Senin, 20 April 2026

Ramadhan 2026

Alasan 1 Ramadan 2026 Versi Muhammadiyah Jatuh pada 18 Februari

Muhammadiyah secara resmi menetapkan 1 Ramadan 1447 Hijriah jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026.

umy.ac.id
PUASA RAMADAN 2026 - Ilustrasi logo Muhammadiyah. Kenapa Muhammadiyah tetapkan 1 Ramadan 2026 pada 18 Februari besok? Ini alasannya 

TRIBUNKALTIM.CO - Muhammadiyah secara resmi menetapkan 1 Ramadan 1447 Hijriah jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026.

Penetapan ini sekaligus menetapkan 1 Syawal 1447 H atau Idul Fitri pada 20 Maret 2026.

Keputusan tersebut menjadi perhatian publik karena berpotensi berbeda dengan keputusan pemerintah yang masih menunggu hasil sidang isbat Kementerian Agama (Kemenag).

Perbedaan ini bukanlah hal baru dalam penentuan awal bulan Hijriah di Indonesia.

Namun, pada Ramadhan 1447 H, perbedaan itu menjadi sorotan karena Muhammadiyah kini menggunakan metode baru, yakni Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT), yang menggantikan metode lama wujudul hilal.

Metode ini membawa pendekatan global, tidak lagi terbatas pada batas geografis Indonesia.

Baca juga: Hasil Sidang Isbat 2026: Pemerintah Tetapkan 1 Ramadhan 1447 H Jatuh pada 19 Februari 2026

Sementara itu, hasil sidang isbat pemerintah menetapkan 1 Ramadan 1447 H jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026.

Lantas, mengapa Muhammadiyah menetapkan lebih awal, yakni 18 Februari 2026?

Berikut penjelasan lengkap yang dihimpun dari keterangan resmi Muhammadiyah dan paparan pakar falak mereka.

1 .Berdasarkan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT)

Muhammadiyah menetapkan 1 Ramadhan 1447 H berdasarkan Maklumat Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nomor 2/MLM/I.0/E/2025 serta penjelasan Majelis Tarjih dan Tajdid Nomor 01/MLM/I.1/B/2025.

Dalam dokumen tersebut, ditegaskan bahwa Muhammadiyah secara resmi menggunakan KHGT sebagai sistem kalender baru.

KHGT adalah kalender Islam global yang dirancang agar umat Islam di seluruh dunia memiliki sistem waktu Hijriah yang seragam, terpadu, dan berjangka panjang.

Dengan KHGT, penentuan awal bulan tidak lagi bergantung pada wilayah tertentu, melainkan berdasarkan parameter astronomis yang berlaku secara global.

Muhammadiyah mengakui bahwa berbagai tanggapan terhadap KHGT terus mengalir.

Dalam keterangan resminya disebutkan, “Ragam tanggapan tersebut justru dipandang sebagai hal positif karena menjadi bagian dari proses penyempurnaan konsep kalender Islam yang diharapkan lebih terpadu dan berjangka panjang.”
 
2. Prinsip, Syarat, dan Parameter (PSP) dalam KHGT

Implementasi KHGT mensyaratkan terpenuhinya tiga unsur utama yang dikenal sebagai Prinsip, Syarat, dan Parameter (PSP).

Salah satu parameter terpenting adalah posisi hilal (bulan sabit pertama setelah konjungsi).

Dalam KHGT, awal bulan ditetapkan jika hilal telah memenuhi dua syarat di mana saja di bumi:

Tinggi minimal 5 derajat
Elongasi minimal 8 derajat

Elongasi adalah sudut antara matahari dan bulan jika dilihat dari bumi. Semakin besar elongasi, semakin besar kemungkinan hilal terlihat.

Untuk awal Ramadhan 1447 H, parameter ini telah terpenuhi di Alaska, Amerika Serikat, dengan posisi hilal:

Tinggi: 05° 23’ 01”
Elongasi: 08° 00’ 06”
 
3. Konjungsi dan Posisi Hilal

Pakar falak Muhammadiyah, Arwin Juli Rakhmadi Butar-Butar, menjelaskan bahwa konjungsi (ijtimak) awal Ramadhan terjadi pada:

Selasa, 17 Februari 2026 pukul 12.01 UTC atau 19.01 WIB.

Konjungsi adalah saat matahari dan bulan berada pada satu garis bujur langit yang sama, menandai berakhirnya bulan lama dan dimulainya siklus bulan baru.

Setelah matahari terbenam pada hari tersebut, posisi hilal yang memenuhi parameter KHGT telah tercapai di Alaska. Karena itu, Muhammadiyah menetapkan keesokan harinya, Rabu 18 Februari 2026, sebagai awal Ramadhan.

4. Kondisi Berbeda di Indonesia

Muhammadiyah menilai bahwa kondisi di Indonesia berbeda. Setelah matahari terbenam pada 17 Februari 2026, hilal masih berada di bawah ufuk (hilal negatif).

Dengan demikian, hilal tidak memenuhi kriteria pemerintah, yakni:

Tinggi minimal 3 derajat
Elongasi minimal 6,4 derajat

Kriteria ini dikenal sebagai MABIMS 3–6,4, yang berlaku secara teritorial di Indonesia. Karena itulah, pemerintah diperkirakan menetapkan awal Ramadhan pada Kamis, 19 Februari 2026, namun keputusan resmi tetap menunggu rukyat, laporan lapangan, dan sidang isbat.

5. Argumentasi Teologis dan Fikih KHGT

Muhammadiyah menegaskan bahwa penerapan KHGT memiliki dasar teologis dan fikih. Prinsip yang dikedepankan adalah:

Kesatuan umat (ummah wahidah)
Universalitas Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin
Sistem waktu Islam yang bersifat global dalam ranah sosial-muamalah
Hadis tentang perintah berpuasa karena melihat hilal dipahami bersifat universal, tidak terbatas wilayah tertentu.

6. Konsep Matlak Global

Dari pemahaman tersebut lahir konsep ittihad al-mathali’ (matlak global), yaitu ketika hilal terbukti di satu wilayah mana pun di bumi, baik melalui rukyat maupun hisab, maka ketetapan itu berlaku secara global.

Muhammadiyah mendasarkan penetapan awal Ramadhan pada prinsip ini karena hilal telah memenuhi parameter secara definitif di Alaska.

7. Perbedaan dengan Pemerintah

Baik Muhammadiyah maupun pemerintah sama-sama menggunakan pendekatan hisab imkan rukyat. Namun, implementasinya berbeda.

KHGT Muhammadiyah: parameter 5–8 bersifat definitif, tanpa menunggu rukyat, dan berlaku global.
Kriteria MABIMS pemerintah: mensyaratkan konfirmasi rukyat dan berlaku teritorial Indonesia.
 
8. Aspek Kepastian dan Kepraktisan

KHGT memungkinkan penetapan kalender jauh hari, sehingga umat dapat merencanakan Ramadhan secara pasti. Sebaliknya, metode pemerintah baru menghasilkan keputusan setelah rangkaian rukyat dan sidang isbat.

Kesimpulan

Muhammadiyah memastikan, perbedaan awal Ramadhan yang kemungkinan terjadi antara dengan pemerintah sejatinya bukanlah perbedaan akidah atau prinsip ibadah, melainkan perbedaan teknis implementasi kriteria dan cakupan keberlakuannya.

Secara fikih, keduanya memiliki dasar argumentasi, metodologi ilmiah, serta pertimbangan maslahat masing-masing.

Penilaian terhadap keduanya seharusnya didasarkan pada kekuatan dalil, keilmiahan konsep, dan manfaatnya bagi umat, bukan pada pertimbangan di luar itu.

"Berbagai masukan, kritik, dan koreksi terhadap implementasi Kalender Hijriah Global Tunggal merupakan hal yang sangat penting dan bernilai konstruktif,” terang Muhammadiyah.

“Seluruh tanggapan tersebut bukan dipandang sebagai pertentangan, melainkan sebagai bagian dari proses ilmiah dan ijtihad,” sambungnya.

Sumber: https://www.kompas.com/tren/read/2026/02/17/151500365/kenapa-muhammadiyah-tetapkan-1-ramadhan-1447-h-pada-18-februari-2026-ini?page=all.

 

Sumber: Tribun Kaltim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved