#SaveDokterAni Bergema di Twitter, Buntut Ani Hasibuan Dipanggil Polisi Gegara Tuduhan Ini

Penulis: Syaiful Syafar
Editor: Cornel Dimas Satrio Kusbiananto
#SaveDokterAni Bergema di Twitter, Buntut Ani Hasibuan Dipanggil Polisi Gegara Tuduhan Ini

TRIBUNKALTIM.CO - Tagar atau hashtag #SaveDokterAni mendadak jadi trending topic di Twitter, Kamis (16/5/2019) siang ini.

Kemunculan tagar #SaveDokterAni merupakan buntut dari pemanggilan polisi terhadap dokter Ani Hasibuan.

Melalu tagar #SaveDokterAni, para pengguna Twitter berkampanye untuk menyelamatkan dokter Ani Hasibuan agar tak kena jeratan hukum.

Tak sedikit pula yang mengkritik pemerintah dan aparat kepolisian.

Berikut kumpulan cuitan warganet yang menyerukan #SaveDokterAni:

Dipanggil Polisi

Dokter Ani Hasibuan dilaporkan ke polisi oleh Carolus Andre Yulika pada 12 Mei 2019.

Polisi kemudian memanggil dokter Ani Hasibuan terkait laporan bernomor LP/2929/V/2019/Dit.Reskrimsus.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono membenarkan adanya surat panggilan terhadap dokter Ani Hasibuan untuk diperiksa sebagai terlapor dalam kasus ujaran kebencian, Jumat (17/5/2019) besok.

Ani Hasibuan diminta hadir sebagai saksi dalam perkara dugaan penyebaran informasi yang menimbulkan rasa kebencian.

"Ya, benar, ada pemanggilan untuk yang bersangkutan, terkait ujaran kebencian melalui ITE. Diminta hadir Jumat besok," kata Argo saat dikonfirmasi Warta Kota, Kamis (16/5/2019).

Dalam surat panggilan bernomor S.Pgl/1158/V/RES.2.5./2019/Dit Reskrimsus itu, Ani Hasibuan diminta hadir di Markas Polda Metro Jaya, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, pada jumat, 17 Mei 2019, pukul 10.00.

Ani Hasibuan tersangkut perkara tindak pidana dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan/atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas SARA.

Tuduhan lain adalah menyiarkan berita atau pemberitahuan bohong dengan sengaja menerbitkan keonaran di kalangan rakyat sedangkan ia patut dapat menyangka bahwa berita atau pemmberitahuan itu adalah bohong.

Tuduhan lainnya adalah menyiarkan kabar yang tidak pasti atau kabar yang berlebihan atau yang tidak lengkap, sedangkan ia mengerti setidak-tidaknya patur dapat menduga bahwa kabar demikian akan atau mudah dapat menerbitkan keonaran di kalangan rakyat.

Informasi yang disampaikan Ani Hasibuan tersebut dimuat di portal berita thanshnews.com pada 12 Mei 2019.

Pasal-pasal Disangkakan Kepada Ani Hasibuan setidaknya ada lima.

Perbuatannya dinilai bertentangan dengan pasal 28 ayat (2) Jo Pasal 35 Jo Pasal 45 ayat (2) UU No 19 tahun 2016 tentang Perubahan Atas UU No 11 tahun 2008 tentang ITE.

Pasal lainnya yang diduga dilanggar adalah Pasal 14 dan/atau Pasal 15 UU No 1 tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana Jo Pasal 55 ayat (1) Jo Pasal 56 KUHP yang terjadi pada 12 Mei 2019 di Jakarta.

Debat Panas Bikin Adian Naik Pitam

Beberapa waktu lalu dokter Ani Hasibuan jadi sorotan publik gara-gara debat panasnya dengan politisi PDIP Adian Napitupulu.

Dokter Ani Hasibuan dan Adian Napitupulu dihadirkan sebagai pembicara dalam acara Catatan Demokrasi Kita yang tayang di tvOne, Selasa (7/5/2019) malam.

Selain dokter Ani Hasibuan dan Adian Napitupulu, hadir pula sebagai pembicara pengamat politik Rocky Gerung dan mantan komisioner KPU, I Gusti Putu Artha.

Dalam acara tersebut, dokter spesialis syaraf Ani Hasibuan sempat memberikan analisis medisnya terkait penyebab kematian sejumlah anggota KPPS.

Dokter Ani Hasibuan tak setuju jika penyebab kematian anggota KPPS disebut karena kelelahan. 

Menurut Ani Hasibuan, beban kerja yang dialami oleh petugas KPPS tidak seberat beban kerja yang dialami oleh dokter yang sedang mengambil spesialis.

"Kalau bicara fisiologi orang berkata kelelahan itu kan kaitannya dengan fisik. Dan saya lihat beban kerja nih, ada di laporan saya beban kerja KPPS itu apa aja sih? Ada tujuh orang satu TPS, itu beban kerjanya saya nggak melihat itu ada fisik yang sangat capek. Yang saya tahu yang paling capek itu dokter yang lagi ambil spesialis mas, kerja tiga hari tiga malam nggak ada yang mati itu. Yang ada tambah gendut," kata dr Ani Hasibuan.

Kelelahan, kata dr Ani Hasibuan, tidak bisa menjadi penyebab utama kematian. Namun adanya penyakit seperti jantung yang diiringi dengan kelelahan dapat menjadi faktor penyebab kematian.

"Kematian karena kelelahan saya belum pernah ketemu. Belum pernah saya ketemu Cause of Death (COD) orang karena kelelahan," ungkap dokter Ani.

"Kalau orang ada gangguan jantung di awal oke, kemudian dia bekerja fisiknya diforsir, kemudian sakit jantungnya terpicu kemudian dia meninggal karena jantungnya dong bukan karena kelelahan," kata dokter Ani.

Mendengar pernyataan tersebut, politisi PDIP Adian Napitupulu langsung bersuara.

Adian Napitupulu merasa pernyataan Ani Hasibuan sangat tendensius.

Bahkan terkesan menyepelekan beban kerja petugas KPPS. 

"Pertama begini, saya berharap tadi kita mendengar analisa medis tanpa adanya tendensi apa pun. Termasuk menghakimi pekerjaan KPPS. Sebagai dokter analisanya medis saja, nggak perlu menghakimi apa yang mereka kerjakan," kata Adian.

"Yok kita objektif dalam kapasitas dokter, ya analisa analisa medis, jangan menganalisa beban kerja orang lain. Jangan kemudian menghakimi beban kerja KPPS seolah disederhanakan lalu nyatet-nyatet kok meninggal," ungkap Adian Napitupulu.

Mendengar tanggapan Adian, dokter Ani Hasibuan merasa tidak terima.

Ia menyanggah bahwa poin utama dari analisanya bukanlah terkait pada beban kerja petugas KPPS.

"Bukan itu poin saya bang Adian. Orang ketua KPPSnya aja bilang kelelahan kok," timpal Ani Hasibuan.

Adian Napitupulu sekali lagi menegaskan bahwa dirinya tidak membantah terkait hal tersebut, namun dia membantah pernyataan Ani Hasibuan tentang beban kerja KPPS.

"Saya tidak bantah itu. Karena saya tidak dalam kapasitas pernyataan itu. Yang saya bantah adalah pernyataan dia yang 'apasih kerja KPPS ? cuma nyatat-nyatat doang ?' Itu yang saya bantah," ujar Adian Napitupulu.

Menurut Adian Napitupulu, Ani Hasibuan tidak sepantasnya untuk membahas beban kerja KPPS, karena itu bukan wilayah seorang dokter.

"Jangan masuk pada wilayah itu. Bicaralah dalam analisa medis. Jangan bicara tentang apa sih kerja KPPS ? cuma catat-catat saja. Kapasitas KPPS bukan cuma nyatat bu dokter! Analisa medisnya tidak saya bantah. Saya bukan dalam kapasitas membantah persoalan medis," ujar Adian Napitupulu.

"Jangan ngomong begitu. Jangan remehkan pekerjaan KPPS. Jangan ada kesombongan profesi yang merendahkan pekerjaan orang lain, hanya mencatat-catat saja. Jangan!" pinta Adian Napitupulu.

Simak videonya:

Video 1

Video 2

(TribunKaltim.co/Syaiful Syafar)

BACA JUGA:

Ricuh Laga PSS Sleman vs Arema FC, Ini Pengakuan Penonton yang Berdarah Terkena Serpihan Keramik

Putra Sulung Terduga Perekam Video Penggal Kepala Jokowi: Ibu Saya Enggak Sengaja Merekam Itu

Terkuak Pengakuan Terduga Pelaku Pemutilasi Wanita di Malang, Gunting Taman Jadi Alat Mutilasi

Exco PSSI: Bentrokan Suporter PSS Sleman dengan Arema FC Gara-gara Ada 20 Provokator

TERPOPULER - 2 Pemain Naturalisasi Persib Bandung tak Bisa Tampil di Laga Perdana Liga 1 2019

Like dan follow Fanspage Facebook

Follow Twitter

Follow Instagram

Subscribe official YouTube Channel