Rabu, 8 April 2026

Ramadhanku

Masjid Daarussalaam, Dulunya Mushala Kini Miliki Kompleks Pendidikan

Muhammad Idris masih mengingat benar kerisauannya pada awal 1990. Saat itu, ia bersama beberapa rekannya merupakan jamaah tetap mushala sederhana.

TRIBUN KALTIM/KHOLISH CHERED
Masjid Daarussalam, Sangatta yang dulu hanya berupa mushala kecil, kini telah berubah menjadi masjid yang juga memiliki pusat pendidikan Islam. 

TRIBUNKALTIM.CO, SANGATTA - MUHAMMAD Idris masih mengingat benar kerisauannya pada awal tahun 1990. Saat itu, ia bersama beberapa rekannya merupakan jamaah tetap mushala sederhana yang berada di sekitar Junior Camp PT Kaltim Prima Coal (KPC), Sangatta.

Pulang bekerja dari tambang, mereka melaksanakan shalat lima waktu di mushala yang diberi nama Daarussalaam tersebut. Namun belakangan, timbul rasa haus terhadap ilmu, dakwah, dan pembelajaran Islam. Karena aktivitas di mushala sebatas rutinitas shalat.

Akhirnya, beberapa pekerja tambang berusia muda tersebut berinisiatif mendatangkan ustadz atau pembina dari luar Sangatta. Karena akses ke Kecamatan Sangatta (saat itu bagian dari Kabupaten Kutai) yang masih sulit, hanya via jalur udara dan laut, maka mereka meminta dukungan dari pihak perusahaan.

Perusahaan pun menyanggupi memberikan dukungan transportasi, sehingga akhirnya setiap bulan ada beberapa ustadz yang didatangkan untuk membina warga. Awalnya satu-dua pembina per bulan, dan belakangan terus meningkat. Upaya ini berbuah manis, hingga jamaah mushala tersebut kian bertambah.

Bahkan pekerja tambang dari beberapa pit operasi juga melaksanakan shalat lima waktu di mushala tersebut. Belakangan, warga berinisiatif untuk meningkatkan "status" mushala tersebut menjadi masjid, termasuk melalui penyelenggaraan shalat Jumat.

Pada sisi lain, di kawasan pit tambang mulai dibangun mushala kecil. Seperti di Pit Surya, Bintang, dan Hatari. Pihak perusahaan juga mulai membangun mushala di sekitar perumahan karyawan, seperti di Bukit, Lembah Hijau, Panorama, Bumi Etam, dan Sisi Danau. (Baca juga: Masjid Baiturrahman Rutin Salurkan Beasiswa untuk Pelajar Miskin)

Waktu terus berjalan, dakwah kian bergulir, jamaah masjid pun kian bertambah. Hingga pada tahun 1996, hadir gagasan untuk melakukan renovasi bangunan masjid. Melalui upaya penggalangan dana yang maksimal, akhirnya terbangunlah bangunan masjid yang lebih besar.

"Ukurannya sekitar 40 x 40 meter. Kami mengedepankan sisi luas. Karena ketika shalat Jumat, jamaah semakin banyak. Kapasitasnya sekitar 600 sampai 700 orang," kata Muhammad Idris, Ketua Yayasan Pembina Muslim Daarussalaam (YPMD). Bangunan hasil renovasi tahun 1996 itu bertahan hingga saat ini.

Seiring berjalannya waktu, muncul aspirasi dari jamaah masjid agar pihak YPMD (yang didirikan tanggal 30 April 1992), mulai mengembangkan aspek pendidikan dan sosial disamping dakwah. Pihak yayasan pun menyambut aspirasi ini dan merealisasikannya secara bertahap.

Pada tahun 1994, YPMD membuka TK Islam Terpadu, memanfaatkan barak-barak yang kosong di Prima Camp, yang berdekatan dengan bangunan masjid. Kemudian dilanjutkan pembukaan SLB tahun 1996, SDIT tahun 2000, dan SMPIT tahun 2005. Pengembangan unit pendidikan ini mendapatkan dukungan penuh dari Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT) pusat.

"Alhamdulillaah, aktivitas pendidikan yang dikelola yayasan terus berkembang. Warga yang berminat untuk menyekolahkan anaknya juga meningkat. Hingga saat ini, TKIT sudah meluluskan 21 angkatan, SDIT 9 angkatan, dan SMPIT 6 angkatan," kata Idris, yang sudah beberapa periode dipercaya menjadi Ketua YPMD.

Kini, Masjid Daarussalaam dan YPMD menjadi salah satu sentra pengembangan dakwah Islam di Sangatta. YPMD pun melebarkan sayap dakwahnya dengan mengkoordinir dakwah di 15 masjid di sekitar perumahan dan pit PT KPC.

"Kami menjadwalkan dakwah dan ceramah di 15 masjid. Termasuk mengatur jadwal safari bilamana ada ustadz tamu dari luar Sangatta atau luar Kalimantan," kata Idris. Di bulan Ramadhan tahun ini, ada 14 ustadz tamu yang dihadirkan untuk berbagi ilmu dan pengalaman.

Beberapa kegiatan lain, YPMD juga mengelola zakat, infaq, dan shadaqah via Baitul Maal wat-Tamwil (BMT). Termasuk pendistribusiannya, baik di Sangatta maupun beberapa kecamatan di pedalaman. Hingga pelaksanaan ruqyah syar'iyyah.

YPMD juga melakukan pembinaan kepada pemuda melalui pembentukan Insan Muda Daarussalaam (Imda), maupun pengembangan IT melalui pendirian Radio Swara Daarussalaam di frekuensi 100.2 FM.

Sumber: Tribun Kaltim
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved