Berita Internasional Terkini

Gegara Jet Tempur Sukhoi Su-35 dari Rusia, Negara Besar Ini Tak Ingin Militer Indonesia Makin Kuat

Pesawat tempur Sukhoi Su-35 Rusia lepas landas selama pertunjukan udara di festival Teknofest di Bandara Ataturk di Istanbul pada 17 September 2019. Gegara Jet Tempur Sukhoi Su-35 dari Rusia ini, ada negara besar yang tak ingin militer Indonesia makin kuat.

"Tidak mengherankan, setelah menandatangani (kesepakatan), pihak Indonesia menghadapi tekanan ekstensif dari perwakilan negara tertentu," ungkap dia kepada wartawan.

"Pada semua tingkat yang memungkinkan, Jakarta sangat disarankan untuk meninggalkan proyek tersebut. Namun, kami dengan yakin menegaskan, pihak Rusia bermaksud memenuhi kontrak ini," imbuhnya.

Pesawat tempur Sukhoi Su-35 angkatan udara Rusia mendarat di pangkalan militer Rusia Hmeimim, yang terletak di tenggara kota Latakia di Hmeimim, Kegubernuran Latakia, Suriah, pada 26 September 2019. (Maxime POPOV / AFP)

Menurut Reshetnikova, Rusia memandang Indonesia sebagai salah satu mitra utama di kawasan Asia-Pasifik.

Tekanan ke Indonesia

Pada tahun lalu, Amerika Serikat dikabarkan menekan Indonesia agar membatalkan kesepakatan untuk membeli jet tempur buatan Rusia dan kapal laut dari China.

Hal ini adalah bagian dari upaya global AS untuk mencegah para kompetitor mengikis superioritas militer AS.

Baca juga: Luhut Pandjaitan Minta Maaf ke Seluruh Rakyat, Muhadjir Effendy Sebut Indonesia Darurat Militer

Seperti diberitakan Bloomberg pada 15 Maret 2020, seorang pejabat yang tak disebutkan namanya mengklaim bahwa Indonesia memutuskan untuk tidak melanjutkan rencana pengadaan 11 jet tempur Sukhoi Su-35 seharga 1,1 miliar dollar AS.

Pejabat tersebut juga bilang bahwa AS menekan Indonesia agar menjauh dari perundingan dengan China untuk membeli beberapa kapal patroli angkatan laut senilai 200 juta dollar AS.

Sang sumber bilang langkah untuk mengesampingkan kesepakatan itu terjadi setelah para pejabat AS menjelaskan bahwa Indonesia dapat menghadapi sanksi karena berurusan dengan Rusia.

Pemerintahan Presiden Joko Widodo juga khawatir AS akan mengambil tindakan hukuman terhadap hubungan perdagangan jika melanjutkan perjanjian China.

Halaman
1234