Tribun Kaltim Hari Ini
Berau Kaltim Diguncang Gempa Akibat Sesar Mangkalihat, Warga Panik Berlarian
Kepanikan warga Kampung Batu Putih, Kecamatan Batu Putih, Kabupaten Berau mulai mereda, Senin (16/9).
TRIBUNKALTIM.CO - Kepanikan warga Kampung Batu Putih, Kecamatan Batu Putih, Kabupaten Berau mulai mereda, Senin (16/9).
Pada Minggu (15/9) malam, warga sempat berlarian untuk mengungsi akibat gempa yang terasa di kawasan tersebut.
Berdasarkan informasi dari BMKG Berau, gempa bumi pertama terjadi pada pukul 19.28.55 WITA dengan kekuatan Magnitudo 4,1.
Adapun untuk gempa bumi kedua terjadi pada pukul 21.08.09 Wita dengan kekuatan magnitudo 5,6.
Baca juga: Gempa Berau Magnitudo 5.6, Daftar 3 Sesar dan Sejarah Gempa Kaltim, Ada Tsunami 1 Meter Sangkulirang
Titiknya berada di Berau wilayah Kecamatan Batu Putih.
Akibat gempa tersebut, sempat membuat masyarakat di Kampung Batu Putih panik dan mengungsi ke
dataran lebih tinggi.
Peristiwa itu dibenarkan Kepala Kampung Batu Putih, Krisdiyanto.
Menurutnya warganya yang berada di bagian Logpond atau di kawasan RT 1 dan RT 6, sempat melarikan diri mencari lokasi aman saat merasakan adanya gempa.
“Karena guncangannya sangat terasa. Tapi sekarang sudah kami imbau agar tetap tenang tapi tetap waspada,” katanya kepada Tribunkaltim.co, Senin (16/9).
Sementara itu, Camat Batu Putih, Wahyudi, mengatakan sebagian warga yang panik mengungsi ke rumah
kerabatnya di bagian dataran tinggi Batu Putih.
Kendati demikian, warga yang sempat “melarikan” diri ke rumah keluarga, sudah ada yang kembali ke rumahnya.
“Informasi terbaru, banyak yang sudah kembali ke rumahnya di tepi pantai,” jelasnya.
Tim dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Berau yang bertugas di Kecamatan Batu Putih,
Hendri, mengatakan pihaknya masih melakukan pengawasan dan memantau situasi dan kondisi perairan
di ujung Logpond atau Dermaga Batu Putih.
Pada Minggu malam, ia mengakui warga di Batu Putih pergi keluar rumah karena panik.
Ia juga menginformasikan, tidak ada bangunan yang mengalami kerusakan akibat gempa yang terjadi
mengguncang Kecamatan Batu Putih.
“Sejak semalam belum ada,” katanya.
Salah satu warga Pesisir Talisayan yakni Hilda mengatakan Ia dan keluarganya merasakan gempa
sebanyak dua kali.
“Yang sangat terasa adalah gempa yang kedua, rumah saya kayu dan terasa sekali.
Baru ini merasakan gempa yang sekuat ini,” tegasnya, Mimgu (15/9).
Hingga ke Kaltara
Sementara itu, Kepala BMKG Berau Ade Haryanto mengatakan, untuk gempa pertama tercatat di wilayah
Kecamatan Batu Putih.
Episenter gempa bumi terletak pada koordinat 1.33 LU dan 118.44 BT, atau tepatnya berlokasi 143 km tenggara Berau (Kaltim), pada kedalaman 11 km.
Untuk kedua lanjut Ade, berlokasi di titik koordinat 1.28 LU, 118.42 BT atau 145km tenggara Berau, dengan kedalaman 10 km.
Dijelaskannya juga, untuk gempa kedua, kekuatannya lebih besar yakni Magnitudo 5,6, dibanding gempa
pertama yang hanya berkekuatan magnitudo 4,1.
Tidak hanya dirasakan masyarakat di Kabupaten Berau saja, tapi juga sampai sejumlah wilayah di Kalimantan Utara.
“Ini dirasakan di Kabupaten Berau, yakni Teluk Bayur, Tanjung Redeb, seluruh wilayah pesisir Berau.
Gempa ini juga dirasakan di Tanjung Selor hingga Tarakan di Kalimantan Utara,” katanya.
Dirinya juga menyampaikan, saat ini pihaknya juga masih mencari tahu dampak dari gempa yang terjadi.
“Kami juga masih mengumpulkan dampak dari gempa ini,” ujarnya.
Akibat gempa tersebut, diinformasikan, sejumlah masyarkat bermukim di pesisir Berau, khususnya di
Kecamatan Batu Putih dan Bidukbiduk mengalami kepanikan.
Bahkan, sempat melarikan diri ke luar rumah.
Mengetahui hal itu, dirinya mengimbau kepada masyarakat yang bermukim di pesisir Berau, khususunya
Talisayan, Biatan, Batu Putih, Bidukbiduk, Maratua hingga Kecamatan Pulau Derawan untuk tetap tenang
dan tidak panik.
“Tetap tenang dan jangan terpengaruh isu yang tidak bisa diertanggungjawabkan. Kami akan selalu
memberikan informasi update terkait dengan gempa ini,” katanya.
Terasa di Kutim
Di Kecamatan Sangatta Utara, sebagian warga merasakan getaran gempa sekitar pukul 21.09 Wita dan
kurang lebih berdurasi 10 detik.
Berdasarkan pantauan Tribunkaltim.co, getaran terasa lumayan kencang untuk bangunan rumah kayu ulin berbentuk panggung.
Tak hanya itu, salah satu warga Kawasan Sangkulirang Seberang, yang berdekatan dengan laut, Della juga
merasakan getaran.
"Iya terasa betul gempanya untuk ukuran bangunan kayu ulin," ujarnya singkat, Minggu (15/9) malam.
Getaran serupa juga dirasakan di beberapa wilayah Kutai Timur, seperti Desa Tepian Terap, Kecamatan Muara Bengkal, Kecamatan Rantau Pulung.
Analisa BMKG
Sementara itu, hasil analisis BMKG menunjukkan gempa bumi ini memiliki parameter update dengan
magnitudo M5,5. Episenter gempa bumi terletak pada koordinat 1,30° LU ; 118,46° BT, atau tepatnya
berlokasi di darat 147 kilometer tenggara Berau, pada kedalaman 11 kilometer.
Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa bumi yang terjadi
merupakan jenis gempabumi dangkal diduga akibat aktivitas sesar Mangkalihat.
Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempabumi memiliki mekanisme pergerakan naik
(thrust fault).
Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Daryono menuturkan, gempa bumi ini berdampak dan
dirasakan di daerah Berau, Tanjung Redep, Teluk Bayur Tanjung Selor, Tarakan, Bulungan dengan skala
intensitas III-IV MMI.
"Bila pada siang hari dirasakan oleh orang banyak dalam rumah. Hasil pemodelan
menunjukkan bahwa gempabumi ini tidak berpotensi tsunami," ujar Daryono.
Gempa bumi ini didahului dengan gempa pembuka M4,1. Hingga pukul 21.45 WITA, hasil monitoring
BMKG menunjukkan adanya 1 (satu) aktivitas gempabumi susulan (aftershock). “Hingga pukul 7.00
WIB, tercatat ada 18 kali gempa susulan,” imbuh Daryono.
Daryono mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu yang tidak dapat
dipertanggungjawabkan kebenarannya. Masyarakat juga diminta menghindari bangunan yang retak atau
rusak diakibatkan oleh gempa.
Periksa dan pastikan bangunan tempat tinggal anda cukup tahan gempa, ataupun tidak ada kerusakan
akibat getaran gempa yang membahayakan kestabilan bangunan sebelum kembali ke dalam rumah.
Peristiwa 1921
Daryono mengatakan, gempa ini mengingatkan pada gempa kuat pada 14 Mei 1921 yang terjadi di
Kalimantan Timur mencapai skala intensitas maksimum VII MMI (kerusakan berat).
Gempa ini menyebabkan kerusakan di wilayah Sangkulirang dengan kerusakan paling parah terjadi di
Pulau Rending (Teluk Sangkulirang).
"Di Pulau ini banyak rumah rusak di Kaliorang dan Sekurau," kata Daryono, Senin (16/9).
Dampak gempa menyebabkan lubang bor menyemburkan air, terjadi rekahan-rekahan tanah sepanjang 10
m, lebar 20 cm, dengan kedalaman 2 m dan menyemburkan air bercampur pasir dan tanah liat (terjadi likuifaksi).
Wilayah yang diguncang gempa ini mencapai radius 250 km. Terjadi 10 kali guncangan-guncangan kuat yang berulang (gempa susulan).
Gempa dipicu Sesar Sangkulirang (Sangkulirang Fault Zone) ini memicu tsunami menimbulkan kerusakan parah di Sekurau.
Menurut saksi mata, tsunami menggenangi jalan hingga setinggi 1 meter. (rap/ril/kps)
Ikuti berita populer lainnya di Google News, Channel WA, dan Telegram
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/20240917_TRIBUN-KALTIM-HARI-INI-Edisi-Selasa.jpg)