Selasa, 12 Mei 2026

Berita Ekbis Terkini

Rupiah Makin Tertekan, Melemah hingga Sentuh Rp17.508 per Dolar AS, Ini Ulasan Ekonom

Nilai tukar rupiah kembali tertekan pada perdagangan Selasa (12/5/2026) pagi. Kurs rupiah terus turun.

Tayang:
Tribunnews.com/Jeprima
NILAI TUKAR RUPIAH - Uang rupiah di antara dolar AS di money changer DolarAsia, Jakarta Selatan, Selasa (27/1/2026). Nilai tukar rupiah kembali tertekan pada perdagangan Selasa (12/5/2026) pagi. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah dibuka di posisi Rp17.479 per dolar AS, melemah 0,37 persen dibanding penutupan sebelumnya di Rp17.414. 

Ringkasan Berita:
  • Rupiah melemah hingga Rp17.508 per dolar AS pada perdagangan pagi, dipicu sentimen global.
  • Lonjakan harga minyak akibat konflik Timur Tengah menjadi faktor utama pelemahan rupiah.
  • Risiko rupiah diperkirakan masih berlanjut jika kondisi global tidak stabil dan ketahanan eksternal melemah.

TRIBUNKALTIM.CO - Nilai tukar rupiah kembali tertekan pada perdagangan Selasa (12/5/2026) pagi.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah dibuka di posisi Rp17.479 per dolar AS, melemah 0,37 persen dibanding penutupan sebelumnya di Rp17.414.

Pelemahan berlanjut hingga pukul 09.50 WIB, ketika rupiah menyentuh Rp17.508 per dolar AS.

Baca juga: Rupiah Melemah ke Level Rp 17.300 per Dollar AS, Ekonom Soroti Tekanan Berat Ekonomi Indonesia

Kondisi ini menunjukkan tren depresiasi rupiah yang konsisten sejak awal pekan.

Depresiasi berarti penurunan nilai mata uang terhadap mata uang asing.

Tekanan rupiah dipicu oleh sentimen global, terutama kenaikan harga minyak dunia akibat konflik di Timur Tengah.

Pakar ekonomi Ferry Latuhihin menilai lonjakan harga energi memperburuk tekanan fiskal dan eksternal Indonesia.

“Harga minyak dan fiscal crack kita (membebani rupiah),” ujarnya dikutip dari Kontan.

Istilah fiscal crack merujuk pada tekanan terhadap anggaran negara akibat lonjakan pengeluaran atau defisit.

Baca juga: Pengamat Ekonomi Politeknik Bisnis Kaltara: Melemahnya Rupiah Ancam Stabilitas Moneter Dalam Negeri

Tercatat, harga minyak Brent berjangka yang berakhir pada Juli, patokan minyak global, naik 2,9 persen menjadi USD104,22 per barel. 

Sementara harga minyak mentah West Texas Intermediate AS berjangka yang berakhir pada Juni naik 2,8 persen menjadi USD98,03 per barel.

Menurutnya, lonjakan harga energi memperlebar tekanan terhadap kondisi fiskal dan eksternal Indonesia.

“Harga minyak dan fiscal crack kita (membebani rupiah),” ujar Ferry dikutip dari Kontan.

Baca juga: Rupiah Makin Lemah, Pembelian Dollar AS Diperketat, Gubernur BI Laporkan Langkah yang Ditempuh

Meski ekonomi Indonesia kuartal I 2026 tumbuh 5,61 persen, pelaku pasar dinilai belum sepenuhnya percaya terhadap data-data ekonomi domestik yang dirilis pemerintah, termasuk angka pertumbuhan ekonomi dari Data Badan Pusat Statistik (BPS).

Ia menyebut, tekanan terhadap rupiah masih berpotensi berlanjut apabila kondisi global tidak membaik dan ketahanan eksternal domestik terus melemah. 

Bahkan, Ferry memperkirakan nilai tukar rupiah berisiko menyentuh level Rp 25.000 per dolar AS pada semester II-2026. (*)

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Rupiah Anjlok ke Rp17.508 per Dolar AS, Pasar Mulai Kehilangan Kepercayaan Terhadap Indonesia?

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved