Kanal

Beredar Video Terduga Pelaku Pengeroyokan Audrey Minta Maaf: ''Saya Mohon Laporan Dicabut''

Klarifikasi terduga pelaku penganiyaan terhadap Audrey - instagram @nblechaaxx

TRIBUNKALTIM.CO - Terduga pelaku pengeroyokan siswi SMP di Pontianak menyampaikan klarifikasinya melalui video.

Dalam video klarifikasinya, terduga pelaku berinisial E ini memohon untuk dimaafkan atas tindakan yang pernah ia lakukan itu.

Seperti diketahui, pengeroyokan yang dialami oleh AU alias Audrey (14) siswi SMP di Pontianak menjadi perhatian masyarakat luas.

Audrey diduga dianiaya oleh sekelompok siswi SMA hingga ia mengalami luka-luka.

Bahkan, kepala korban sempat dibenturkan oleh para pelaku siswi ke aspal.

Tak hanya itu, perut korban pun sempat ditendang oleh pelaku.

Penganiayaan yang dilakukan oleh siswi SMA ini diduga karena masalah asmara hingga korban yang masih duduk dibangku SMP ini dianiya tanpa ampun.

Saat ini, kasus tersebut pun sudah ditangani oleh aparat kepolisian setempat.

Sementara itu, akun istagram terduga pelaku yang dihack memposting video klarifikasi salah seorang terduga pelaku.

Dalam video tersebut, wanita yang memakai jaket berwana coklat itu menyampaikan permohonan maafnya lewat video.

Dalam postingan video tampak wanita yang memakai hijab berwarna coklat muda itu tampak duduk disebuah kafe.

Belum diketahui secara pasti kapan video klarifikasi ini dibuat.

Namun, video klarifikasi ini diposting oleh akun instagram @nblechaaxx pada Rabu (10/4/2019).

"WKWKW INI VIDEO LAMA YA TERNYATA ECHA PERNAH KLARIFIKASI JUGA DAN MINTA MAAF WKWKW. JGN LUPA GESER ----> ," tulis caption akun tersebut

Video yang diposting sekitar satu jam yang lalu ini telah dikomentari lebih dari 2500 komenter oleh warganet.

Berikut ini klarifikasi lengkapnya:

"Saya akan mengklarifikasi dan meminta maaf dengan sebsar-besarnya atas kesalahan saya yang kemarin

Dan saya mohon agar dicabut laporannya, terimaksih"

Berikut kronologi lengkap penganiayaan Siswi SMP oleh 12 siswi SMA yang dirangkum TribunnewsBogor.com dari Tribun Pontianak.

1. Berawal dari Perang Medsos

Kasus pengeroyokan siswi SMP bermula dari adanya perang komentar di sosial media.

"Permasalahan awal karena masalah cowok. Menurut info, kakak sepupu korban merupakan mantan pacar dari pelaku penganiayaan ini," kata Wakil Ketua KPPAD, Tumbur Manalu.

Namun antara pelaku dan korban saling berbalas komentar di media sosial.

Hngga akhirnya pelaku merencanakan penjemputan dan penganiayaan terhadap korban.

Penganiayaan terjadi pada Jumat (29/3/2019) di Jalan Sulawesi dan Taman Akcaya.

2. Korban Hanya Umpan

Sebenarnya, korban AU hanya umpan saja.

Target utama dari para pelaku yakni kakak sepupu korban.

Awalnya , korban dijemput di rumahnya dengan alasan ada yang ingin dibicarakan.

AU yang tidak mengenal para oknum menyanggupi hal itu, hingga AU bertemu dengan kakak sepupunya.

Alasan itu membuat korban menuruti ajakan pelaku lalu ikut ke Jalan Sulawesi.

Pada saat penjemputan korban tidak menyadari, dirinya akan dianiaya.

"Ketika dibawa ke Jalan Sulawesi korban diinterogasi dan dianiaya secara brutal oleh pelaku utama tiga orang dan rekannya yang membantu ada 9 orang sehingga total ada 12 orang," kata Wakil Ketua KPPAD, Tumbur Manalu.

Korban dianiaya di dua lokasi, selain di Jalan Sulawesi, korban juga dianiaya di Taman Akcaya.

3. Kepala Dibenturkan dan Alat Kelaminnya Dilukai

Setelah bertemu kakak sepupunya, yang jemput tadi ini ternyata tak sendiri.

Ada empat tersangka menggiring AU dan PO ke tempat sepi di Jalan Sulawesi.

Kakak sepupu korban kemudian terlibat baku hantam dengan oknum berinisial DE.

“Tiga teman DE melakukan kekerasan terhadap AU, dengan melakukan pem-bully-an, penjambakan rambut, penyiraman air, hingga membenturkan kepala korban ke aspal, dan menginjak perut AU,” terang Tumbur.

Setidaknya, ada tiga oknum siswi yang diduga melakukan kontak fisik dengan korban AU.

Namun di lokasi kejadian setidaknya terdapat sembilan siswi lain yang menyaksikan kejadian tersebut, sambil tertawa, tanpa berupaya menolong korban.

Korban dianiaya di dua lokasi, selain di Jalan Sulawesi korban juga dianiaya di Taman Akcaya hingga kedua korban ditinggalkan begitu saja oleh para oknum siswi SMA gabungan ini.

Ketua KPPAD Kalbar, Eka Nurhayati Ishak. mengatakan korban mengalami penganiayaan fisik yang cukup parah.

"Korban ditendang, dipukul, diseret sampai kepalanya dibenturkan di aspal," tambah

Bahkan, kata Eka, ada pengakuan bahwa perbuatan pelaku juga terjadi pada bagian vital korban.

4. Pelaku Ancam Korban

Wakil Ketua KPPAD, Tumbur Manalu mengatakan setidaknya ada 3 pelaku utama dalam aksi penganiayaan ini.

"Menurut pengakuan korban pelaku utama itu ada tiga, yang mana melakukan berinisial NE, TP, dan NZ. Ini semua anak SMA yang berada di Kota Pontianak," jelasnya.

Eka menjelaskan, akibat perlakuan brutal dari para pelajar yang berasal dari berbagai sekolah itu, korban mengalami muntah kuning.

Tak hanya di Jalan Sulawesi, korban juga dianiaya di Taman Akcaya Pontianak.

Setelah melakukan penganiayaan, para pelaku kemudian melontarkan ancaman ke korban.

"Ada ancaman pelaku bahwa kalau sampai mengadu ke orangtuanya, akan mendapatkan perlakuan lebih parah lagi," timpal Tumbur Manalu.

 "Korban merasa terintimidasi sehingga tak berani melapor. Namun setelah dilaporkan pada pihak kepolisian, pada hari itu langsung ada proses mediasi di Polsek Pontianak Selatan, proses sidiknya terhadap pelaku masih berjalan," tambahnya.

Kasus penganiayaan yang dilakukan 12 siswa dari tiga sekolah berbeda ini sudah ditangani Polresta Pontianak.

Saat di konfirmasi, Kanit PPA Polresta Pontianak, Iptu Inayatun Nurhasanah mengatakan pihaknya baru saja menerima limpahan berkas dari kasus tersebut dari Polsek Selatan.

"Penanganan dari PPA akan terus berlanjut, kita baru mendapatkan limpahan berkas dari Polsek Selatan,"ucap Inayatun saat diwawancarai, Senin (8/4/2019).

PPA Polresta Pontianak, akan memanggil orangtua korban untuk melakukan penyelidikan lebih lanjut.

"Kita akan lakukan pendalaman dan penyelidikan terhadap kasus ini," katanya.

5. Keluarga Korban Maafkan Pelaku

Seorang keluarga mengatakan korban sekarang semakin depresi, tertekan dan trauma.

Bahkan korban yang mengidap penyakit asma ini juga kerap mengigau seolah-olah masih dalam penganiayaan, akibat tingkat trauma yang tinggi.

Keluarga bersikukuh akan tetap melanjutkan permasalahan ini ke jalur hukum, untuk memberikan efek jera bagi para pelaku.

Keluarga korban juga menolak upaya mediasi yang ingin dilakukan oleh para oknum.

“Saya maafkan dia, anak-anaknya. Tapi untuk proses hukum harus berlanjut,” ujar keluarga korban. (TribunPontianak)

Baca juga:

Info Lengkap Kasus Audrey - Kronologi hingga Link Petisi #JusticeForAudrey

Update Kasus Audrey - Di Twitter Muncul Informasi Audrey Bukan Korban Pertama, Audrey Korban Kedua

Bukannya Menyesal, Pelaku Pengeroyokan Audrey Malah Asyik Swafoto di Kantor Polisi

#JusticeForAudrey, Reza Arap Beri Dukungan dengan Langsung Video Call, Begini Pesan dan Supportnya

Follow Instagram 

Like Fanspage Facebook

Follow Twitter

Subscribe Official YouTube Channel

Editor: Kholish Chered
Sumber: Tribun Bogor

Misteri Tahi Lalat Ukuran Besar di Paha Belakang Sudah Terjawab, Video Syur Mirip Gisella Anastasia

Berita Populer