Virus Corona

Kasus Covid-19 Jakarta 34 Ribu, Pakar Epidemiologi Bocorkan Pergub Anies Baswedan Hanya Formalitas

AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan saat konferensi pers terkait PSBB masa transisi di Balai Kota DKI Jakarta, Kamis (4/6/2020)

TRIBUNKALTIM.CO - Kasus covid-19 Jakarta 34 ribu, Pakar Epidemiologi bocorkan Pergub Anies Baswedan hanya formalitas.

Kasus Virus Corona di Jakarta terus melonjak.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan sejatinya sudah menerbitkan beberapa Peraturan Gubernur atau Pergub untuk menekan penularan covid-19.

Namun, Pakar Epidemiologi dari Universitas Indonesia menyebut Pergub tersebut tak efektif dan hanya formalitas belaka.

Pakar Epidemiologi Universitas Indonesia Tri Yunis Miko Wahyono mengkritik cara penanganan covid-19 oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Pasalnya, penerapan aturan-aturan yang dibuat Anies Baswedan dalam peraturan gubernur ( Pergub) seolah hanya formalitas saja.

Terbakar 11 Jam, Pakar Konstruksi Beber Nasib Gedung Kejaksaan Agung, Jilatan Api dari Atas ke Bawah

• Haris Azhar Tak Tinggal Diam Disorot Antasari Azhar, Pakar Bongkar Kejanggalan Kebakaran Kejagung

• Dijuluki Lucinta Luna dari Makassar, Waria Ini Jadi Pria Kembali dan Menikah, Alasannya Mengharukan

• Kebakaran Kejaksaan Agung, Rocky Gerung Curiga Sikap Mahfud MD dan ST Burhanuddin, Dahului Polisi

"(Pergub 51 Tahun 2020) itu bukan peraturan.

Tapi anjuran.

Syukur-syukur orang patuh, kalau tidak ya dibiarin," kata Miko saat dihubungi Kompas.com, Senin (24/8/2020).

Salah satu kebijakan yang menurut Miko sering diabaikan adalah aturan pembatasan jumlah karyawan, maksimal 50 persen saja yang dapat bekerja di kantor.
Pada penerapannya di lapangan, aturan ini sering dilanggar dan tak ada penindakan pasti.

Hal ini bahkan diakui sendiri oleh Kepala Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi, dan Energi DKI Jakarta Andri Yansyah beberapa waktu lalu.

Padahal aturan mengenai pembatasan jumlah pekerja maksimal 50 persen sudah tertera dalam Pasal 13 Pergub DKI Jakarta nomor 51 Tahun 2020 tersebut.

Belum lagi sangat banyak warga yang abai terhadap penggunaan masker selama pandemi covid-19 ini.
"Aturannya ada, tapi penerapannya tidak diawasi. Ya gimana itu?

Saya cuma bisa sedih menunggu sampai 2021," ujar Miko.

Halaman
1234