Virus Corona di Balikpapan

Soal Penerapan PPKM Level 3 di Akhir Tahun, Walikota Balikpapan Siap Ikuti Aturan dari Pusat

AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Walikota Balikpapan, Rahmad Masud ditemui di BSCC Dome Balikpapan, Minggu (21/11/2021). TRIBUNKALTIM.CO/MOHAMMAD ZEIN RAHMATULLAH

TRIBUNKALTIM.CO, BALIKPAPAN - Jelang akhir tahun 2021, pemerintah pusat mewacanakan akan memberlakukan PPKM level 3 di seluruh Kota Indonesia.

Dimintai tanggapannya, Walikota Balikpapan, Rahmad Masud mengatakan, dirinya mengaku akan mengikuti sebagaimana arahan dari pemerintah pusat.

"Ya, kita ikutin bagaimana kebijakan pemerintah pusat yang disampaikan semua daerah. Kita ikutin lah, kan kita ini asas taat aturan," ucap dia, Minggu (21/11/2021).

Disinggung soal realisasi, dia menjelaskan salah satu langkah yang kemungkinan diambil ialah pembatasan, paling tidak hanya pada Desember saja.

"Mungkin masuk juga harus PCR. Setahu saya, kalau level 3 kemudian pelaku pelaksanaan kegiatan ibadah juga sangat dibatasi. Termasuk penyekatan, kan level 3 termasuk itu," ujarnya.

Baca juga: PPKM Level 3 Seluruh Indonesia, Komisi IV DPRD Samarinda Sebut Strategi Cegah Lonjakan Covid-19

Baca juga: Protes Komunitas Warteg Nusantara Respon PPKM Level 3 di Akhir Tahun 2021, Pertanyakan Fungsi Vaksin

Menurutnya, ini mengacu pada evaluasi dari 2 tahun terakhir.

Menurutnya, pengalaman 2 tahun terakhir lonjakan kasus Covid-19 terjadi di akhir-akhir tahun.

Bahkan ia menegaskan bahwa hal itu merupakan kenyataan.

"Ini diadakanlah pembatasan, termasuk orang-orang untuk bepergian, merayakan berkumpul dengan keramaian karena kita menghindari," jelas Rahmad Masud.

Rahmad mengungkapkan, terlalu banyak anggaran yang dikeluarkan, baik oleh pemerintah pusat hingga pemerintah daerah untuk penanganan Covid-19.

Baca juga: Tantangan Perhotelan dalam Libur Natal 2021 dan Tahun Baru Bila Benar-benar PPKM Level 3

Artinya, ia berpendapat, jika tidak dibarengi dengan protokol kesehatan, maka akan sia-sia perjuangan pemerintah termasuk para tenaga kesehatan hingga masyarakat umum yang berguguran.

"Pengalaman itulah yang jadi acuan kita untuk mengantisipasi. Lebih baik kita mengantisipasi daripada mengobati," ucapnya. (*)