Senin, 25 Mei 2026

Berita Ekbis Terkini

Mengapa Ringgit Malaysia Terus Menguat terhadap Dolar AS? Ini Faktor Pendorongnya

Ringgit Malaysia terus menguat terhadap dolar AS dan mata uang Asia lain, ditopang meredanya tensi Timur Tengah serta ekonomi domestik yang membaik.

Tayang:
Editor: Heriani AM
Tribunnews.com/Jeprima
RINGGIT MENGUAT - Ilustrasi petugas merapikan tumpukan mata uang dollar di Kantor Cabang Muamalat Tower, Jakarta, Kamis (5/3/2026). Ringgit Malaysia terus menguat terhadap dolar AS dan mata uang Asia lain, ditopang meredanya tensi Timur Tengah serta ekonomi domestik yang membaik. 
Ringkasan Berita:
  • Ringgit Malaysia terus menguat terhadap dolar AS dan mata uang Asia lain, ditopang meredanya tensi Timur Tengah serta ekonomi domestik yang membaik.
  • Malaysia diuntungkan gelombang investasi teknologi “China Plus One”, termasuk ekspansi Intel dan AMD di Penang.
  • Disiplin fiskal, arus modal asing, hingga lonjakan pariwisata disebut jadi faktor utama penguatan ringgit hingga 2026.

 

TRIBUNKALTIM.CO - Nilai tukar ringgit Malaysia kembali menunjukkan penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dan sejumlah mata uang utama dunia pada perdagangan Jumat (22/5/2026). 

Penguatan mata uang Negeri Jiran ini ditopang meredanya tensi geopolitik di Timur Tengah serta membaiknya kondisi fundamental ekonomi Malaysia.

Data perdagangan menunjukkan ringgit bergerak lebih kuat terhadap dolar AS dibanding penutupan sebelumnya.

Penguatan tersebut juga terjadi terhadap euro, poundsterling Inggris, yen Jepang, hingga sejumlah mata uang regional Asia Tenggara, termasuk rupiah Indonesia dan dolar Singapura.

Baca juga: Ringgit Jadi Mata Uang Terkuat di Asia Awal 2026, Ini Peringkat Rupiah Indonesia

Pada pukul 08.00 waktu setempat, ringgit menguat menjadi 3,9550/9645 (kurs beli/jual) terhadap dolar AS dari penutupan Kamis di level 3,9595/9630.

Kepala Ekonom Bank Muamalat Malaysia Bhd, Mohd Afzanizam Abdul Rashid, mengatakan optimisme bahwa Amerika Serikat (AS) dan Iran akan segera mencapai resolusi damai terus meningkat.

Ia mengatakan harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) dan Brent turun masing-masing 1,49 persen dan 2,32 persen menjadi 97,79 dolar AS per barel dan 102,58 dolar AS per barel.

“Menurut kantor berita Iran, Teheran sedang mengevaluasi proposal dari AS yang telah mempersempit kesenjangan sampai batas tertentu,” katanya kepada Bernama.

Ia juga menyebut ringgit diperkirakan tetap berada dalam posisi yang kuat di tengah latar belakang makroekonomi Malaysia yang positif, terutama karena surplus neraca transaksi berjalan meningkat menjadi 3,0 persen dari produk domestik bruto (PDB) pada kuartal I 2026, dari 0,5 persen pada kuartal sebelumnya.

“Selain itu, posisi fiskal pemerintah terus membaik, dengan defisit fiskal menyempit menjadi 17,1 miliar ringgit Malaysia atau 3,3 persen dari PDB pada kuartal I 2026, dari 21,9 miliar ringgit Malaysia atau 4,5 persen dari PDB pada periode yang sama tahun 2025. Oleh karena itu, ringgit diperkirakan tetap mendapat dukungan kuat di kisaran 3,95 hingga 3,96 terhadap dolar AS hari ini,” katanya.

Baca juga: Purbaya Yakin Rupiah Menguat ke Rp 15.000 per Dollar AS, Imbau Jangan Takut Krisis 1998 Terulang

Pada pembukaan perdagangan, ringgit juga diperdagangkan lebih tinggi terhadap sekeranjang mata uang utama.

Ringgit menguat terhadap poundsterling Inggris menjadi 5,3120/3247 dari 5,3220/3267 pada penutupan Kamis, menguat terhadap euro menjadi 4,5945/6056 dari 4,6037/6078 sebelumnya, dan naik terhadap yen Jepang menjadi 2,4866/4928 dari 2,4906/4929.

Selain itu, ringgit juga menguat terhadap mata uang regional.

Ringgit menguat terhadap dolar Singapura menjadi 3,0949/1026 dari sebelumnya 3,0967/0997 dan menguat terhadap baht Thailand menjadi 12,1286/1648 dari sebelumnya 12,1304/1468.

Ringgit juga menguat terhadap rupiah Indonesia menjadi 223,8/224,5 dari sebelumnya 224,1/224,4 dan menguat terhadap peso Filipina menjadi 6,42/6,44 dari sebelumnya 6,43/6,44.

Mengapa Ringgit Malaysia Terus Menguat?

Mengutip situs layanan manajemen keuangan PhillipInvest.com.my, sejak 2024 ringgit Malaysia mulai menunjukkan tanda-tanda penguatan setelah melemah selama lima dekade terakhir.

Menjelang 2026, sejumlah faktor besar mulai dari penataan ulang rantai pasokan global, pengelolaan fiskal yang lebih kuat, hingga peningkatan investasi asing langsung menunjukkan bahwa ringgit masih memiliki ruang untuk menguat.

Baca juga: Rupiah Loyo, Pengamat Ekonomi dari STIE Balikpapan Desak Kepastian Kebijakan Ekspor Batu Bara Kaltim

Berikut faktor-faktor utama yang mendukung penguatan ringgit hingga 2026.

1. Ledakan teknologi “China Plus One”

Karena perusahaan global berupaya mengurangi ketergantungan terhadap China, banyak perusahaan aktif mencari basis produksi alternatif di Asia.

Malaysia muncul sebagai pilihan utama karena stabilitas politik, tenaga kerja terampil, dan infrastruktur yang berkembang baik.

Di tengah meningkatnya ketegangan AS-China, sejumlah perusahaan memindahkan rantai pasokan penting keluar dari China.

Penang kini semakin dikenal sebagai “Silicon Valley-nya ASEAN”.

Perusahaan besar seperti AMD dan Intel mendorong pertumbuhan di Penang melalui investasi asing yang signifikan pada pusat data AI, fasilitas manufaktur semikonduktor, dan kawasan industri berteknologi tinggi.

Masuknya investasi perusahaan multinasional tersebut membuat kebutuhan konversi mata uang asing ke ringgit meningkat, sehingga memperkuat permintaan terhadap mata uang Malaysia itu dalam jangka panjang.

2. Kesenjangan suku bunga yang lebih kecil

Pada akhir 2025, Federal Reserve AS dan beberapa bank sentral utama lainnya mulai memangkas suku bunga untuk mendukung perekonomian mereka.

Sebaliknya, Bank Negara Malaysia mempertahankan suku bunga kebijakan di level 2,75 persen.

Akibatnya, selisih suku bunga antara Malaysia dan AS menyempit sepanjang 2025 hingga awal 2026 dan menjadi salah satu pendorong utama apresiasi ringgit Malaysia.

Dengan imbal hasil yang relatif stabil dan kompetitif, obligasi serta deposito Malaysia menjadi semakin menarik bagi investor global yang mencari keuntungan lebih tinggi.

Hal ini meningkatkan arus masuk modal asing dan mendukung penguatan ringgit.

Baca juga: KPK: Triliunan Rupiah Anggaran MBG Mengendap di Yayasan dan Rekrutmen SPPG yang Tak Transparan

3. Disiplin fiskal yang lebih kuat

Pemerintah Malaysia mengambil langkah konkret untuk memperkuat keuangan negara dengan mengurangi subsidi bensin secara menyeluruh dan menggantinya dengan subsidi yang lebih terarah.

Penghematan dari reformasi tersebut disalurkan kembali melalui program seperti Sumbangan Asas Rahmah (SARA), yang memberikan bantuan langsung kepada rumah tangga berpenghasilan rendah.

Langkah-langkah ini membantu memulihkan kepercayaan terhadap pengelolaan fiskal Malaysia dan mulai tercermin di pasar.

Setelah mengalami arus keluar sebesar 22,3 miliar ringgit Malaysia pada 2025, investor asing kembali menjadi pembeli bersih dengan arus masuk sekitar 1,0 miliar ringgit Malaysia pada Januari 2026.

Arus masuk tersebut menunjukkan meningkatnya kepercayaan investor lokal maupun internasional terhadap arah ekonomi Malaysia.

Secara keseluruhan, kebijakan tersebut membuat pengeluaran pemerintah lebih terkendali, efisien, dan berkelanjutan. Defisit anggaran menyempit dan posisi fiskal Malaysia membaik.

Lembaga pemeringkat kredit internasional dan investor obligasi melihat hal itu sebagai tanda disiplin kebijakan yang lebih kuat dan perencanaan jangka panjang yang lebih baik.

Dengan meningkatnya kepercayaan terhadap keuangan publik Malaysia, permintaan terhadap ringgit ikut meningkat dan membantu memperkuat nilainya.

4. Pariwisata dan perdagangan yang tangguh

Malaysia mencatat pemulihan pariwisata bersejarah pada 2025 dengan menyambut 42 juta wisatawan internasional.

Momentum tersebut diperkirakan berlanjut melalui kampanye Visit Malaysia 2026 yang menargetkan 47 juta wisatawan tahun ini.

Wisatawan membawa mata uang asing yang kemudian ditukarkan ke ringgit, sehingga turut mendukung penguatan mata uang tersebut.

Pada saat yang sama, perjanjian perdagangan baru dan pasar ekspor yang semakin terdiversifikasi membantu menstabilkan ekspor Malaysia.

Kombinasi sektor pariwisata dan perdagangan menjaga arus masuk mata uang asing tetap stabil dan memperkuat pemulihan ringgit. (*)

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Nilai Mata Uang Tetangga Indonesia Terus Menguat, Ini Faktor yang Menopang Kekuatan Ringgit Malaysia

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved