Kamis, 21 Mei 2026

Berita Ekbis Terkini

Rupiah Melemah Lagi Hari Ini, Tembus Rp 17.670 per Dolar AS, Ini Penyebabnya

Rupiah kembali melemah tipis pada perdagangan Kamis setelah sempat menguat, tertekan penguatan dolar AS di tengah memanasnya konflik Timur Tengah.

Tayang:
Editor: Heriani AM
TRIBUNKALTIM.CO/BUDI SUSILO
RUPIAH HARI INI - Ilustrasi mata uang rupiah. Rupiah kembali melemah tipis pada perdagangan Kamis setelah sempat menguat, tertekan penguatan dolar AS di tengah memanasnya konflik Timur Tengah. 

Ringkasan Berita:
  • Rupiah kembali melemah tipis pada perdagangan Kamis (21/5/2026) setelah sempat menguat, tertekan penguatan dolar AS di tengah memanasnya konflik Timur Tengah.
  • Kekhawatiran gangguan pasokan minyak lewat Selat Hormuz memicu ancaman inflasi global dan membuka peluang The Fed kembali menaikkan suku bunga.
  • Dari dalam negeri, kenaikan BI Rate ke 5,25 persen dan target ekonomi pemerintah jadi penopang, namun rupiah diprediksi masih fluktuatif di Rp17.650–17.700 per dolar AS.

 

TRIBUNKALTIM.CO - Nilai tukar rupiah kembali bergerak di zona pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (21/5/2026), setelah sebelumnya sempat mencatat penguatan tipis di pasar spot. 

Pergerakan mata uang Garuda ini menunjukkan kondisi pasar yang masih belum stabil di tengah tekanan global yang terus berkembang.

Pada sesi perdagangan sebelumnya, rupiah sempat ditutup menguat 0,29 persen ke level Rp 17.654 per dolar AS.

Namun, pembukaan perdagangan hari ini hanya menunjukkan penguatan terbatas sebelum akhirnya kembali tertekan hingga menyentuh kisaran Rp 17.670 per dolar AS pada siang hari.

Baca juga: Rupiah Loyo, Pengamat Ekonomi dari STIE Balikpapan Desak Kepastian Kebijakan Ekspor Batu Bara Kaltim

Pada perdagangan Kamis (21/5/2026), rupiah dibuka menguat tipis menjadi Rp 17.652 per dolar AS.

Akan tetapi, per pukul 12.34 WIB, rupiah melemah 0,05 % menjadi Rp 17.670 per dolar AS.

Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi mengatakan penguatan indeks dolar AS dipicu oleh meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap konflik di Timur Tengah, khususnya yang melibatkan AS, Israel, dan Iran.

"Presiden AS Donald Trump kembali menegaskan perang dengan Iran akan berakhir dengan sangat cepat, meskipun investor tetap waspada terhadap hasil perundingan perdamaian di tengah gangguan berkelanjutan terhadap pasokan Timur Tengah akibat konflik tersebut," ujar Ibrahim.

Ia menambahkan, pasar global juga mencermati ancaman gangguan pasokan minyak dunia akibat penutupan efektif Selat Hormuz.

Baca juga: KPK: Triliunan Rupiah Anggaran MBG Mengendap di Yayasan dan Rekrutmen SPPG yang Tak Transparan

Kondisi ini dinilai berpotensi mendorong lonjakan harga energi dan meningkatkan tekanan inflasi global.

Menurut Ibrahim, situasi tersebut dapat memperbesar peluang bank sentral AS atau The Fed kembali menaikkan suku bunga acuannya.

Prospek kenaikan suku bunga AS itu turut mendorong penguatan dolar AS dan memberikan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Dari dalam negeri, sentimen positif yang sempat menopang penguatan rupiah berasal dari pidato Presiden Prabowo Subianto di DPR RI yang menargetkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2027 berada di kisaran 5,8 % hingga 6,5 % .

Selain itu, Bank Indonesia juga memutuskan menaikkan suku bunga acuan BI Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 % .

Langkah tersebut diambil untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah meningkatnya ketidakpastian global dan tekanan eksternal terhadap pasar keuangan domestik.

Ibrahim memproyeksikan pergerakan rupiah pada perdagangan hari ini masih akan fluktuatif dengan kecenderungan melemah di kisaran Rp 17.650 hingga Rp 17.700 per dolar AS.

Artikel ini telah tayang di Kontan.co.id

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved