Kanal

Tetangga Ungkap Fakta TJ, Mantan Marinir yang Ditunjuk Habisi 2 Nyawa dari 4 Jenderal Tokoh Nasional

Empat jenderal tokoh nasional yang jadi target pembunuhan, dari kiri ke kanan: Wiranto, Luhut Binsar Panjaitan, Budi Gunawan, dan Gories Mere. Dua dari mereka rencananya hendak dieksekusi oleh tersangka TJ yang merupakan mantan marinir. - Kolase Tribunnews.com

TRIBUNKALTIM.CO - Polisi telah menangkap eksekutor rencana pembunuhan terhadap empat jenderal tokoh nasional saat aksi 22 Mei. Dia adalah Tajudin atau TJ yang diketahui mantan marinir TNI AL.

Tajudin atau TJ diduga jadi pembunuh bayaran untuk menghabisi dua nyawa dari empat jenderal tokoh nasional.

Aksi TJ ini tidaklah dilakukan sendiri. Ia dibantu komplotannya.

Semua berjumlah enam orang.

Selain TJ, polisi juga menetapkan AF, HK, AZ, IR, dan AD sebagai tersangka.

Empat tersangka, yakni HK, AZ, IR, dan TJ berperan sebagai eksekutor membunuh empat jenderal tokoh nasional.

Sementara dua tersangka lainnya AD dan AF adalah penyuplai dan penjual senjata api.

Dari tangan Tajudin alias TJ, petugas kepolisian menyita sepucuk senjata api rakitan laras pendek kaliber 22 dan laras panjang kaliber 22 dari kelompoknya.

Tajudin alias TJ diketahui berasal dari Cibinong, Bogor, Provinsi Jawa Barat, tepatnya di Jalan MH Asyari, RT 05/01, Kelurahan Cibinong, Kecamatan Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Lantas, bagaimana keseharian TJ di mata tetangga?

Ketua RT setempat, Sulaeman, mengatakan dirinya sempat kaget mendapat kabar tersebut.

"Saya juga kaget. Saya dapet kabarnya dari temen saya tadi, langsung saya konfirmasi. Dia udah lama tidak tinggal di sini," kata Sulaeman kepada TribunnewsBogor.com, Selasa (28/5/2019).

Ia mengatakan bahwa Tajudin atau TJ memang dari kecil bersama kakek dan neneknya tinggal di alamat tersebut.

Sulaeman juga membenarkan bahwa Tajudin atau TJ merupakan mantan marinir.

Namun, sejak menjadi marinir, dirinya jarang bertemu.

"Udah lima tahunan pindahnya. Dia pindah sama ibunya. Rumahnya juga udah dijual dan sekarang udah berubah bentuk, udah gak kayak rumahnya yang dulu. Keluarganya juga udah gak ada di sini. Dari kecil padahal dia di sini, kakeknya di sini, temen sekolah saya," katanya.

Sulaeman mengaku bahwa tidak mengetahui ke mana TJ pindah.

Namun, administrasi kependudukan, kata Sulaeman, masih terdata sebagai penduduk di wilayahnya.

Sebab, saat pindah, TJ tidak mengajukan surat pindah.

"Saya gak tahu pekerjaannya. Anaknya saya juga gak tahu. Setahu saya dia jadi anggota Angkatan Laut kan, udah dari situ udah jarang ketemu," katanya.

Lingkungan tempat tinggal TJ tersangka kepemilikan senjata api ilegal di Jalan MH Asyari, RT 05/01, Kelurahan Cibinong, Kecamatan Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Selasa (28/5/2019). (TRIBUNNEWSBOGOR.COM/NAUFAL FAUZY)

4 Jenderal Target Pembunuhan

Kapolri Jenderal (Pol) Tito Karnavian mengungkapkan empat nama pejabat negara yang menjadi sasaran dalam rencana pembunuhan oleh enam tersangka yang telah ditangkap.

Keempat nama itu adalah:

Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Jenderal (Purn) Wiranto Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman (Menko Maritim) Jenderal (Hor) (Purn) Luhut Binsar Panjaitan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Jenderal (Purn) Budi Gunawan Staf Khusus Presiden Bidang Intelijen dan Keamanan Komisaris Jenderal (Purn) Gories Mere.

Hal itu disampaikan Tito Karnavian di Kantor Kemenko Polhukam, Jakarta, Selasa (28/5/2019).

"Ada Pak Wiranto, Menko Polhukam, Ada Pak Luhut, Menko Maritim. Lalu ada Pak Kepala BIN, dan juga ada Pak Gories Mere," ujar Tito Karnavian.

Ia mengatakan, informasi tersebut berasal dari Berita Acara Pemeriksaan (BAP).

Tito Karnavian memastikan informasi tersebut bukan berasal dari informasi intelijen.

"Ini dari hasil pemeriksaan tersangka. Jadi bukan informasi intelijen. Kalau informasi intelijen tidak perlu pro justicia," lanjut dia mengatakan.

Polisi mengungkap adanya kelompok pihak ketiga yang ingin menciptakan martir dalam aksi menolak hasil Pilpres pada 22 Mei 2019 di depan gedung Bawaslu, Jakarta.

Selain itu, kelompok ini juga diduga berniat melakukan upaya pembunuhan terhadap empat pejabat negara dan seorang pemimpin lembaga survei.

Kepala Divisi Humas Polri Irjen Muhammad Iqbal menjelaskan, kronologi upaya pembunuhan ini bermula sejak 1 Oktober 2018.

Saat itu, HK yang merupakan pimpinan komplotan mendapatkan perintah dari seseorang untuk membeli senjata.

"HK menerima perintah dari seseorang untuk membeli dua pucuk senpi laras pendek di Kalibata. Seseorang ini, pihak kami sudah mengetahui identitasnya. Sedang didalami," kata Irjen Muhammad Iqbal dalam jumpa pers di kantor Kemenko Polhukam, Jakarta, Senin (27/5/2019).

Setelah itu, lanjut Irjen Muhammad Iqbal, pada 13 Oktober HK menjalankan perintah dan membeli senjata.

Ada empat senjata yang didapat oleh HK dari AF dan AD.

Sebagian senjata itu lalu diserahkan HK kepada rekannya, AZ, TJ, dan IR.

Pada 14 Maret, HK mendapat transfer Rp 150 juta.

Sebanyak Rp 25 juta ia bagikan kepada TJ.

"TJ diminta membunuh dua tokoh nasional. Saya tak sebutkan di depan publik. Kami TNI Polri sudah paham siapa tokoh nasional tersebut," kata Irjen Muhammad Iqbal.

Lalu, pada 12 April, HK kembali mendapat perintah lagi untuk membunuh dua tokoh nasional lainnya.

"Jadi, ada empat target kelompok ini menghabisi nyawa tokoh nasional," ujarnya.

Saat ditanya apakah tokoh nasional yang dimaksud adalah pejabat negara, Iqbal membenarkan.

"Pejabat negara. Tapi bukan presiden. Tapi bukan kapasitas saya menyampaikan ini. Nanti kalau sudah mengerucut baru dikasih tahu," kata dia.

Selain empat pejabat negara, belakangan HK juga mendapat perintah untuk membunuh seorang pemimpin lembaga survei.

"Terdapat perintah lain melalui tersangka AZ untuk bunuh satu pemimpin lembaga swasta. Lembaga survei. Dan tersangka tersebut sudah beberapa kali menyurvei rumah tokoh tersebut," ujar Irjen Muhammad Iqbal. 

Spesifikasi Revolver Taurus Kaliber 38

Dalam rencana pembunuhan empat jenderal tersebut, senjata api revolver Taurus kaliber 38 juga dipakai untuk menghabisi nyawa target.

Hal itu terungkap dari penyidikan polisi terhadap sejumlah tersangka kasus kerusuhan aksi 22 Mei 2019.

Dua tersangka yakni AD dan AF berperan sebagai penyuplai dan penjual senjata api.

Menariknya, nama terakhir, AF, adalah perempuan.

Diketahui, AF adalah warga Pancoran, beralamat di Kelurahan Rajawali, Kecamatan Pancoran, Jakarta Selatan.

AF ditangkap polisi pada Jumat (24/5/2019) di Bank BRI Jalan Thamrin, Jakarta Pusat.

"Perannya (AF) pemilik dan penjual senpi revolver ilegal Taurus kepada tersangka HK. Ini seorang perempuan," ungkap Kadiv Humas Polri Irjen Muhammad Iqbal dalam konferensi pers di Kementerian Koordinator Politik Hukum dan Keamanan, Jakarta Pusat, Senin (27/5/2019).

Menurut Iqbal, AF menjual senjata api revolver Taurus kaliber 38 kepada tersangka HK.

HK adalah pemimpin, eksekutor sekaligus perekrut tiga eksekutor lainnya yakni AZ, IR, dan TJ.

HK paling aktif karena ia juga yang menyiapkan senjata api untuk eksekutor lainnya.

Dari tangan AF lah, HK mendapatkan revolver Taurus kaliber 38 yang dibelinya seharga Rp 50 juta.

Revolver yang dibeli HK dari AF pernah dibawa turun saat memimpin timnya ikut unjuk rasa pada 21 Mei 2019.

Namun, hari itu juga HK ditangkap polisi di lobi Hotel Megaria Menteng Jakarta Pusat.

Diketahui, HK sudah menyiapkan senjata api sejak Oktober 2018.

"Tanggal 13 Oktober membeli senpi revolver sebesar Rp 50 juta dari AF," terang Iqbal.

Namun Iqbal tidak menjelaskan di mana HK dan AF bertemu untuk transaksi jual beli revolver Taurus kaliber 38.

Dalam konferensi pers tersebut, Iqbal sempat memperlihatkan senjata api laras panjang rakitan dari Cipacing yang memiliki teleskop.

Sementara revolver Taurus kaliber 38 diperlihatkan oleh Wakapuspen TNI Laksma TNI Tunggul Suropati, yang duduk di sebelah kanan Iqbal.

"Yang dipegang Wakapuspen ini diduga senjata organik tapi ilegal yang didapat dari tersangka perempuan AF," terang Iqbal.

Spesifikasi Revolver Taurus Kaliber 38

Dari video konferensi pers tersebut, tampak senjata api revolver Taurus kaliber 38 yang diperlihatkan Wakapuspen TNI seperti tipe 82B4.

Berikut ragam spesifikasi revolver Taurus kaliber 38 yang dilansir gunivore.com:

Model: Taurus 82B4
Caliber: .38 Special +P
Capacity: 6
Weight (unloaded): 36.5 oz.
Frame Size: Medium
Barrel Length: 4”
Action: DA/SA
MSRP: $471.67

Taurus 82B4 (gunivore.com)

Model: Taurus CIA 850 Ultralite
Caliber: .38 Special +P
Capacity: 5
Weight (unloaded): 16 oz.
Overall Length: 6.5”
Barrel Length: 2”
Action: DAO
MSRP: $459.00

Taurus CIA 850 Ultralite (gunivore.com)

Model: Taurus Ultralite Model 817
Caliber: .38 Special +P
Capacity: 7
Weight (unloaded): 21 oz.
Overall Length: 6.625”
Barrel Length: 2”
Action: DA/SA
MSRP: $555.00

Taurus Ultralite Model 817 (gunivore.com)

Sekilas Tentang Taurus 

Dalam artikel yang diterbitkan gunivore.com, disebutkan Forjas Taurus adalah perusahaan yang terdiversifikasi di kota pantai selatan Porto Allegro, Brasil.

Perusahaan ini berdiri sejak awal tahun 1930-an.

Hanya butuh beberapa tahun bagi mereka untuk masuk ke industri senjata setelah awalnya memproduksi logam, plastik, dan peralatan konstruksi sipil.

Taurus meluncurkan senjata api pertama mereka pada tahun 1941: Revolver Model 38101SO.

Mereka mulai mengekspor ke Amerika Serikat setelah bertahun-tahun mengalami stagnasi.

Akhirnya, mereka mulai memproduksi lebih banyak senjata dan menjadi lebih dikenal.

Keberhasilan mereka selanjutnya dapat dengan mudah dikaitkan dengan kemitraan jangka pendek mereka dengan Smith & Wesson dan Beretta.

Meskipun demikian, mereka telah berkembang menjadi kisah sukses internasional dengan sederetan pistol, revolver, dan senapan unik milik mereka.

Para penembak di seluruh dunia menyukai Taurus karena harga yang terjangkau.

(TribunKaltim.co/Syaiful Syafar)

Subscribe official YouTube Channel

BACA JUGA:

Semen Padang vs Persib Bandung, Prediksi Starting XI: Artur Gevorkyan On Fire!

Keputusan Sandiaga Uno Setelah Namanya Ramai Disebut Masuk Daftar Calon Menteri Jokowi-Maruf

Download Lagu MP3 Lagi Ngehits, Alan Walker Berjudul Lost Control, Ini Cara Download Lagu & Liriknya

Pengakuan Istri Disertir TNI AD yang Disiapkan Jadi Eksekutor Aksi 22 Mei, Tak Tahu Kerjaan Suami

Pengamat Beberkan 4 Tokoh Nasional Plus 1 Pimpinan Lembaga Survei yang Jadi TO Penembakan 22 Mei

Penulis: Syaiful Syafar
Editor: Alfiah Noor Ramadhany

Berita Populer