Berita Ekbis Terkini
Rupiah Makin Tertekan, Melemah hingga Sentuh Rp17.508 per Dolar AS, Ini Ulasan Ekonom
Nilai tukar rupiah kembali tertekan pada perdagangan Selasa (12/5/2026) pagi. Kurs rupiah terus turun.
Ringkasan Berita:
TRIBUNKALTIM.CO - Nilai tukar rupiah kembali tertekan pada perdagangan Selasa (12/5/2026) pagi.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah dibuka di posisi Rp17.479 per dolar AS, melemah 0,37 persen dibanding penutupan sebelumnya di Rp17.414.
Pelemahan berlanjut hingga pukul 09.50 WIB, ketika rupiah menyentuh Rp17.508 per dolar AS.
Baca juga: Rupiah Melemah ke Level Rp 17.300 per Dollar AS, Ekonom Soroti Tekanan Berat Ekonomi Indonesia
Kondisi ini menunjukkan tren depresiasi rupiah yang konsisten sejak awal pekan.
Depresiasi berarti penurunan nilai mata uang terhadap mata uang asing.
Tekanan rupiah dipicu oleh sentimen global, terutama kenaikan harga minyak dunia akibat konflik di Timur Tengah.
Pakar ekonomi Ferry Latuhihin menilai lonjakan harga energi memperburuk tekanan fiskal dan eksternal Indonesia.
“Harga minyak dan fiscal crack kita (membebani rupiah),” ujarnya dikutip dari Kontan.
Istilah fiscal crack merujuk pada tekanan terhadap anggaran negara akibat lonjakan pengeluaran atau defisit.
Baca juga: Pengamat Ekonomi Politeknik Bisnis Kaltara: Melemahnya Rupiah Ancam Stabilitas Moneter Dalam Negeri
Tercatat, harga minyak Brent berjangka yang berakhir pada Juli, patokan minyak global, naik 2,9 persen menjadi USD104,22 per barel.
Sementara harga minyak mentah West Texas Intermediate AS berjangka yang berakhir pada Juni naik 2,8 persen menjadi USD98,03 per barel.
Menurutnya, lonjakan harga energi memperlebar tekanan terhadap kondisi fiskal dan eksternal Indonesia.
“Harga minyak dan fiscal crack kita (membebani rupiah),” ujar Ferry dikutip dari Kontan.
Baca juga: Rupiah Makin Lemah, Pembelian Dollar AS Diperketat, Gubernur BI Laporkan Langkah yang Ditempuh
Meski ekonomi Indonesia kuartal I 2026 tumbuh 5,61 persen, pelaku pasar dinilai belum sepenuhnya percaya terhadap data-data ekonomi domestik yang dirilis pemerintah, termasuk angka pertumbuhan ekonomi dari Data Badan Pusat Statistik (BPS).
Ia menyebut, tekanan terhadap rupiah masih berpotensi berlanjut apabila kondisi global tidak membaik dan ketahanan eksternal domestik terus melemah.
Bahkan, Ferry memperkirakan nilai tukar rupiah berisiko menyentuh level Rp 25.000 per dolar AS pada semester II-2026. (*)
Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Rupiah Anjlok ke Rp17.508 per Dolar AS, Pasar Mulai Kehilangan Kepercayaan Terhadap Indonesia?
| Harga Emas Antam Hari Ini 12 Mei 2026 Masih Tinggi, Tembus Rp2,819 Juta per Gram |
|
|---|
| Harga BBM Pertamina 12 Mei 2026, Pertamax Turbo dan Dexlite Masih Mahal |
|
|---|
| Transfer ke Daerah Dipangkas, Ekonom sebut Tekanan Fiskal Daerah Mulai Masuk Kategori Serius |
|
|---|
| Sebut Utang Pemerintah Nyaris Rp10.000 T Masih Aman, Purbaya: Kenapa Lihat dari Sisi Negatif Terus? |
|
|---|
| Harga Keekonomian Pertamax Berpotensi Melonjak hingga Rp 17.000 per Liter, Penjelasan Pertamina |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/20260503_nilai-tukar-rupiah_dollar-AS_IHSG.jpg)