Minggu, 24 Mei 2026

Opini

Gubernur, "Silakan Hak Angket!", Gestur Wagub dan Sekda, “Saya Ikut Bertanggung Jawab!”

"Silakan Hak Angket!" Kalimat itu pendek. Tapi menghentak ruang diskusi Aksi 21 Mei di Ruang Kantor Gubernur Kaltim, Jl Gajah Mada, Samarinda.

Tayang:
Editor: Sumarsono
TRIBUNKALTIM.CO/Raynaldi Paskalis
TEMUI MASSA 215 - Gubernur Kaltim Rudy Mas'ud didampingi Wakil Gubernur Seno Aji dan Sekda Sri Wahyuni menemui perwakilan massa aksi 215 di ruang pertemuan Kantor Gubernur Kaltim, Jl Gajah Mada, Samarinda, Kamis (21/5/2026). 

Oleh: Ali Kusno, Widyabasa, Kepakaran Linguistik Forensik

TRIBUNKALTIM.CO - "Silakan Hak Angket!" Kalimat itu pendek. Tapi menghentak ruang diskusi Aksi 21 Mei di Ruang Kantor Gubernur Kaltim, Jl Gajah Mada, Samarinda.

Ada yang menuding bahasa tubuh sang Gubernur Kaltim Rudy Masud di meja depan sebagai arogansi dan kesombongan pimpinan dalam menghadapi arus massa.

Benarkah begitu? Tenang. Sabar dulu.

 Silakan ambil nafas panjang untuk membaca dan memahami tulisan saya ini secara utuh dan mendalam.

Dalam dunia Linguistik Forensik, khususnya subdisiplin Kinesika Komunikatif dan Sosiopragmatik Nonverbal, kita punya premis yang rigid.

Kata-kata bisa diatur dengan skenario, tetapi tubuh punya jalurnya sendiri untuk berkata jujur.

Ada yang namanya psychological leakage, kebocoran psikologis. Saat seseorang ditekan dalam situasi krisis tingkat tinggi, tubuh tidak memiliki tombol untuk berbohong.

Dokumentasi audiensi itu, jika kita kuliti secara jeli, bukanlah panggung pamer kesombongan. Bukan.

Di sana justru tersaji dokumen forensik visual yang kaya dengan orkestrasi psikologis.

Sebuah gradasi yang bergerak dari ketenangan birokratis.

Pembacaan tanda ini sekaligus menjadi kunci untuk membongkar realitas politik yang sesungguhnya sedang didendangkan.

Baca juga: Rudy Mas’ud Temui Massa, APMK Desak Gubernur Kaltim Dukung Hak Angket

Jarak Dingin di Sisi Kanan: Detached Observation

Kita mulai pembacaan forensik ini dari Sekretaris Daerah Provinsi Kaltim, Sri Wahyuni.

Posisinya tegak, ekspresi wajahnya datar, cenderung pasif mengamati situasi. Ruangan boleh saja panas oleh desakan massa, tetapi Sekprov memilih bergeming. Tenang.

Dalam analisis kinesika forensik, postur ini disebut detached observation. Sebuah penanda makro yang melambangkan jarak institusional dan netralitas birokratis.

Sumber: Tribun Kaltim
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved