sebelum memimpin Inggris dalam tiga turnamen besar pada awal tahun 2000-an.

Baca juga: Kisah Haru Sven-Goran Eriksson dalam Dokumenter Terbarunya, Pesan Terakhir dari Pelatih Legendaris

Setelah menjalani karier bermain yang biasa-biasa saja, ia memperoleh pengakuan internasional dengan membimbing klub Swedia yang kurang populer, IFK Gothenburg, meraih gelar Piala UEFA pada tahun 1982, satu-satunya tim Swedia yang memenangkan trofi Eropa.

Sangat dipengaruhi oleh sepak bola Inggris yang dipuja di Swedia pada tahun 1970-an dan 80-an, Sven-Goran Eriksson menggunakan gaya bermain pragmatis dan formasi 4-4-2 selama sebagian besar karier manajerialnya.

Meskipun cerdik secara taktis, Sven-Goran Eriksson melihat kekuatan terbesarnya sebagai pembangun tim dengan karakter yang tepat.

"Kelompok ini adalah hal yang paling penting.

Bukan hanya para pemain, tetapi juga keluarga mereka. Seluruh klub, termasuk tukang pijat dan staf dapur, kami semua adalah satu kelompok," katanya.

Ketika tiba di Lazio Italia pada tahun 1997, Sven-Goran Eriksson menuntut presiden untuk menjual kapten klub dan pemain bintang Giuseppe Signori karena ia dianggap memberi pengaruh buruk pada grup.

"Ia tidak memiliki sikap yang tepat, ia telah berada di klub tersebut dalam waktu yang lama dan terlalu negatif," kata Sven-Goran Eriksson.

"Sebaliknya, saya merekrut pemain-pemain hebat, seperti (Juan Sebastian) Veron dan (Roberto) Mancini, yang haus akan pengalaman dan profesional."

Para penggemar Lazio marah dengan keputusan tersebut dan menyerbu fasilitas pelatihan.

Kemudian dalam waktu enam bulan Sven-Goran Eriksson berhasil membalikkan suasana dan terus memenangkan tujuh trofi bersama Lazio, termasuk gelar liga Italia kedua bagi klub tersebut.

Karier sebagai manajer Inggris

Sven-Goran Eriksson menjadi manajer tim nasional Inggris pada tahun 2001.

Ketika ditanya bagaimana rasanya menjadi orang non-Inggris pertama yang memimpin tim, pria asal Swedia ini hanya tersenyum dan berkata, "lumayan."

Ia dikenal mampu menerima banyak tekanan dan provokasi media, tetapi jarang memberikan tanggapan yang memicu kontroversi.

Hal ini membantunya saat menghadapi media sepak bola Inggris dan membuatnya disukai oleh para pemainnya.

Sembilan bulan setelah ia bergabung, kemenangan besar Inggris 5-1 melawan Jerman di kualifikasi Piala Dunia menghapus semua keraguan tentang keputusan menunjuknya sebagai manajer.

Sven-Goran Eriksson melatih generasi pemain hebat seperti David Beckham, Paul Scholes, Frank Lampard, Wayne Rooney, dan Steven Gerrard.

Di bawah arahannya, Inggris berhasil lolos ke Piala Dunia 2002, tetapi kalah di perempat final dari Brasil yang akhirnya menjadi juara.

Inggris juga lolos ke Kejuaraan Eropa 2004 dan Piala Dunia 2006, tetapi lagi-lagi harus tersingkir di perempat final setelah kalah adu penalti melawan Portugal.

Seiring berjalannya waktu, hubungan Sven-Goran Eriksson dengan media mulai memburuk.

Kehidupan pribadinya yang penuh gejolak menjadi berita besar, dan ia bahkan tertangkap dalam operasi penyamaran saat mengatakan bahwa ia mungkin akan meninggalkan Inggris untuk melatih Aston Villa sebelum Piala Dunia 2006.

Pada Januari, Sven-Goran Eriksson mengungkapkan bahwa ia menderita kanker pankreas stadium akhir. Meskipun demikian, ia mendapat sambutan hangat di berbagai stadion klub yang pernah ia latih. Ia bahkan sempat melatih Liverpool dalam pertandingan amal, sesuatu yang sudah lama menjadi impiannya.

David Beckham, yang pernah menjadi kapten di bawah kepemimpinan Sven-Goran Eriksson, mengunjunginya di Swedia, sementara banyak mantan pemainnya mengirimkan pesan dukungan.

Wayne Rooney menyebut Sven-Goran Eriksson sebagai "pelatih paling manusiawi" yang pernah ia miliki, dalam sebuah dokumenter yang mengisahkan perjalanan hidup Sven-Goran Eriksson. (*)

Ikuti berita populer lainnya di Google NewsChannel WA, dan Telegram.

Sumber: Tribun Kaltim
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved