Ngabuburit Asyik
Masjid Abdurrahman bin Auf Samira di Karanganyar, Hadirkan Nuansa Masjid Nabawi di Solo Raya
Warga Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, kini memiliki destinasi wisata religi yang menghadirkan nuansa Timur Tengah tanpa harus pergi jauh.
TRIBUNKALTIM.CO - Warga Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, kini memiliki destinasi wisata religi yang menghadirkan nuansa Timur Tengah tanpa harus pergi jauh.
Berlokasi di Kelurahan Cangakan, Masjid Abdurrahman bin Auf Samira atau yang dikenal sebagai Masjid MABES, menjadi ikon baru yang ramai dikunjungi sejak diresmikan pada 25 November 2023.
Kehadiran masjid ini kerap dikaitkan dengan atmosfer Masjid Nabawi di Madinah.
Dari desain pintu bergaya Timur Tengah, tiang-tiang berhias ornamen emas, hingga lampu gantung megah yang menghiasi ruang utama, seluruh detail dirancang untuk menghadirkan pengalaman ibadah yang khusyuk dan berkesan bagi para jemaah.
Baca juga: Tradisi Sadranan di Lereng Merapi–Merbabu, Warga Cepogo Rayakan Lebaran Ketiga Jelang Ramadan 2026
Bagi sebagian orang, kehadirannya seperti penawar rindu membawa sekelumit nuansa Masjid Nabawi ke tengah Kota Karanganyar.
Masjid megah ini diinisiasi oleh pasangan pengusaha asal Karanganyar, Ustaz H Fauzi Wahyu Muntoro dan Ibu Dini Lukitasari, pemilik Samira Travel.
Nama “Abdurrahman bin Auf” dipilih sebagai bentuk penghormatan kepada Abdurrahman bin Auf, sahabat Nabi Muhammad SAW yang dikenal sebagai saudagar sukses dan dermawan.
Semangat kedermawanan dan kemandirian ekonomi itulah yang ingin dihidupkan melalui pengelolaan masjid ini, bukan hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga pusat pemberdayaan umat.
Dari pelataran depan, pengunjung sudah disambut kemegahan arsitektur yang terinspirasi dari Masjid Nabawi.
Pintu-pintu besar dengan desain khas Timur Tengah, deretan tiang berhias ornamen emas, serta lampu gantung yang menjuntai anggun menghadirkan kesan sakral sekaligus megah.
Detail interiornya digarap dengan cermat, mulai dari pemilihan karpet hingga kualitas tata suara untuk mendekati atmosfer masjid di Kota Madinah.
“Kami ingin memberikan kesan kepada jemaah agar setidaknya pernah merasakan suasana Masjid Nabawi meskipun berada di Indonesia,” ujar Erik, perwakilan pengelola masjid pada Rabu (11/2/2026).
Baginya, pengalaman spiritual tidak hanya dibangun melalui ibadah, tetapi juga melalui suasana yang mendukung kekhusyukan.
Baca juga: Kisah Haru Imam Masjid Al-Wustho, Berangkat Haji dari Nazar Pribadi Almarhum Imdaad Hamid
Memasuki bulan Ramadhan, denyut kehidupan Masjid MABES semakin terasa. Masjid ini bertransformasi menjadi pusat kegiatan keagamaan yang nyaris tak pernah sepi.
Tradisi ifthar jama’i atau buka puasa bersama digelar setiap hari selama 30 hari penuh. Ratusan jemaah berkumpul, menikmati hidangan berbuka dalam suasana kebersamaan yang hangat.
Tak hanya itu, kajian intensif menghadirkan para masyayikh dari Timur Tengah yang membimbing umat melalui tausiyah menjelang berbuka dan memimpin Salat Tarawih.
Pada sepuluh malam terakhir Ramadhan, masjid ini juga menjadi tempat iktikaf bagi jemaah yang ingin memperdalam ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Perpaduan arsitektur yang memikat dan aktivitas sosial-keagamaan yang masif menjadikan Masjid Abdurrahman bin Auf Samira lebih dari sekadar bangunan megah.
Ia tumbuh sebagai ruang perjumpaan, tempat ukhuwah Islamiah dirawat dan dikuatkan.
Di tengah dinamika kehidupan modern, masjid ini hadir sebagai oase spiritual, mengobati rindu pada Tanah Suci, sekaligus meneguhkan semangat kebersamaan umat di Karanganyar dan sekitarnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/20260220_masjid-di-solo.jpg)