Kamis, 30 April 2026

Aplikasi

RAM Langka, AI Jadi Biang Kerok Harga HP dan Laptop Melonjak 2026

Harga RAM melonjak tajam di berbagai negara, termasuk Indonesia, bahkan kenaikannya mencapai ratusan persen untuk beberapa varian.

Tayang:
Grafis Tribun Kaltim/Canva
PREDIKSI HP MAHAL - Penampakan orang sedang menggenggam HP. HP diprediksi harganya akan lebih mahal 2026 imbas AI yang membuat harga RAM melonjak 
Ringkasan Berita:
  • Harga RAM global melonjak sejak pertengahan 2025 akibat kelangkaan pasokan yang dipicu kebutuhan masif industri AI, berdampak hingga Indonesia
  • Produsen memori memprioritaskan server dan pusat data AI, membuat stok RAM konsumen menipis dan harga PC, laptop, serta SSD ikut naik
  • Dampaknya merembet ke smartphone dan laptop 2026, dengan kenaikan harga dan penurunan spesifikasi sebagai konsekuensi jangka panjang.

TRIBUNKALTIM.CO - Komponen bernama Random Access Memory atau RAM, yang selama ini kerap dianggap sekadar pelengkap perangkat elektronik, kini berubah menjadi komoditas mahal di pasar global.

Sejak pertengahan 2025, harga RAM melonjak tajam di berbagai negara, termasuk Indonesia, bahkan kenaikannya mencapai ratusan persen untuk beberapa varian.

Kondisi ini bukan hanya menyulitkan perakit PC, tetapi juga memicu kekhawatiran baru: harga ponsel pintar dan laptop diprediksi akan ikut terkerek naik pada 2026.

Fenomena ini bukan sekadar fluktuasi musiman.

Baca juga: 5 Prompt Gemini AI Edit Foto Tema Natal 2025 dan Cara agar Lebih Mirip Wajah Asli

Lonjakan harga RAM terjadi secara struktural, dipicu oleh pergeseran besar industri teknologi global yang kini berfokus pada pengembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Dampaknya merembet dari pabrik chip hingga ke etalase toko elektronik.

RAM, Komponen Penting yang Kini Jadi Barang Langka

RAM adalah memori utama yang berfungsi menyimpan data sementara agar prosesor bisa mengaksesnya dengan cepat.

Semakin besar kapasitas RAM, semakin lancar sebuah perangkat menjalankan aplikasi berat, multitasking, hingga fitur berbasis AI.

Karena perannya krusial, RAM digunakan di hampir semua perangkat digital, mulai dari PC, laptop, smartphone, hingga server pusat data.

Namun sejak Juni 2025, harga RAM dunia mulai bergerak naik secara konsisten. Data pemantau harga komponen PC menunjukkan lonjakan signifikan hingga Oktober 2025.

Kenaikan ini terjadi pada hampir semua jenis RAM, baik DDR4 yang masih banyak digunakan, maupun DDR5 yang menjadi standar baru.

Sebagai gambaran, RAM DDR5 32 GB yang sebelumnya bisa dibeli di bawah 100 dolar AS kini harganya menembus 200 dolar AS. RAM DDR4 32 GB pun mengalami kenaikan hampir dua kali lipat.

Situasi ini membuat banyak konsumen menunda upgrade atau bahkan membatalkan rencana merakit PC.

Keluhan pengguna pun membanjiri forum teknologi global.

Ada yang mengaku menabung berbulan-bulan untuk membeli RAM kelas atas, namun harga tiba-tiba melonjak hampir 100 persen dalam waktu singkat.

Bahkan, di beberapa kasus, harga RAM kini lebih mahal dibanding prosesor kelas menengah ke atas.

Toko Menyembunyikan Harga, Pasar Mulai Panik

Lonjakan harga RAM tidak hanya tercermin dari angka, tetapi juga dari perilaku pasar.

Di Amerika Serikat, sejumlah toko komputer besar dilaporkan melepas label harga RAM karena harga dianggap terlalu fluktuatif.

Konsumen harus bertanya langsung ke staf untuk mengetahui harga terkini.

Di Jepang, penjualan modul RAM mulai dibatasi.

Sementara di Taiwan, distributor menerapkan sistem bundling, memaksa pembeli membeli RAM bersamaan dengan motherboard. Semua ini menunjukkan bahwa pasokan benar-benar ketat.

Peritel besar seperti CyberPowerPC bahkan mengakui kenaikan harga RAM hingga 500 persen, serta SSD yang naik sekitar 100 persen sejak Oktober 2025. Situasi ini membuat harga rakitan PC ikut melonjak secara signifikan.

Indonesia Tak Luput dari Dampak Global

Kondisi serupa juga terjadi di Indonesia.

Pantauan di berbagai marketplace menunjukkan harga RAM DDR5 32 GB kini berada di kisaran Rp 3 juta hingga Rp 5 juta, tergantung merek dan spesifikasi. Untuk kapasitas 64 GB, harganya bisa menembus Rp 10 juta.

RAM DDR4 pun ikut terdampak. Varian 64 GB kini dijual di kisaran Rp 5 juta hingga Rp 7 juta.

Distributor komponen PC di Indonesia mengonfirmasi bahwa lonjakan harga global ikut mendorong kenaikan harga ritel di Tanah Air.

Artinya, konsumen Indonesia bukan hanya terdampak kurs atau biaya impor, tetapi juga perubahan besar dalam rantai pasok global.

AI Menyedot Produksi Memori Dunia

Lalu apa penyebab utama krisis ini? Jawabannya mengerucut pada satu faktor besar: ledakan industri AI.

Model AI modern membutuhkan server dengan kapasitas memori sangat besar.

Selain GPU, sistem AI memerlukan RAM dalam jumlah masif agar bisa memproses data, melatih model, dan menjalankan inferensi secara cepat.

Akibatnya, produsen memori kini memprioritaskan produksi untuk server dan pusat data AI.

Produsen besar seperti Samsung, SK Hynix, dan Micron mengalihkan fokus ke DRAM, NAND, dan High Bandwidth Memory (HBM).

 HBM adalah jenis memori berkecepatan tinggi yang dirancang khusus untuk AI dan data center.

Masalahnya, jalur produksi HBM menggunakan sumber daya yang sama dengan RAM konsumen.

Permintaan besar dari perusahaan AI raksasa seperti Nvidia, OpenAI, Microsoft, Amazon, dan Meta menyerap porsi signifikan produksi memori dunia.

Bahkan diperkirakan hingga 40 persen produksi DRAM global kini dialokasikan untuk kebutuhan AI.

Dampak Domino ke Smartphone dan Laptop

Kondisi ini tidak berhenti di PC. Smartphone dan laptop juga sangat bergantung pada RAM dan memori penyimpanan (NAND flash).

Menurut analis industri, chip memori menyumbang sekitar 10–15 persen biaya produksi smartphone dan hingga 18 persen biaya laptop.

Ketika harga memori naik, produsen hanya punya dua pilihan: menaikkan harga jual atau menurunkan spesifikasi. Inilah yang mulai terlihat menjelang 2026.

Beberapa merek smartphone besar sudah memberi sinyal kenaikan harga. Xiaomi secara terbuka menyebut kenaikan biaya memori melebihi ekspektasi.

Samsung, Oppo, Vivo, hingga Realme juga dilaporkan menyesuaikan harga perangkat, terutama pada model dengan RAM besar.

Laptop pun tak luput. Dell dan Lenovo disebut berencana menaikkan harga laptop hingga 15–20 persen.

Bahkan, ada kecenderungan produsen kembali menawarkan konfigurasi RAM dan SSD yang lebih kecil demi menekan harga jual.

Mengapa Harga Tak Akan Cepat Turun?

Berbeda dengan krisis chip saat pandemi Covid-19, kelangkaan memori kali ini dinilai bersifat jangka panjang.

Membangun pabrik semikonduktor baru membutuhkan waktu dua hingga tiga tahun. Sementara itu, permintaan AI terus meningkat tanpa tanda melambat.

Keputusan Micron untuk keluar dari bisnis konsumen pada 2026 menjadi sinyal kuat bahwa industri memori kini lebih memilih pasar enterprise dan pusat data dengan margin tinggi serta kontrak jangka panjang.

Analis memprediksi siklus kekurangan ini bisa berlangsung hingga 2027.

Bahkan jika pasokan mulai stabil, harga kemungkinan tetap tinggi karena kompleksitas produksi dan kebutuhan energi yang meningkat.

Konsumen Harus Bersiap Hadapi 2026

Bagi konsumen, realitas ini berarti satu hal: perangkat elektronik akan semakin mahal. Smartphone kelas menengah hingga flagship diprediksi naik 10–20 persen.

Laptop dengan spesifikasi tinggi akan menjadi barang premium, sementara varian murah kemungkinan hadir dengan RAM dan penyimpanan lebih kecil.

Meski demikian, ada satu celah strategi bagi konsumen: membeli perangkat sebelum lonjakan berikutnya atau mempertimbangkan generasi sebelumnya yang masih relevan.

Ledakan AI memang membawa kemajuan teknologi, tetapi di sisi lain, ia juga mengubah peta harga perangkat yang kita gunakan sehari-hari.

Sumber: https://tekno.kompas.com/read/2025/12/02/12350077/penyebab-harga-ram-meroket-di-berbagai-negara-termasuk-indonesia?page=all.

Sumber: https://cxotoday.com/news-analysis/smartphones-laptops-to-become-expensive-as-component-suppliers-shift-focus-to-ai-datacentres/

Sumber: https://tech.news.am/eng/news/6285/how-and-why-the-ai-boom-will-make-all-smartphones-more-expensive-in-2026.html

Sumber: Tribun Kaltim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved