Rabu, 22 April 2026

Coppa Italia

Reaksi Berbeda Chivu dan Fabregas Usai Drama Inter vs Como di Coppa Italia

Inter Milan lolos ke final Coppa Italia setelah mengunci kemenangan 3-2 pada semifinal leg kedua melawan Como.

Editor: Syaiful Syafar
X.com/@Inter/@Como_1907
COPPA ITALIA - Foto kolase pelatih Inter Milan Cristian Chivu (kiri) dan pelatih Como Cesc Fabregas yang diunggah di akun resmi klub. Kemenangan dramatis Inter Milan atas Como di semifinal Coppa Italia menyisakan dua emosi kontras dari kedua pelatih. 

TRIBUNKALTIM.CO - Kemenangan dramatis Inter Milan atas Como di semifinal Coppa Italia menyisakan dua emosi kontras dari kedua pelatih.

Pelatih Inter Milan Cristian Chivu larut dalam kebanggaan sekaligus keyakinan besar, sementara pelatih Como Cesc Fabregas memilih tenang dan melihat kekalahan sebagai bagian dari proses.

Sebagaimana diketahui, Inter Milan lolos ke final Coppa Italia setelah mengunci kemenangan 3-2 pada semifinal leg kedua melawan Como. Leg pertama berakhir 0-0. 

Pertandingan berlangsung dengan pola yang nyaris mengulang pertemuan kedua tim sebelumnya di Liga Italia Serie A. 

Inter kembali dipaksa tertinggal 0-2 lebih dulu lewat gol Martin Baturina dan Lucas Da Cunha.

Namun, seperti yang terjadi beberapa hari sebelumnya, Nerazzurri menunjukkan daya juang tinggi untuk membalikkan keadaan.

Dua gol dari Hakan Calhanoglu serta kontribusi penting Petar Sucic memastikan Inter menang 3-2, sekaligus mengunci tiket ke final Coppa Italia.

Baca juga: Hasil Coppa Italia Inter Milan vs Como: Menang Comeback, Nerazzurri Lolos ke Final!

Chivu Bangga "Pazza Inter"

Bagi Cristian Chivu, skenario kemenangan ini bukan sekadar kebetulan, melainkan cerminan karakter tim yang ia sebut sebagai "Pazza Inter".

"Membalikkan defisit 2-0 melawan tim seperti Como, dan melakukannya dua kali dalam 10 hari, hanya tim ini yang mampu," ujar Chivu, seperti dilansir Football Italia

Ia menilai para pemainnya memiliki determinasi dan keyakinan kuat bahkan ketika berada dalam situasi sulit.

Chivu juga menyinggung bagaimana timnya mampu menciptakan banyak peluang melawan salah satu lini pertahanan paling solid di Italia.

Ia melihat hal tersebut sebagai bukti kualitas sekaligus mentalitas juara yang mulai terbentuk.

Baca juga: Komentar Chivu Usai Inter Milan Kalah dari AC Milan: Tak Ada yang Berubah dalam Perebutan Scudetto!

Lebih jauh, pelatih asal Rumania itu tak ragu mengakui bahwa Inter kini berada di jalur yang tepat untuk meraih dua gelar sekaligus.

Dengan keunggulan nyaman di puncak klasemen Serie A dan tiket final Coppa Italia di tangan, ambisi meraih double winners semakin nyata.

"Kami bekerja keras untuk sampai di titik ini. Sekarang kami memberi diri kami kesempatan untuk bermimpi," kata Chivu.

Meski begitu, ia menolak membandingkan dirinya dengan sosok Jose Mourinho yang pernah membawa Inter Milan meraih treble winners pada 2010.

Chivu menegaskan fokusnya hanya pada tim saat ini dan tanggung jawab terhadap para pemain.

Fabregas Pilih Tenang

Di sisi lain, Cesc Fabregas menunjukkan sikap yang jauh lebih tenang meski timnya kembali gagal mempertahankan keunggulan.

Ia mengakui ada momen krusial yang seharusnya bisa dimaksimalkan, terutama saat Como berpeluang memperlebar skor menjadi 3-1.

"Pertandingan berubah setelah gol pertama mereka. Sebelumnya kami punya peluang besar untuk mengunci laga," jelas Fabregas.

Namun, alih-alih menyalahkan pemain, pelatih asal Spanyol itu justru menekankan progres signifikan yang telah dicapai Como dalam beberapa tahun terakhir.

Ia mengingat kembali perjalanan klub yang sempat terpuruk hingga kini mampu bersaing di level tinggi.

"Saya tahu dari mana kami memulai. Sekarang kami hampir mencapai final dan mampu menantang tim seperti Inter," ujarnya.

Baca juga: Fabregas Terapkan Taktik Khusus Ketika Como Tahan AC Milan, Lini Tengah Rossoneri tak Berkutik

Fabregas juga menyoroti perbedaan kualitas dan pengalaman sebagai faktor pembeda utama.

Ia menyebut Inter sebagai tim matang dengan banyak pemain internasional, sementara Como masih dalam tahap pembangunan dengan komposisi pemain muda.

Menurutnya, kekurangan Como terlihat jelas di dua area krusial, yakni efektivitas di kotak penalti sendiri dan lawan.

Hal inilah yang membuat mereka gagal mempertahankan keunggulan meski sempat mengontrol permainan.

"Kami belum berada di level yang sama dengan Inter, tetapi kami semakin dekat," tegas Fabregas.

Ia pun menolak larut dalam kekecewaan.

Baginya, performa tim sudah menunjukkan arah yang benar, berbeda dengan laga sebelumnya saat menghadapi Sassuolo yang justru membuatnya lebih kecewa.

"Saya tidak bisa marah malam ini. Ini bagian dari perjalanan," tambahnya.

Baca juga: Prediksi Skor Atalanta vs Lazio di Coppa Italia, Siapa Jumpa Inter Milan di Final?

Fabregas bahkan mencontohkan pengalaman Jurgen Klopp yang sempat gagal di banyak final sebelum akhirnya sukses, sebagai pengingat bahwa proses membutuhkan waktu.

Kekalahan ini memang menyakitkan bagi Como, terutama karena mereka dua kali kehilangan keunggulan melawan lawan yang sama dalam waktu singkat.

Namun di balik itu, terdapat sinyal kuat bahwa mereka mulai mampu bersaing dengan tim papan atas.

Sementara itu, Inter melangkah ke final dengan kepercayaan diri tinggi.

Selain memburu trofi Coppa Italia, mereka juga semakin dekat dengan gelar Serie A, membuka peluang mengulang kesuksesan era 2010. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved