Rabu, 8 April 2026

Warga Pilih Beli Eceran, Omset Pedagang Beras Turun

Karena ketakutan, warga yang biasa membeli per karung kini memilih eceran.

Penulis: tribunkaltim |
TRIBUN KALTIM/CHRISTOPER DESMAWANGGA
Pedagang beras di Pasar Segiri, Samarinda, Kalimantan Timur mengeluh omset menurun karena banyaknya pelanggan yang khawatir beli beras karungan. 

Laporan wartawan Tribun Kaltim, Christoper Desmawangga, Margareta Sarita, dan Febriawan

TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA - Derasnya pemberitaan terkait beras sintesis atau plastik yang mulai beredar di berbagai daerah, termasuk Kaltim berdampak turunnya omset pedagang hingga 20 persen per hari. Karena ketakutan, warga yang biasa membeli per karung kini memilih eceran.

"Pengaruhnya besar sekali tentang beras plastik ini, turun pendapatan saya sampai 20 persen. Untuk pedagang seperti saya, itu jumlah besar, karena sehari biasanya pendapatan saya sekitar Rp 500 ribu," ujar Mappiasse (38), pedagang beras di Pasar Segiri, Samarinda, Kalimantan Timur, Selasa (26/5/2015).

Mappiasse mengatakan, warga yang biasa membeli beras per karung, sekarang maksimal hanya beli 10 kilogram. Bahkan banyak yang membeli eceren atau per kilogram saja.

Baca: Pedagang Mengeluh Isu Beras Plastik Bikin Omzet Menurun

Ayu Lestari (35), warga Samarinda mengaku khawatir setelah melihat pemberitaan tentang beras oplosan yang tak kunjung hentinya.

"Jadinya takut-takut juga beli beras, tapi kalau tidak makan nasi, mau makan apa lagi," ucapnya.

Begitu pun Siti Hafsah (40), merasa waswas dan ragu dengan kualitas beras saat ini. "Sekarang saya beli beras sedikit saja, biasanya saya beli langsung dua karung yang beratnya 25 Kg, sekarang beli 10 Kg saja. Ini sebagai antisipasi jika nantinya memang benar beras plastik sudah ada di Samarinda," katanya.

Meskipun pembeli mulai mengurangi belanjaan beras, Mappiasse tidak berniat menurunkan harga. Dia meyakini beras yang mengandung sintetis tidak sampai Samarinda. Di kiosnya, beras eceran termurah harganya mulai Rp 8.500 hingga Rp 9.000 per kilogram. Sedangkan harga beras termahal per kilogram Rp 11.000.

Kapolsek Muara Lawa AKP Chandra mengungkapkan, maskipun Badan Ketahanan Pangan (BKP) Kaltim telah menginformasikan telah menemukan beras oplosan di Muara Lawa, hingga saat ini kepolisian setempat belum menerima bukti fisiknya.

Chandra mengatakan, bersama jajarannya mendampingi BKP Kaltim mengambil sampel beras di rumah warga Muara Lawa yang diduga palsu, Selasa kemarin.

"Sampai saat ini kami belum bisa mengambil tindakan apapun, sebelum hasil uji lab kami terima," katanya.

Baca: Tak Bisa Bedakan Beras Plastik, Warga Takut Makan Nasi

Hal senada juga disampaikan BKP Kubar. Pihaknya masih menunggu hasil penelitian contoh beras yang diduga dioplos bahan sintetis yang ditemukan di Kecamatan Muara Lawa oleh BKP Kaltim.

"Sampai saat ini kami (BKP Kubar) belum menerima hasil uji lab sampel temuan beras plastik di Muara Lawa," ujar Kepala Kantor BKP Kubar, Abraham.

Sumber: Tribun Kaltim
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved