Minggu, 24 Mei 2026

Opini

Kesaksian Abad: Sumber Daya Alam, Kesultanan dan Republik

Pertemuan Presiden dan Sultan Kutai menjadi pengingat bahwa pembangunan tak bisa dipisahkan dari sejarah dan kearifan lokal

Tayang: | Diperbarui:
HO/DOK PRIBADI
Abdul Rachim, HKA Bambang Oeban. 

Oleh: Abdul Rachim, HKA Bambang Oeban

Peradaban, bukan sekadar gedung tinggi atau podium berlapis karpet merah. Ia hidup di sela ingatan, di lipatan sejarah yang sering kita setrika agar tampak rapi, padahal masih basah oleh keringat leluhur.

Pada 12 Januari 2026, tanggal berdiri tegak seperti tonggak. Bukan tongkat komando, bukan pula tongkat sakti, melainkan tonggak peradaban yang menyatukan RI 1 dan Sultan, dua wajah kekuasaan yang lahir dari rahim berbeda namun menyusu pada ibu yang sama: INDONESIA.

Sejarah ibarat budaya, kata orang tua di beranda rumah panggung: “Tak lekang karena panas, tak lapuk karena hujan.” 

Ia tidak minta dielu-elukan, tidak juga merengek minta diingat, tetapi ia akan selalu hadir sebagai penyeimbang, seperti rem pada kendaraan kekuasaan yang kadang lupa bahwa jalan tak selalu lurus. 

Sejarah tak pernah pensiun. Ia hanya berganti seragam. Kadang jadi prasasti, kadang jadi cerita lisan, kadang hanya jadi bisik-bisik di antara kerabat kesultanan yang masih percaya bahwa tanah bukan sekadar peta, dan adat bukan sekadar aksesoris seremoni.

Baca juga: Menertawakan Diri Sendiri - Bagian 1

Di tengah perkembangan zaman yang melaju seperti kereta cepat tanpa tiket pulang, kita sering berkata: “Tak bisa ditolak.

Benar. Tapi sejarah pun tak bisa diusir hanya karena dianggap menghambat investasi. 

Maka di sinilah local wisdom bukan jargon seminar, bukan catatan kaki pidato, melainkan cara berpikir: bahwa membangun daerah tanpa memahami ruh daerah sama saja menanam pohon tanpa mengerti arah angin. 

Kesultanan Kutai, bukan sekadar nama dalam buku IPS, bukan pula ornamen wisata, melainkan pintu gerbang terakhir penjaga budaya dan benteng sunyi bagi masyarakat adat lainnya.

Ia bukan musuh negara, bukan pula saingan republik. Ia adalah saudara tua yang mengingatkan adiknya agar tidak lupa asal-usul. 

Sejarah selalu berulang, kata mereka yang sabar. 

Ia berulang bukan karena dendam, tetapi karena manusia terlalu sering lupa. 

Dan lupa, adalah penyakit paling kronis dalam peradaban.

Baca juga: Menertawakan Diri Sendiri – Bagian 2

Mari kita buka lembar yang sering disembunyikan, bukan untuk menuding, bukan untuk menghakimi, melainkan agar terang dan tidak lagi remang. 

Sumber: Tribun Kaltim
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved