Tak Tinggalkan Ibadah, Korban Penipuan di Malaysia Selamat Usai 8 Hari Susuri Hutan Krayan Nunukan

AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Ilustrasi. Hamparan hutan di pedalaman Kalimantan tampak dari udara. Foto diambil Rabu (24/8/2016)

TRIBUNKALTIM.CO - Tak pernah tinggalkan Ibadah, korban penipuan di Malaysia selamat usai delapan hari susuri hutan Krayan.

Selama berjalan kaki menyusuri hutan Krayan, Syamsuddin (51) hanya berbekal air, garam dan vetsin saja.

Teriakan dan tangisan haru penuh syukur langsung menyeruak saat Syamsuddin (51) menelepon istrinya, Nursiah, mengabarkan bahwa ia selamat dan baik-baik saja setelah sekitar delapan hari hilang di hutan Krayan, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara.

"Sekeluarga kasihan kami menangis mi, bersyukur sekali dia selamat, setiap hari itu kami menangis takut kenapa kenapa dengan dia (Syamsuddin) karena jalan kaki kasihan dari Malaysia lewat hutan di Krayan," ujar Nursiah saat dihubungi Kompas.com melalui sambungan telepon, Kamis (24/9/2020).

Rabu, 23 September 2020 sekitar pukul 19.00 Wita, adalah kali pertama Syamsuddin menghubungi keluarganya di Makassar untuk mengabarkan bahwa ia diselamatkan oleh penduduk Ba’rio Krayan yang tengah beraktivitas di dalam hutan.

Sejak sadar menjadi korban penipuan di Lawas Malaysia, Syamsuddin nekat kembali ke Krayan, lokasi kerjanya selama ini.

Baca juga: Zlatan Ibrahimovic Positif Corona, Curhatnya di Medsos, Sehari, 2 Pemain AC Milan Positif Covid-19

Baca juga: NEWS VIDEO Para Istri Ungkap Menu Sarapan Andi Harun & Rusmadi Sebelum Hadiri Pencabutan Nomor Urut

Baca juga: Gelar Rakor Penanganan Covid-19, Gubernur Kaltim Singgung Plt Bupati Kutim yang Sempat Terpapar

Baca juga: Tambah Lagi, 31 Kasus Baru Positif Covid-19, Kadinkes Imbau Warga Patuhi Protokol Kesehatan

Menurut Nursiah, suaminya sudah sekitar sembilan tahun menjadi pemborong bangunan di Krayan dan cukup dikenal luas masyarakat setempat sebagai tukang bangunan yang mumpuni.

"Kami sekeluarga sujud syukur, terima kasih ya Allah Engkau kasih dia selamat, sejak dia hilang, anak-anak selalu menelepon ndak tersambung, cari di internet info orang hilang dan lihat berita tidak pernah jumpa kabar dia. Makanya, begitu dia menelepon, kami semua menangis kasihan,’’tutur Nursiah.

Sejak mendapat kerja di Krayan, Syamsuddin jarang sekali pulang kampung, ia hanya rutin mengirimkan uang untuk kebutuhan hidup keluarga dan membiayai dua anaknya yang masih sekolah di SD dan SMP.

Berbekal air mineral, vetsin, dan garam

Halaman
1234

Berita Terkini