Berita Kukar Terkini

Wisata Puncak Bukit Biru di Kukar Terus Berbenah, Punya Pesona Sunrise Mempesona

Puncak Bukit Biru bukan sekadar destinasi wisata biasa di Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur

TRIBUNKALTIM.CO/MIFTAH AULIA
WISATA ALAM KUKAR - Puncak Bukit Biru bukan sekadar destinasi wisata biasa, dengan jalur terjalnya, bukit ini menawarkan pemandangan memesona bagi siapa saja yang mendaki hingga puncaknya. Pengelola berharap wisatawan dapat ikut menjaga kelestarian Bukit Biru. (TRIBUNKALTIM.CO/MIFTAH AULIA ANGGRAINI) 

TRIBUNKALTIM.CO, TENGGARONG - Puncak Bukit Biru bukan sekadar destinasi wisata biasa di Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur.

Dengan jalur terjalnya, bukit ini menawarkan pemandangan memesona bagi siapa saja yang mendaki hingga puncaknya. 

Dari pesona matahari terbenam hingga hamparan awan yang menyelimuti, tempat ini menjadi surga bagi para pencinta alam dan pemburu momen indah.

Dengan ketinggian mencapai 600 meter di atas permukaan laut, Bukit Biru adalah puncak tertinggi di wilayah Loa Kulu dan Tenggarong.

Keindahannya sudah lama terdengar di telinga masyarakat Kutai Kartanegara, namun perjalanan menuju ketenaran ini tidak instan.

Baca juga: Mengenal Pesona Muara Mampang, Potensi Wisata Alam di Desa Sekerat Kutim 

Perjalanan pengelolaan Bukit Biru dimulai sejak 2013. Awalnya, pengelolaan dilakukan secara perorangan karena belum ada kelompok resmi yang menangani.

Ketua RT 9 yang juga Ketua Pengelola Wisata Puncak Bukit Biru, Legimin, mengungkapkan bahwa kondisi saat itu masih sederhana dan minim fasilitas.

“Dulu belum ada Pokdarwis, masih perorangan yang awalnya itu kan, belum ada pengolahan untuk wisata ini,” katanya pada TribunKaltim.co, Minggu(10/8/2025).

Seiring waktu, terbentuklah Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) yang membuat pengelolaan lebih terstruktur.

Berbagai fasilitas mulai dibangun, seperti tangga, pagar kawat duri di puncak, tambang di tanjakan terjal, hingga WC di beberapa titik seperti area perkemahan, warung, dan pos checkpoint. Untuk tarif, pengunjung hanya membayar biaya penitipan motor. 

“Kalau datang pagi itu Rp5.000 satu orang. Kalau masuk sore dan menginap pakai tenda, Rp10.000 satu orang,” tutur Legimin. 

Baca juga: Townhall Swarga Bara Sangatta Kutim jadi Rekomendasi Melepas Penat di Akhir Pekan

Hari libur menjadi waktu terpadat, terutama sore hingga malam. Pendapatan dari pengunjung digunakan untuk percepatan pembangunan.

“Uang itu kita gunakan untuk pembangunan, seperti beli kabel dan lampu, tandon, dan WC. Jadi kita putarkan untuk percepatan pembangunan wisata,” tambahnya.

Pengelola juga menerapkan aturan ketat demi keamanan dan kenyamanan, seperti larangan membuang sampah sembarangan, membakar api, atau membuat api unggun di puncak.

Legimin berharap wisatawan dapat ikut menjaga kelestarian Bukit Biru.

“Kami harap pengunjung bisa menjaga sikap saat melewati wilayah warga dan tetap menjaga kebersihan. Karena wisata ini milik bersama, semua harus ikut menjaganya,” tutupnya. (*)

 

 

Sumber: Tribun Kaltim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved