Balikpapan Diyakini Bisa Bertahan Meski Terjadi Resesi Ekonomi, Kepala BPS: Tak Separah Daerah Lain
Resesi ekonomi sudah terjadi di Indonesia, tepatnya mulai Oktober 2020 ini. September lalu merupakan akhir dari kuartal III-2020 dipastikan mengalami
Penulis: Heriani AM |
TRIBUNKALTIM.CO, BALIKPAPAN- Resesi ekonomi sudah terjadi di Indonesia, tepatnya mulai Oktober 2020 ini.
September lalu merupakan akhir dari kuartal III-2020 dipastikan mengalami kontraksi ekonomi, seperti yang sudah terjadi sebelumnya di kuartal II-2020 yakni minus 5,32%.
Kontraksi ekonomi di kuartal III-2020 yang jadi penentuan resesi ini juga sudah dipastikan oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati.
Ia menyatakan, proyeksi ekonomi pada kuartal III berada di kisaran minus 2,9% sampai minus 1%. Sementara, seluruh tahun 2020 berada di kisaran minus 1,7% sampai minus 0,6%.
Kendati Indonesia mengalami resesi, cara memandangnya harus dengan cara perspektif yang luas. Terlebih lagi, jika ekonomi Indonesia hanya minus 1,7% sampai minus 0,6%.
Berbeda dengan negara lain, seperti India yang minus hingga 24%.
Menurut Kepala BPS Balikpapan, Achmad Zaini, dampak Virus Corona ( covid-19 ) terhadap perekonomian sangat mungkin terjadi resesi.
Dan itu berdampak sangat besar, karena sektor ekonomi akan tergerus, termasuk di Balikpapan.
"Multiplayer effect satu sektor terhadap sektor lain memang sangat besar. Contohnya pariwisata, berdampak pada perhotelan, transportasi hingga ritel," ujar Zaini, Minggu (4/10/2020).
Meski fenomena resesi sudah terjadi, Zaini memandang Balikpapan bisa bertahan. Pertumbuhan ekonomi di Balikpapan yang membaik dari tahun ke tahun.
Baca juga: Jokowi Ingatkan Pentingnya Peran Masyarakat untuk Berubah, Beradaptasi Patuhi Protokol Kesehatan
Baca juga: Akhir Oktober Subsidi Gaji Gelombang 2 Segera Cair, Karyawan Langsung Terima Rp 1,2 Juta
Laju pertumbuhan di Balikpapan selama periode 2016-2018 berada dalam kisaran 3,84% hingga 4,95%, tahun 2019 di angka 4,78%. Meski pernah mengalami krisis, lajunya tidak pernah minus.
Hal ini didukung dengan kemiskinan yang terus mengecil. Bahkan orang miskin di Balikpapan nomor 5 se-Indonesia.
Dan itu konsisten, hanya 2,4% di tahun 2019. Menurutnya, meski tidak dipungkiri di tahun 2020 akan bertambah, namun diharapkan tidak signifikan.
"Sehingga seandainya daerah lain terjadi resesi, dalam artian ekonominya hancur, Balikpapan saya yakin tidak sampai begitu. Ketahanan ekonominya bagus. Meski terjatuh, tidak sejatuh kabupaten kota yang lain," ucapnya. (TribunKaltim.co/Heriani)