Kutuk Pengaturan Skor Sepak Bola Indonesia, Fakhri Husaini: Minimal Saya tak Punya Andil Merusaknya

Fakhri Husaini

TRIBUNKALTIM.CO - Kutuk pengaturan skor sepak bola Indonesia, Fakhri Husaini : minimal saya tak punya andil merusaknya

Mantan gelandang Timnas Indonesia era 90-an  Fakhri Husaini mengutuk praktek pengaturan skor yang dilakukan mafia bola di persepakbolaan Indonesia.

"Kalau saya tak perbaiki sepak bola kita yang carut marut, minimal saya tak punya andil merusaknya. Saya tak mungkim seorang diri perbaiki ini. Cukup saya tak telibat, itu prestasi luar biasa buat saya," kata Fakhri Husaini, mantan pelatih Timnas U-16 dan U-19.

"Buat saya kasus match fixing, kasus pengaturan skor. Hanya di Indonesia yang kasusnya sedemikian terbuka, sebagian orang yang dianggap sebagai pelakunya diundang ke TV. Sudah berikan pengakuan kepada publik secara terang. Tapi sampai sekarang tak satu pun yang tertangkap," lanjutnya

Fakhri Husaini mengaku heran mengapa hingga saat ini PSSI sebagai otoritas tertinggi sepak bola tanah air tak mampu memberantas hal tersebut.

"Saya gak tahu, apakah sedemikian rapinya mereka para penjudi ini melaksanakan kegiatannya, atau (mereka) dilindungi kekuasaan," ucapnya.

Pengalaman Tak Terlupakan Latih Bontang FC, Fakhri Husaini Pernah jadi Korban Match Fixing

Fakhri Husaini Ditelpon Sekjen PSSI Agar tak Hadir di Mata Najwa,Ini Jawaban Eks Pelatih Timnas U-19

Sosok Favorit Jadi Inspirasi Fakhri Husaini, Ada Eks Pelatih Timnas, Jurgen Kloop, dan Pep Guardiola

Sayangkan Salman Alfarid Tak Lolos Ini Sederet Anak Asuh Fakhri Husaini yang Ditinggal Shin Tae-yong

Ia pun mengapresiasi Satgas Mafia Bola yang terus melakukan upaya pengungkapan kasus tersebut. Beberapa penjahat sepak bola dalam praktik pengaturan skor sudah ditangkap.

Namun, yang ditangkap menurut Fakhri masih skala pemain kecil. Satgas belum bisa mengungkap pemain kakap mafia bola persepakbolaan tanah air.

"Saya termasuk sedih ketika kasus sedemikian terbukanya, TV nasional menayangkan beberapa kali. Jangan-jangan terlalu banyak pihak yang telah menikmati hasil pengaturan pertandingan ini," tuturnya.

Menurutnya, idealisme penting ditanamkan pemain sepak bola profesional sejak dini. Hal itu setidaknya menjadi benteng utama pemain sepak bola profesional Indonesia melawan tawaran menggiurkan dari para mafia bola.

"Bapak saya bukan ustaz, kiai, atau ulama. Tapi saya bersyukur banyak nilai moral ditanamkan kepada saya, soal respect dan fair play," ucapnya.

Ia mengaku saat jadi pemain tak ada manajer yang dapat mengatur dirinya, terlebih dalam hal mengatur skor pertandingan.

"Saya tak akan berikan uang haram untuk anak istri. Sampai saat ini alhamdulillah, semua masalah saya lewati. Ketika jadi pemain, ada pelatih minta tim ngalah, kalau saya main, saya akan bilang buat gol. Kalau pasang saya, saya buat gol. Kalau atur, atur saja, tapi jangan pasang saya," ungkapnya.

(*)

Berita Populer