Sabtu, 18 April 2026

Berita Nasional Terkini

Diserang Soal Google Scholar, Roy Suryo Balik Serang Rismon Sianipar: Integritas yang Utama

Roy Suryo dan Rismon Sianipar berseteru soal Google Scholar dan kredibilitas peneliti terkait buku Jokowi’s White Paper dan isu ijazah Jokowi.

Editor: Doan Pardede
Tribunnews.com/YouTube Balige Academy
DEBAT PANAS - Rismon Sianipar dan Roy Suryo. Roy Suryo dan Rismon Sianipar berseteru soal Google Scholar dan kredibilitas peneliti terkait buku Jokowi’s White Paper dan isu ijazah Jokowi. 
Ringkasan Berita:
  • Polemik antara Roy Suryo dan Rismon Sianipar memanas terkait kredibilitas peneliti dan isi buku Jokowi’s White Paper.
  • Rismon menyoroti ketiadaan karya Roy di Google Scholar, sementara Roy menegaskan bahwa pengalaman dan integritas lebih penting daripada indeks akademik.

TRIBUNKALTIM.CO - Polemik antara Roy Suryo dan Rismon Sianipar kian memanas.

Keduanya saling melontarkan pernyataan terkait kredibilitas sebagai peneliti, khususnya dalam pembahasan buku Jokowi’s White Paper yang menyinggung ijazah Presiden ke-7 RI, Joko Widodo.

Rismon Sianipar sebelumnya menyebut Roy Suryo tidak layak disebut sebagai peneliti.

Ia beralasan, tidak ada karya Roy yang terindeks di Google Scholar, sebuah mesin pencari yang digunakan untuk menelusuri literatur akademik seperti jurnal, tesis, dan laporan ilmiah.

Baca juga: Rismon Sianipar Dapat SP3 Kasus Ijazah Jokowi, Andi Azwan: Di Sini Sudah Senyum-senyum Semua

Menurut Rismon, indikator tersebut penting karena menunjukkan apakah sebuah karya ilmiah diakui dan dirujuk oleh peneliti lain. Pernyataan itu disampaikan melalui kanal YouTube pribadinya, Balige Academy, pada Minggu (12/4/2026).

“Tidak ada satu pun tulisannya atau bukunya yang dirujuk oleh penulis lain. Pantas saja Google Scholar-nya tidak ada,” ujar Rismon.

Selain itu, ia juga menyoroti isi buku Jokowi’s White Paper. Rismon menilai, dalam tulisan Roy Suryo tidak terdapat metode ilmiah maupun data yang dapat membuktikan klaim bahwa ijazah Jokowi “99,9 persen palsu”.

“Saya sudah baca tuntas, tidak ada metode maupun angka yang mengarah ke kesimpulan itu,” tegasnya seperti dilansir Tribunnews.com.

Tanggapan Roy Suryo

Menanggapi hal tersebut, Roy Suryo menilai bahwa penilaian seorang ahli tidak bisa hanya didasarkan pada keberadaan karya di Google Scholar.

Ia menegaskan, pengalaman panjang sebagai saksi ahli di berbagai persidangan serta keterlibatannya dalam seminar dan diskusi ilmiah menjadi indikator yang tidak kalah penting.

“Kalau ada orang mempertanyakan kredibilitas saya, ya saya senyum saja. Sudah puluhan tahun saya menjadi ahli di berbagai kasus dan persidangan. Tidak semua harus ada di Google Scholar,” ujar Roy, dikutip dari program Zoomcast di YouTube Kompas TV, Jumat (17/4/2026).

Roy juga menekankan bahwa faktor utama seorang peneliti adalah integritas.

Ia bahkan menyindir balik Rismon terkait hal tersebut.

“Yang paling penting itu integritas. Orang yang tidak punya integritas, berbohong pada dirinya sendiri dan orang lain, ya sudah end game,” katanya.

Baca juga: Kasus Ijazah Jokowi, Rismon Sianipar Bantah Label Pengkhianat dari Kubu Roy Suryo

Perdebatan Soal Standar Peneliti

Perdebatan ini mencerminkan perbedaan pandangan soal standar akademik.

Di satu sisi, publikasi ilmiah yang terindeks seperti di Google Scholar sering dijadikan tolok ukur kredibilitas akademik.

Namun di sisi lain, pengalaman praktis dan rekam jejak profesional juga kerap dianggap sebagai indikator keahlian.

Kontroversi ini juga berkaitan dengan isu yang lebih luas, yakni polemik ijazah Presiden Joko Widodo yang sebelumnya telah melalui berbagai proses hukum dan pengujian di sejumlah lembaga.

Ikuti berita populer lainnya di saluran berikut: Channel WA, Facebook, X (Twitter), YouTube, Threads, Telegram 

Sumber: Tribun Kaltim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved