Google Doodle

Profil Sariamin Ismail, Penulis Wanita yang Jadi Google Doodle Hari Ini, Sabtu 31 Juli 2021

Googe Doodla hari ini. Simak profil dan biodata Sariamin Ismail, penulis wanita yang jadi Google Doodle hari ini, Sabtu 31 Juli 2021.

Mereka sering mengadakan acara pantun-berpantun dalam berbagai upacara selamatan.

Kebiasaan menulis sajak ini diketahui oleh teman-teman dan gurunya.

Selasih pun kemudian sering diminta oleh gurunya untuk menulis syair lagu atau pun naskah sandiwara.

Pada suatu saat Selasih menulis sebuah puisi yang berjudul "Orang Laut".

Puisi ini dianggap baik oleh gurunya sehingga dibacakan di setiap kelas.

Hal ini menjadikan Selasih mendapat julukan atau gelar" cucu Rabindranath Tagore".

Lulus dari sekolahnya, Selasih kemudian menjadi seorang guru.

Setelah menjadi guru dia merasakan banyak hal yang perlu dibenahi dalam kehidupan wanita.

Melihat keadaan itu, Sariamin, yang pada waktu itu baru berumur 16 tahun, mulai menulis beberapa artikel yang berkaitan dengan dunia wanita.

Sariamin berpikir bahwa gadis Indonesia sebenarnya tidak harus selalu tinggal di rumah saja sehingga tidak memiliki pengetahuan apa pun.

Gadis Indonesia sudah waktunya bergerak untuk mencari pengetahuan dan bekal hidupnya masing-masing.

Hal-hal semacam itu yang pertama kali dituliskan oleh Sariamin.

Tulisan Sariamin yang pertama berjudul "Betapa Pentingnya Anak Perempuan Bersekolah".

Karangan Sariamin ini dimuat dalam majalah pada tahun 1926.

Pendidikan

Pendidikan terakhir Sariamin Ismail adalah Meisjes Normaalschool (Sekolah Guru Perempuan).

Pendidikan ini dijalaninya di Padang Panjang tahun 1921—1925.

Sariamin menamatkansekolahnya pada tanggal 18 April 1925.

Sebelum dia sekolah di Meisjes Normalschool Selasih sudah menamatkan pendidikan sekolah
desa pada tahun 1916.

Pendidikan yang diperoleh oleh Sariamin cukup tinggi dan istimewa untuk masa itu sebab pendidikan untuk wanita di masa itu masih merupakan hal langka.

Keberadaan pendidikan perempuan yang demikian itu agaknya menggerakkan hati Sariamin untuk menuliskan kondisi yang dihadapinya.

Beberapa karangannya bertema pendidikan untuk perempuan, seperti "Betapa pentingnya Anak Perempuan Bersekolah"; "Tak Perlukah Ditambah Sekolah Gadis di Sumatra?"

Selain pendidikan formal di zaman pemerintahan Belanda, pada masa Jepang Selasih juga mengikuti Sekolah Tinggi Pendidikan zaman Jepang atau Jo Kien Sihan Gakko pada sekitar tahun 1943-1944 di Padang Panjang.

Sariamin juga pernah mengikuti pendidikan di sekolah Samilussalam kepunyaan Ja'afar Jambek di Bukit Tinggi.

Sekolah inilah yang menjadikan Sariamin dekat dengan agama Islam dan kemudian menjadi pengurus organisasi Islam yang aktif.

Karya Sariamin Ismail

Sebagai seorang pengarang Selasih telah menghasilkan beberapa jenis sastra.

Karya satra yang ditulis oleh Selasih ada beberapa macam, di antaranya puisi karya prosanya terdiri atas roman, legenda, cerita anak-anak dan cerita pendek.

Selasih juga menulis artikel tentang sastra.

Karya Selasih tersebut ada yang sudah diterbitkan dan ada yang belum diterbitkan.

Beberapa di antara karya Sariamin Ismail atau Selasih adalah sebagai berikut:

Puisi

1. Kebesaran Hari Raya (Pandji Pustaka. No. 8-9. 1933. Th. 11)

2. Kecewa (Pandji Pustaka. No. 24. 1933. Th. 11)

3. Lapar (Pudjangga Bam. No. 1. 1933. Th. 1)

Prosa

Roman (sudah terbit)

1. Kalau Tak Untung (Balai Pustaka. Jakarta: 1933)

2. Pengaruh Keadaan (Balai Pustaka. Jakarta: 1937)

3. Kembali Ke Pangkuan Ayah (Mutiara Sumber Widya, Jakarta: 1986)

4. Musibah Membawa Bahagia (Depdikbud. Jakarta: 1986)

Roman (belum terbit)

1. "Di Pusara Ibu"

2. "Corak Dunia"

Baca juga: Google Doodle Hari Ini Rabu 17 Februari 2021, dr Marie Thomas, Dokter Wanita Pertama di Indonesia

(*)

Artikel terkait Google Doodle