Selasa, 9 Juni 2026

Berita Nasional Terkini

Dampak Serius Pelemahan Rupiah, Pengamat: Harga Barang Naik dan Risiko PHK Meningkat

Rupiah melemah ke Rp 18.201 per dollar AS. Pakar mengingatkan dampaknya bisa memicu inflasi, menekan daya beli, dan meningkatkan risiko PHK.

Tayang:
Editor: Doan Pardede
KONTAN/Cheppy A Muchlis
NILAI TUKAR RUPIAH - Ilustrasi uang rupiah dan dollar AS. Rupiah melemah ke Rp 18.201 per dollar AS. Pakar mengingatkan dampaknya bisa memicu inflasi, menekan daya beli, dan meningkatkan risiko PHK. 

Ringkasan Berita:
  • Rupiah melemah hingga Rp 18.201 per dollar AS pada perdagangan 8 Juni 2026 dan menjadi salah satu level terendah dalam beberapa waktu terakhir. 
  • Pakar menilai pelemahan ini berpotensi memicu inflasi, menekan daya beli masyarakat, meningkatkan beban utang perusahaan, hingga memunculkan risiko PHK. 
  • Selain faktor global, sentimen terhadap kebijakan domestik dan arus keluar investor asing juga dinilai turut memberi tekanan terhadap nilai tukar rupiah.

TRIBUNKALTIM.CO - Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan pada perdagangan Senin, 8 Juni 2026.

Hingga pukul 13.48 WIB, rupiah di pasar spot terdepresiasi 165 poin atau 0,91 persen ke level Rp 18.201 per dollar Amerika Serikat (AS).

Pelemahan ini terjadi sejak awal perdagangan. Sebelumnya, rupiah sempat berada di posisi Rp 18.170 per dollar AS atau melemah 134 poin setara 0,75 persen.

Kondisi tersebut menjadi perhatian pelaku pasar karena pelemahan rupiah dinilai tidak hanya berdampak pada sektor keuangan, tetapi juga dapat memengaruhi kondisi ekonomi masyarakat secara langsung.

Baca juga: Simpanan Rupiah Menyusut, Likuiditas Perbankan Mulai Tertekan

Pelemahan Rupiah Berpotensi Dorong Inflasi

Presiden Direktur PT Doo Financial Futures, Ariston Tjandra, menilai pelemahan rupiah dapat memicu kenaikan harga barang konsumsi maupun biaya produksi.

Menurutnya, ketika nilai tukar rupiah melemah terhadap dollar AS, biaya impor bahan baku dan barang kebutuhan meningkat. Kondisi itu berpotensi mendorong inflasi dan menekan daya beli masyarakat.

"Pelemahan rupiah ke dalam negeri berimbas ke kenaikan harga konsumsi dan produksi atau inflasi, penurunan daya beli, beban utang dollar AS meningkat, potensi PHK. Jadi itu yang dijaga," ujar Ariston.

Selain memengaruhi harga barang, perusahaan yang memiliki utang dalam mata uang dollar AS juga akan menghadapi beban pembayaran yang lebih besar.

Jika tekanan ekonomi berlangsung lama, risiko efisiensi hingga pemutusan hubungan kerja (PHK) juga dapat meningkat.

Faktor Eksternal dan Internal Tekan Rupiah

Ariston menjelaskan pelemahan rupiah saat ini dipicu kombinasi faktor global dan domestik.

Dari sisi eksternal, penguatan dollar AS masih menjadi faktor utama yang menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Selain itu, meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga minyak dunia turut memperburuk sentimen pasar.

Menurut Ariston, tekanan tersebut tidak hanya dialami Indonesia, tetapi juga banyak negara lain yang mata uangnya melemah terhadap dollar AS.

"Pelemahan rupiah saat ini adalah bauran faktor eksternal dan internal. Saat ini pengaruh faktor eksternal ini cukup kuat karena tidak hanya rupiah yang melemah terhadap dollar AS, nilai tukar lain pun melemah," katanya.

Investor Soroti MBG, Kopdes dan Danantara

Di sisi lain, faktor domestik juga dinilai ikut memperbesar tekanan terhadap rupiah.

Sumber: Tribun Kaltim
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved